Skip to main content

Turunnya Pusaka Langit Tasbih Nur Al Ijabah ,Pembuka Kunci Ghaib Turunnya Pusaka Langit Permata Al Kamal Al Mujab , Ikuti Dan Baca Yuk Kisahnya!

( Sinar pagi yang lembut menusuk keluar dari balik cakrawala, menyebar perlahan ke seluruh lembah dan hutan rimba di sekitarnya. Warna keemasan dan oranye berpadu dengan biru langit yang cerah, menciptakan lukisan alam yang tak ternilai harganya. Ilustrasi gambar keindahan gunung Lawu di buat oleh Seniman AI )
   
    GRIYA MADIUN -Gunung Lawu ( WUKIR MAHENDRA nama asli ) adalah gunung yang memiliki daya tarik lengkap: keindahan alam, tantangan pendakian, sejarah, mitologi, dan budaya. Namun, penting untuk diingat bahwa Gunung Lawu juga merupakan tempat yang sakral dan membutuhkan persiapan yang matang sebelum di daki.

Udara segar pagi itu membawa ketenangan yang luar biasa, seakan seluruh dunia menahan napas, menikmati kedamaian yang cuma bisa dirasakan di puncak tertinggi ini. Deru angin yang lembut menyusuri lereng, seolah menyanyikan lagu kebaruan, menyambut hari yang penuh harapan dan janji.

Sinar pagi yang lembut menusuk keluar dari balik cakrawala, menyebar perlahan ke seluruh lembah dan hutan rimba di sekitarnya. Warna keemasan dan oranye berpadu dengan biru langit yang cerah, menciptakan lukisan alam yang tak ternilai harganya.
Gunung Lawu saat matahari terbit adalah saksi bisu keindahan yang tak terlukiskan, sebuah momen magis yang memeluk hati setiap jiwa yang menyaksikannya. Di saat itu, alam dan manusia bersatu dalam harmoni, mengingatkan bahwa keindahan sejati selalu datang setelah gelap, setelah malam panjang yang penuh misteri.
(Ilustrasi gambar keindahan alam saat menjelang sore hari di hutan Savana gunung Lawu)

Gunung Lawu menjulang gagah, puncaknya menyentuh awan. Keindahan yang memukau, memanjakan mata, dan menenangkan jiwa. Namun, jangan hanya terpukau oleh keelokannya.
 
Di balik keindahan Lawu, tersembunyi misteri yang menyelimuti. Kisah-kisah mistis, legenda kuno, dan aura gaib yang lekat kuat.
 
Konon, Lawu adalah tempat bersemayamnya para dewa ( Dewa atau utusan  adalah orang atau manusia yang di berikan kesaktian yang luar biasa yang bisa mengendalikan angin, petir atau bahkan bisa menghancurkan gunung dalam satu pukulan,ia berada di dimensi atau alam Kayangan atau alam Kadewatan ,asal keturunan dari Nabi Syit AS  , inilah kesalahan dan kebodohan manusia menyembah para dewa yang sebenarnya ia juga manusia dan ia pun tak pernah mengakuinya bahwa dirinya Tuhan, bahkan ia menyembah Allah SWT yang esa )  dan bersemayamnya arwah leluhur. Tempat di mana batas antara dunia nyata dan dunia gaib semakin tipis.
 
Pendaki seringkali mengalami kejadian aneh, mendengar suara-suara misterius, atau melihat penampakan makhluk halus. Mereka percaya, Lawu memiliki energi yang kuat, yang bisa dirasakan oleh orang-orang tertentu.
 
Namun, Lawu bukan hanya tentang misteri dan mistis. Ia juga tentang keindahan alam yang mempesona, tantangan pendakian yang menguji adrenalin, dan kedamaian yang menenangkan jiwa.
( Inilah wujud asli tasbih NUR IJABAH kunci pembuka dimensi ghaib untuk menemukan atau mendapatkan pusaka langit kelima mustika atau permata AL KAMAL AL MUJAB , Alkamal adalah Kesempurnaan ,Al Mujab adalah yang di kabulkan ( pengabul doa ) , Alkamal Al Mujab, kesempurnaan hati dalam penghambaan ,dan doanya takkan tertolak oleh Allah SWT )

Gunung Lawu adalah kombinasi yang unik. Antara keindahan dan misteri, antara dunia nyata dan dunia gaib, antara tantangan dan kedamaian. Ia adalah tempat di mana kita bisa merasakan kebesaran Sang Pencipta, menguji keberanian diri sendiri, dan menemukan kedamaian batin.
 
Maka, jika kau mendaki Lawu, hormatilah alamnya, jagalah lingkungannya, dan waspadalah terhadap misterinya. Karena Lawu bukan hanya gunung biasa, melainkan tempat yang sakral dan penuh makna.

Gunung Lawu, megah menjulang, menyimpan sejuta pesona. Keindahan alamnya membius mata, tak terlukiskan oleh kata-kata. Namun, di balik keelokan itu, tersembunyi selubung misteri dan dimensi ghaib yang kental.
 
Lawu bukan hanya gunung biasa. Ia adalah tempat bertemunya dunia nyata dan dunia tak kasat mata. Keangkerannya telah menjadi legenda, dibuktikan oleh kisah-kisah pilu para pendaki dan pelaku spiritual yang hilang, tak pernah kembali.
 
Mereka datang, terpikat oleh keindahan Lawu yang mempesona. Namun, Lawu tak hanya menawarkan keindahan, ia juga menyimpan ujian. Ujian kesabaran, keberanian, dan keyakinan.
( Keindahan Gunung Lawu penuh mistis dan misteri, banyak memakan korban jiwa manusia yang melakukan pendakian puncak gunung Lawu @ ilustrasi di buat Seniman AI 2026 )

Banyak yang berhasil menaklukkan Lawu, menikmati keindahan alamnya, dan kembali dengan pengalaman yang tak terlupakan. Namun, tak sedikit pula yang tersesat, terperangkap dalam dimensi ghaib, dan hilang selamanya.
 
Gunung Lawu adalah pengingat. Bahwa keindahan sejati selalu berdampingan dengan misteri. Bahwa alam menyimpan kekuatan yang tak bisa diremehkan. Dan bahwa kita harus selalu menghormati dan menjaga keseimbangan alam, agar terhindar dari malapetaka.

Di malam yang gelap, kami melangkah perlahan di lereng Gunung Lawu. Rasa lelah dan dingin menggigit tulang, namun tekad tetap membara di dada, mengemban amanah langit yang suci pusaka mustika atau permata NUR AL KAMAL AL MUJAB ( Cahaya Pengabul Do'a  ). Dengan penerangan seadanya, sebentuk cahaya dari lampu senter menjadi penuntun di tengah kegelapan pekat, sementara bayang-bayang hutan lebat menyambut kami dengan desiran angin dan rimbunnya dedaunan.
 
Perjalanan ini bukan sekadar menaklukkan alam, melainkan memikul beban amanah yang terpatri di hati. Langkah kami terhenti nyata, saat angin keras dan hujan mendadak turun, menambahkan tantangan yang tak hanya datang dari kegelapan namun juga dari cuaca yang tak bersahabat. Serentetan rintangan menjadi ujian keberanian dan keimanan, mengajarkan bahwa kekuatan sejati muncul saat kita mampu bertahan di saat segala kelemahan dan halangan menghadang.
 
Dalam gelap dan deras hujan itu, kami tetap tegar, menyadari bahwa perjalanan ini adalah cermin dari kehidupan yang penuh cobaan, namun membawa makna mendalam jika dijalani dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Di balik setiap tantangan, ada pelajaran berharga, dan di setiap langkah yang berat, terselip kekuatan untuk terus maju dan menjaga amanah suci langit tetap utuh.

Di bawah lereng Gunung Lawu, di mana hutan belantara menjulang tinggi dan malam menyelimuti segala dengan kedalaman yang pekat , tempat yang selalu disebut-sebut dengan aura yang angker, namun sesungguhnya hanya menyimpan keheningan yang penuh makna. Kami berdiri di tengah rerumputan yang tinggi dan pepohonan yang menjalin cabangnya seperti genggaman yang tak mau melepaskan rahasia zaman.
 
Misi yang kami emban bukanlah untuk mencari harta yang bisa diperjualbelikan, bukan untuk mengumpulkan kekuasaan yang bisa menyembahkan diri kepada kita, melainkan untuk menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan. Dunia kini terbebani oleh manusia yang serakah, yang tidak menghargai kehidupan sesamanya sendiri, bahkan merendahkan setiap makhluk yang ada di bumi ini. Jika kita tidak bertindak sebelum waktunya, saat penjagaan bumi dicabut dari tangan para malaikat, maka segala yang ada akan kembali kepada kehancuran yang tak bisa dihindari.
( Selain keindahannya gunung Lawu terkenal kesejukannya serta pemandangannya yang indah,juga air terjunnya yang jadi daya tarik wisatawan dari berbagai daerah , gambar ilustrasi di buat oleh Seniman AI @ 2026 )

Dan di tengah kegelapan hutan yang pekat itu, kami mencari pusaka kelima yang telah kita dengar dalam cerita-cerita kuno, yang telah disinggung oleh para utusan langit dan Sang Nabi yang mulia, Musa AS,  Permata Alkamal Al Mujab  adalah pusaka langit miliknya yang di berikan dan  di amanahkan kepada Bal'am bin Baura sebagai ujian.
 
Bukan batu yang bersinar karena kilauannya semata, bukan permata yang dihargai karena nilainya duniawi. Ia adalah cahaya yang telah dititipkan untuk umat yang hidup di zaman paling gelap, sebuah sinyal bahwa keselamatan masih mungkin bagi siapa saja yang mau membuka mata batin dan hati yang tertutup. Di lereng Gunung Lawu yang telah menyaksikan beribu tahun pergantian zaman, di tempat yang dianggap angker karena kedalaman rahasianya , kami tahu bahwa pusaka itu tidak akan muncul di hadapan yang datang dengan haus kekuasaan atau hasrat untuk memiliki.
 
Hanya hati yang kosong dari keinginan duniawi, hanya jiwa yang lelah dengan permainan manusia yang serakah, hanya hamba yang datang dengan kerendahan hati dan kesadaran bahwa segala yang ada adalah titipan dari-Nya ,yang akan mampu melihatnya. Malam semakin larut, angin bergentayangan membawa bisikan dari alam yang lebih tinggi, dan kami merasakan bahwa setiap langkah yang kami ambil bukan hanya untuk mencari permata, tetapi untuk mencari kembali kesadaran yang telah hilang dari diri manusia yang terlena oleh hawa nafsu dan keserakahan.
 
Permata Alkamal Al Mujab , pusaka kelima yang menjadi harapan terakhir sebelum dunia benar-benar terlupakan oleh penjagaan langit.
( Gambar ilustrasi salah satu tumbuhan atau bunga Edelweis yang tumbuh di puncak gunung Lawu )

Berhari-hari lamanya kami menyusuri setiap jalur tersembunyi di hutan Gunung Lawu , baik saat matahari mulai menyinari dedaunan di pagi hari, maupun ketika kegelapan malam kembali menutupi segala bentuk dengan kedalaman yang membanjiri. Setiap akar yang menghalangi jalan, setiap sungai kecil yang harus kami lalui, setiap pepohonan yang menjulang tinggi seolah menjadi saksi dari upaya kami untuk menemukan jejak permata Alkamal Al Mujab.
 
Namun waktu terus berlalu, dan perbekalan yang kami bawa perlahan-lahan habis. Tidak ada lagi sisa makanan untuk mengisi perut yang keroncongan, tidak ada lagi air untuk menghilangkan rasa haus yang menusuk tenggorokan. Tubuh kami yang telah terbebani oleh jalan yang terjal dan medan yang sulit kini semakin lemah ,setiap langkah terasa seperti membawa beban yang tak terbatas, setiap napas menjadi lebih berat untuk dikeluarkan.
 
Rasa capek dan letih menggila-gilakan tubuh kami, menyebar dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Mata mulai sulit untuk tetap terbuka, kaki terkadang tergelincir di atas tanah yang licin dan berlumpur. Hutan yang dulunya terasa seperti tempat yang menyimpan rahasia mulia, kini terasa seperti labirin yang tak berujung , menyerap kekuatan dan harapan tanpa memberi apa-apa sebagai balasan.
 
Kami berhenti di bawah naungan sebuah pohon besar yang batangnya begitu tebal, seolah telah berdiri di sana selama berabad-abad. Duduk di atas akar yang menjorok ke permukaan tanah, kami saling melihat satu sama lain dengan wajah yang pucat dan lelah. Rasa lapar menusuk seperti jarum, rasa haus membuat tenggorokan terasa seperti pasir yang kering, dan rasa kelelahan membuat pikiran mulai melayang jauh dari misi yang kami emban.
 
Namun meskipun demikian, di dalam hati yang lemah itu masih ada percikan kecil yang tidak pernah padam , percikan yang mengingatkan bahwa Permata Alkamal Al Mujab bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan dengan kekuatan fisik semata. Bahwa mungkin saat tubuh kami paling lemah, saat hati kami paling hampa dari segala keinginan duniawi , barulah pintu akan terbuka untuk melihat apa yang selama ini tersembunyi di balik tabir kesadaran.
 
Di saat dalam kebingungan dan rasa lapar,kami mencari sumber makanan yang ada di hutan yang bisa untuk di makan ,ke sana ke mari tak kunjung mendapatkan makanan, untuk mengganjal perut yang keroncongan. Pada saat kritis tidak mendapatkan sumber makanan yang bisa kami makan ,kami ingat akan pusaka langit yang kami bawa , cincin Khotam Sulaiman .Iyah , cincin Khotam Sulaiman yang menemani perjalanan kami membawa amanah.
( Ilustrasi di saat kami dalam keadaan terdesak,kami mencoba cincin Khotam Sulaiman,kami berdoa dengan penuh harap kepada Tuhan Yang Satu Allah SWT agar bisa mendapatkan sumber makanan yang bisa kami makan 

Kami mencoba menggosok -giosok cincin Khotam Sulaiman ,lalu kami mencoba berdoa lewat cincin Khotam Sulaiman," Ya Allah dengan izinMu  lewat perantara cincin Khotam Sulaiman ,kami benar-benar lapar Ya Allah lewat cincin Khotam Sulaiman berikan kami makan , kami benar-benar lapar Ya Allah .
Teman kami pun bergumam ," Jangan ngawurlah,, jangan terlalu berharap "ujarnya temanku dengan tatapan rasa tidak percaya. Kami pun menimpali siapa tahu ,berdoakan nggak ada salahnya , bukan ," sahutku menimpalinya.

Beberapa detik belum ada tanda-tanda,namun beberapa saat kemudian nggak berselang lama muncullah,di depan kami dari dalam tanah 3 ekor ikan yang masih segar ,sesuai dengan jumlah kami tiga orang. Kamipun cukup kegirangan dan bahagia di saat -saat sangat krusial akhirnya pertolongan itu datang di luar nalar dan pemikiran kami dan kamipun tak lupa bersyukur dan berucap," Terima kasih Ya Allah SWT akhirnya kami bisa makan meskipun seadanya."untuk mengurangi rasa lapar ,rasa perih yang mendera perut kami bertiga. Kami tak mengurangi rasa syukur itu kepada Allah SWT.

Akhirnya ikan itu kami bakar di atas perapian dengan keterbatasan untuk bisa kami santap dan nikmati meskipun seadanya namun cukup berarti bagi kami bertiga, yang sedang lapar berada di tengah hutan dan kehabisan perbekalan .Sebuah keajaiban yang nyata di zaman yang katanya maju dan modern kami masih melihat dan menyaksikan keajaiban itu datang dan nyata tiga ekor ikan yang sudah terbelah bersih dan bisa langsung kami bakar dengan hanya memakai kecap yang kami bawa , untuk kami makan untuk mengurangi rasa lapar yang mendera .
( ilustrasi gambar tga ekor ikan yang datang tiba-tiba, setelah kami berdoa dengan wasilah cincin Khotam Sulaiman dengan seizin Allah secara ajaib kami mendapatkan tiga ekor ikan secara ajaib dari Allah SWT lewat perantara Khotam Sulaiman@ Seniman AI 2026 )

Setelah kami cukup beristirahat dan menikmati makan seadanya,kami meneruskan perjalanan yang di amanahkan kepada kami . Hutan tetap hening, hanya suara angin yang bergentayangan di antara daun-daun dan suara nyamuk yang berkeliaran di sekitar kami. Malam mulai kembali menjelma, dan kami tidak tahu apakah esok hari akan membawa harapan baru atau hanya memperkuat rasa putus asa yang mulai menguasai pikiran.

∆. Seseram Inikah Gunung Lawu .

Di tengah malam yang begitu gelapnya, seolah kegelapan itu sendiri telah menyelimuti setiap sudut ruang dan waktu ,kami melangkah terus di lereng Gunung Lawu. Langit tidak menunjukkan sedikit pun sinar bulan atau bintang, membuat kegelapan terasa semakin dalam dan membanjiri setiap inci udara yang kami hirup.
 
Pohon-pohon yang menjulang tinggi berdiri seperti patung-patung raksasa yang tidak bergerak, cabang-cabangnya saling menjalin di atas kepala kami seolah membentuk kubah gelap yang tak ada ujungnya. Bayangan mereka bergoyang lembut seiring hembusan angin yang dingin, menciptakan bayangan-bayangan yang menyeramkan seolah ada makhluk-makhluk tak kasat mata yang mengawasi setiap langkah kami. Suara angin yang bergentayangan di antara daun-daun mengeluarkan bunyi seperti bisikan yang tidak dapat dipahami, menambah kesan misterius dan sedikit menakutkan pada perjalanan kami.
 
Tanah di bawah kaki kami licin akibat sisa-sisa embun dan genangan air dari hujan yang baru saja reda, membuat setiap langkah harus dihitung dengan cermat agar tidak tergelincir atau terjatuh ke jurang yang tidak terlihat di bawah kegelapan. Suara langkah kaki kami yang terengah-engah bergema di antara pepohonan, menjadi satu-satunya suara yang menunjukkan keberadaan kami di tengah kesunyian hutan yang sangat dalam.
 
Meskipun rasa takut terkadang menyelinap ke dalam hati, kami tetap melangkah maju ,mengingat amanah yang kami emban dan pesan-pesan yang telah disampaikan oleh para utusan langit. Setiap langkah yang kami tempuh adalah bukti bahwa kami tidak akan menyerah, meskipun gelapnya malam dan seramnya lereng Gunung Lawu seolah berusaha untuk membuat kami berhenti dan kembali ke tempat yang aman.
 
Di tengah kegelapan yang begitu pekat itu, kami merasakan bahwa sesuatu yang besar sedang menanti di depan , sesuatu yang layak untuk diusahakan dengan segala risiko dan tantangan yang harus kami lalui.
( Pasar Dieng atau sering di sebut pasar setan yang berada di puncak gunung Lawu, adalah sebuah dataran gersang ddan terjal yang i penuhi bebatuan dan juga ada bunga khas yang sering disebut bunga Edelweis)

Kami terus melangkah ,namun dalam perjalanan kami menemui sesosok seorang pendaki yang berjalan terseok-seok,dan terlihat tubuh dan kakinya penuh luka dan darah dengan tas Cartier yang ia bawa di punggungnya. Ternyata ia adalah salah jiwa yang terikat ( salah satu korban yang meninggal di gunung Lawu yang jiwanya di cabut secara paksa dan di perbudak oleh bangsa Iblis ) oleh kegelapan yang meminta pertolongan, yang sering tempat itu , orang menyebutnya Pasar Setan .

Perlu diketahui, banyak orang datang di gunung Lawu ini , sambil tertawa , padahal mereka berjalan di atas jeritan yang telah lama di kubur cerita. Nama - nama di ciptakan agar kebenaran bisa di samarkan , seperti halnya pasar setan. Apa yang mereka kira keramaian , sebenarnya adalah kesibukan ,apa yang mereka lihat transaksi sebenarnya adalah kewajiban . Mereka yang kalah sebelum bertaubat . Mereka yang berjanji, yang tidak tahu kepada siapa , dan mereka yang di panggil bukan dengan suara  tapi dengan keputusasaan . Gunung ini tidak pernah berdusta, tetapi yang berdusta adalah manusia yang ingin aman , namun tidak bertanggung jawab. Di tempat yang mereka sebut Pasar Setan itu , tidak ada tawar menawar yang ada hanyalah kerja. Dan waktu yang berjalan tidak lagi menjadi milik manusia .

Maksudnya jika ada manusia yang meninggal di sini jiwanya terikat. Dan yang menyeramkan ditempat ini ,bukan satu wujud, bukan satu nama dan bukan setan seperti ada dalam dongeng, yang paling kejam di gunung Lawu adalah sumpah yang tidak di tepati. Manusia yang mendaki gunung ini membawa rangsel , namun yang paling berat bukan logistiknya . Mereka membawa nama yang ingin di bersihkan , niat yang ingin di percepat dan dia yang tidak sabar menunggu giliran . Ada yang naik sambil ketawa,ada yang naik sambil diam , karena mengira diam adalah izin .

Sedikit yang tahu bahwa gunung ini tidak meminta apapun, justru manusialah datang sambil meminta . Ketika permintaannya tidak di jawab mereka menyebutnya ujian . Ketika permintaan di jawab , mereka lupa kepada siapa mereka berjanji . Pendaki yang sering tersesat adalah pendaki yang sering merasa sudah sampai . Mereka berjalan melewati batas , bukan karena berani , mereka tidak tahu bahwa batas itu ada . 
Banyak peristiwa dan ribuan langkah pendaki , sebagian kembali dengan tubuh utuh ,namun jiwanya tertinggal dan sebagian tidak pernah kembali .
Bukan karena gunung menelannya, melainkan mereka sendiri yang memilih berhenti .

Jika engkau bertanya," Siapa yang bersalah? jawabnya tidak pernah satu , namun jika engkau bertanya ," Siapa yang mengetahui gunung ini selalu tahu ?
Apa yang akan engkau lihat bukan untuk kau ceritakan dengan kata .
Pasar yang di ceritakan agar manusia tidak mendengarkan jerit , bayangan bergerak tidak jelas bentuknya ,ada yang menyerupai manusia,ada yang tidak utuh ,ada seperti cahaya redup yang berjalan tertunduk .
Jiwa- jiwa yang terikat di tempat ini ,di paksa untuk bekerja , dan bekerja adalah kata yang sopan untuk sebuah keterikatan .
Mereka yang datang dari pulang , tidak benar-benar melihat . Mereka hanya menangkap dari sisa-sisa rasa yang lolos dari penjagaan . Apa yang kau lihat pasar bukan tempat jual beli , tidak ada barang, tidak ada harga yang ada adalah jiwa-jiwa yang tidak memiliki hak atas waktunya sendiri .
Mereka bekerja bukan karena ingin, mereka bergerak bukan karena hidup , mereka menjalani bukan karena takdir .
( Gambar ilustrasi keindahan gunung Lawu yang menawarkan keindahan alam dan udara yang sejuk membuat orang betah untuk berlama-lama di tempat ini  )

Ada yang datang di gunung ini dengan janji,ada yang datang dengan permintaan ,ada pula yang datang dengan keputusasaan . Ketika janji tidak di tepati ,ia berubah menjadi ikatan , ketika permintaan di paksakan  ,ia berubah menjadi jerat . Jiwa-jiwa itu tidak langsung di tawan . Mereka masuk dengan langkah .
Awalnya hanya singgah,lalu di minta menunggu . Lalu di suruh membantu , sebentar menjadi bekerja , bekerja berubah menjadi kewajiban . Dan kewajiban yang tidak di selesaikan menjadi rantai.. Mereka tidak berteriak , karena teriakan tidak lagi berguna ,bagi yang telah kehilangan pilihan .
Inilah salah di pahami manusia sebagai keramaian , yang mereka dengar sebagai tawar menawar  , sebenarnya adalah perintah yang di ulang tanpa jedah .
Dan suara-suara itu , perintah untuk pencarian dan perburuan pusaka peninggalan Bal'am bin Baura yang di lakukan oleh raja dimensi ghaib gunung Lawu,yang merupakan dua murid nabi Musa yang bernama Yaqtin Bin Askhor dan  Sam'un Al Kahfi keduanya adalah raja , membawa ilmu hikmah yang  mampu memerintah dan menjadikan para iblis tunduk atas perbuatannya dan perintahnya.
Dan sebelum kami meneruskan perjalanan,tak lupa kami mendoakan jiwa-jiwa yang terikat di tempat ini , agar terlepas dengan seizin Allah SWT.
Kami tak bisa berkata-kata apa- apa sedih banget , apa yang kami lihat.

Dan di tempat gunung Lawu ini , terdapat juga mitos burung Jalak Lawu yang sering di temui pendaki yang menuntun pendaki yang tersesat.
Namun hal itu bukan sekedar mitos yang menyelimuti gunung Lawu, karena saat kami melakukan penelusuran dan mencari keberadaan pusaka langit kami di temui sesosok yang memperkenalkan dirinya Kyai Jalak , atau orang lebih mengenalnya sebagai burung jalak Lawu sebagai perwujudan dan jelmaan dari Kyai Jalak .
Menurut legenda yang beredar di masyarakat , merupakan salah satu pengawal setia raja terakhir Majapahit  Brawijaya V menjaga keseimbangan lereng gunung Lawu 
( Ilustrasi gambar burung Jalak Lawu yang memberi petunjuk bagi pendaki gunung Lawu, agar pendaki tidak tersesat jalan )

Sosok yang memperkenalkan diri bernama Kyai Jalak telah berdiri di hadapan kami .
Ia mengucapkan salam kepada kami ," Assalamualaikum,dan mempersilahkan kami duduk di hadapannya dan mohon maaf jika kehadiranku membuat dirimu terkejut .Kamipun membalas salamnya," Walaikum salam wabarakatuh.
" Manusia ada perlu apa kau datang ke sini masuk ke wilayahku ," tanyanya kepada kami.
Mohon maaf Tuan , sebelumnya perkenalkan nama saya Probo dan siapa Tuan ? tanyaku.
Perkenalkan diriku Jalak Lawu ,ia semua memanggilku Ki Jalak Lawu . Apa kau merasa sakti , engkau berkata ingin membebaskan jiwa-jiwa yang tersesat di gunung Lawu . Sedangkan diriku penjaga batas dimensi , bahkan tidak bisa membebaskan mereka . Lalu siapakah engkau sebenarnya  dan apa tujuanmu ? tuturnya kepada kami.
" Seperti sudah saya sampaikan,saya Probo dan saya manusia biasa,Tuan . Saya bukanlah siapa-siapa . Namun sudah semestinya saya buka diri kepada Tuan . Saya datang bukan membawa kesaktian,Tuan , bukan pula membawa klaim kebenaran . Saya hanyalah manusia biasa yang tidak bisa menutup mata saat kedzaliman berdiri di depan langkah saya.
Jika ada yang tertindas,aku tak pantas berlalu , jika ada yang terikat,aku tak layak berdiam diri, Tuan . Bukan karena diriku mampu , namun karena saya , karena diam sering kali lebih berdosa dari pada gagal,Tuan ," tegasku dihadapannya." 
Kau berbicara tentang kedzaliman dan pertolongan , tetapi bukankah Tuhan Maha Kuasa ,jika ia berkendak , satu firman saja cukup membebaskan semuanya. Mengapa engkau merasa turun tangan . Apakah engkau ingin menggantikan peran Tuhan ," ucapnya kepada kami.

" Saya tak pernah bermimpi membandingkan Tuhan , justru Aku mengenal kelemahanku . Saya bergerak, karena kehendak saya sendiri , karena apa, karena Tuhan yg tidak pernah membutuhkan tangan saya , tetapi manusia sering kali membutuhkan kehadiranNya . Bukankah Tuhan sendiri menurunkan kehendaknya melalui langkah makhluknya,Tuan , melalui tangan yang berani , melalui hati yang tidak sembunyi dari hati nurani , bukankah begitu Kyai Jalak Lawu ," jawabku.
" Kalau begitu , mengapa tidak semua manusia bergerak seperti mu . Mengapa hanya sedikit yang mau menanggung beban ini . Jika ini kehendak Tuhan , seharusnya semua tersentuh ," ujarnya kepada kami.
" Begini Tuan, karena hidayah bukan paksaan Tuan , karena cahaya tidak pernah memaksa mata untuk terbuka .
Ada manusia yang memilih nyaman dalam doa , tetapi takut basah oleh air mata sesama . Ada yang mengaku tawakal namun sebenarnya sedang sembunyi dari tanggung jawab . Tidak semua makhluk sama seperti diriku,Tuan ? 
Dan saya ingin bertanya," Kenapa Tuan tidak bisa membebaskan semua itu? tanyaku.

" Kau berani menilaiku  manusia, padahal engkau bagian dari mereka ,apa jaminannya bahwa niatmu suci , bagaimana jika ini adalah ambisi halus yang menyamar sebagai pengabdian ? ujarnya kepada kami."
Tidak ada jaminannya, Tuan .Aku setiap hari mencurigai diriku sendiri , jika suatu saat niatku menyimpang , biarkan aku runtuh oleh kesadaran diriku sendiri.Aku tidak ingin diriku di benarkan ,Aku hanya menolak bersembunyi di balik dalih , menunggu Tuhan bekerja," tegasku .
" Jika engkau gagal , jika jiwa- jiwa itu terikat , jika engkau mati dalam usaha yang sia-sia , jawab," ujarnya kepada kami.
Maka biarkan kegagalanku menjadi saksi, Tuan bahwa pernah ada seseorang manusia pernah mencoba .Saya tidak pernah mengukur dari hasil tetapi keberanian untuk berdiri saat kebenaran memanggil , karena apa ? Karena Allah SWT , tidak bertanya berapa yang telah kau bebaskan , melainkan engkau berpaling atau engkau terus melangkah ,' ujarku.

" Engkau berbeda , namun kau ingat membebaskan jiwa bukan perkara niat semata . Ada hukum ,ada keseimbangan ,ada harga yang harus di bayar , ujarnya kepada kami."
Ia ,Tuan kami tahu , jika harga itu lelah, biarkan kami lelah ,jika harga itu luka biarkan Aku yang berdarah ,asal.jangan Aku hidup dalam penyesalan . Karena membiarkan kedzaliman lewat begitu saja di hadapanku ,itu adalah sesuatu hal , menjadi kesakitan pada diriku sendiri.
" Manusia sepertimu berbahaya , bukan karena kekuatannya tapi karena ketulusan nya ," ujarnya memuji kami.

Tidak,Tuan namun jika ketulusan di anggap berbahaya ,maka biarkan Aku menjadi ancaman bagi ketidakadilan, bukan begitu,Tuan ? ujarku.
"Maka diriku peringatkan engkau , wahai engkau manusia, jalanmu sudah benar dan diriku sungguh kagum kepadamu , namun jangan engkau tergelincir oleh angin . Banyak yang berjalan di jalan hakekat , tetapi jatuh,jatuh bukan karena godaan dunia melainkan karena pikirannya sendiri yang merasa telah sampai . Diriku terima kasih kepadamu manusia , karena engkau telah membebaskan jiwa -jiwa itu , diriku tak mampu melepaskan mereka .
Memangnya kenapa,Tuan . Tuan tidak bisa melepaskan mereka , apa ada sesuatu hal , kenapa Tuan ? tanyaku penuh tanda tanya.

" Sebab sumpah ku telah terikat pada gunung ini ,
" Tuan Kyai ,apa yang engkau peringatkan padaku lebih berat bagiku daripada pujian, sebab pujian mengangkat kepala , sedangkan peringatan menundukkan jiwa.
Aku tahu.angin seperti Tuan yang telah sampaikan  kepadaku  ,angin yang sangat berbahaya bukanlah angin yang menghempaskan dari luar , melainkan angin yang berbisik di dalam dada , bukankah begitu Kyai? ujarku dengan lembut. "
" Memang benar,"ujar Kyai sambil menghela napas panjang .
" Begini Tuan,diriku tidak pernah menganggap diriku pembebas , hanya celah kecil agar Rahmat Tuhan menemukan jalannya . Jika jiwa- jiwa itu terlepas bukan karena diri saya , melainkan , karena waktu mereka telah sampai . Terlebih lagi Tuan , saya hanya kebetulan berada di tempat itu tadi ," ujarku kepada Kyai Jalak.
( Ilustrasi gambar keindahan alam air terjun yang berada di lereng gunung Lawu,yang menawarkan kesejukan dan keindahan alamnya )

" Jika engkau menyadari semua itu bagaimana dirimu menjaga dari kesesatan hati yang halus , bahkan ahli hakekat pun tak pernah menyadarinya ," ujar Kyai Jalak.
" Kamipun menghela napas,sambil berkata Allahu Akbar, izinkan kami menjawab Tuan dengan tidak mempercayai diri saya sendiri sepenuhnya ,Tuan . Saya menggantungkan langkah pada rasa takut yang sehat ,takut jika Tuhan meninggalkan saya sedetik saja . Saya menjadikan keraguan sebagai pagar dan doa sebagai penopang , sebab keyakinan tanpa kerendahan adalah pintu menuju kehancuran . Orang -orang yang tergelincir di jalan hakekat, bukan karena mencari Tuhan, Tuan, tetapi karena tanpa sadar menemukan dirinya sendiri dan melukainya. Saya berlindung agar tidak jatuh cinta, kepada bayangan diri saya yang tampak suci , seperti itu Tuan ," ujarku kepada Kyai Jalak.

" Engkau memahami sesuatu yang jarang di pahami manusia ,namun sumpahku tetaplah sumpah ," ujarnya.
" Sumpah yang bagaimana, Tuan, saya ingin tahu ? ," ujarku ingin tahu.
" Diriku terikat pada gunung ini dan tidak bisa melangkah sejauh engkau ," ujarnya.
" Namun,Tuan justru di situlah letak kemulianmu Tuan .Ada yang di muliakan dengan bergerak ,ada pula yang di tinggikan tepat pada tempatnya . Gunung tidak iri kepada sungai yang mengalir , bukankah begitu Tuan ,dan sungai tidak merendahkan gunung yang diam , keduanya sama - sama menjalankan takdir tanpa saling meniadakan, bukankah begitu Tuan . Jika Tuan telah bersumpah atas apa yang Tuan , sampaikan kepada saya , justru saya menyampaikan rasa terima kasih atas penjagaannya . Jika bukan karena batas yang engkau jaga . Saya tak akan tahu ,sejauh mana saya boleh melangkah ,Tuan , karena apa ilmu tanpa batas adalah kesesatan, Tuan dan kebebasan tanpa adab akan melahirkan kehancuran , bukankah begitu Tuan? 
" Iyah,Doaku menyertaimu manusia semoga angin tidak membawamu ke jurang ," ujarnya kepada kami.

"Dan doaku sama menyertai Tuan," ucap Probo pelan, namun setiap katanya jatuh dengan bobot yang pasti. "Semoga keteguhan Tuan tetap menjadi poros pada gunung ini. Jika suatu saat saya jatuh, biarkan peringatan itu membangunkanmu, Tuan. Dan jika aku tetap berjalan, biarkan langkahku tetap kembali kepada Tuhan, bukan kepada diriku sendiri. Tak ada sesuatu hal yang aku banggakan kecuali aku bersandar kepada-Nya."

Sang penjaga gunung itu menatap Probo lekat-lekat. Ada keraguan di matanya, bercampur dengan kelelahan yang sudah mengakar dalam. Angin kembali berdesu, kali ini lebih dingin, membawa aroma belerang samar dari kedalaman hutan di belakang mereka.

"Dan terlebih lagi, Tuan," lanjut Probo, suaranya kini bernada prihatin, "saya mengetahui bahwa hati Tuan telah risau. Tempat yang engkau jaga ini... banyak makhluk-makhluk kuat yang menyebarkan keburukan di sini. Tuan?"

Sang penjaga menghela napas panjang, bahunya merosot seolah beban dunia baru saja diletakkan di atasnya. Ia menatap ke arah kegelapan hutan yang pekat.

"Benar," jawabnya lirih, suaranya serak. "Bahkan diriku pun tidak mengetahui mereka berasal dari mana."

Keheningan menyusul jawaban itu. Probo melangkah satu langkah maju, mendekat pada batas tak terlihat antara wilayah aman sang penjaga dan zona bahaya yang mengintai. Matanya tidak menunjukkan rasa takut, melainkan tekad yang bulat.

"Maka izinkanlah kami melangkah di tempat ini lebih jauh," kata Probo tegas. "Untuk menghilangkan keangkaramurkaan, menghilangkan sesuatu yang tidak baik, Tuan? Jika Tuan tidak bisa melakukan itu karena Tuan telah terikat pada gunung ini sebagai poros, sebagai jangkar ,biarkan saya yang menggantikan tugas yang seharusnya Tuan emban."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan penekanan yang dalam. Probo tidak meminta izin sebagai tamu, tetapi menawarkan diri sebagai solusi. Ia memahami kodrat sang penjaga: ia adalah akar yang harus diam agar pohon tidak tumbang, bukan dahan yang bisa bergerak membasmi hama.

Wajah sang penjaga berubah. Kerutan di dahinya sedikit mengendur, digantikan oleh ekspresi haru yang mendalam. Air mata menggenang di sudut matanya yang keriput. Ia menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia berjuang sendirian, merasa bahwa manusia luar hanya akan membawa kerusakan, bukan penyembuhan.

"Baiklah, Probo," ucap sang penjaga, suaranya bergetar menahan emosi. "Diriku izinkan kamu untuk menyelesaikan segala sesuatu yang ada di sini. Terima kasih, karena jarang sekali, bahkan mungkin tidak ada manusia yang seperti dirimu. Doaku akan selalu menyertaimu. Dan diriku percayakan semua ini kepadamu. Dirimu sangat, sangat sekali minta tolong kepadamu. Kembalikan tempat ini selayaknya tempat yang indah."

Harapan terpancar jelas dari suara gemetar itu. Bukan harapan kosong, melainkan penyerahan total dari seorang  spiritual kepada seorang ksatria baru.

Probo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menenangkan. Ia membungkuk hormat sekali lagi, siap berbalik menuju kegelapan hutan.

"Baiklah. Lanjutkan perjalananmu ini. Assalamualaikum," ujar Kyai Jalak.
Namun, sebelum kakinya benar-benar melangkah pergi, sang penjaga tiba-tiba mengangkat tangannya. Ekspresi serius di wajahnya pecah menjadi senyuman lembut yang penuh makna. Ada kilatan kebijaksanaan kuno di matanya.

"Dan mohon maaf, Probo," kata sang penjaga, nadanya kini lebih ringan, seolah batu besar telah diangkat dari dadanya. "Tadi diriku hanya mengujimu. Sekali lagi, mohon maaf."

Probo berhenti. Ia tidak terkejut. Ia tidak marah. Ia hanya mengangguk perlahan, memahami bahwa ujian kepercayaan adalah bagian dari ritual peralihan tanggung jawab ini. Sang penjaga perlu yakin bahwa Probo bukan didorong oleh ego atau keinginan untuk pamer kekuatan, melainkan oleh ketulusan hati dan ketergantungan mutlak kepada Tuhan.

"Iya, Tuan. Saya memahami tentang hal itu," jawab Probo dengan tenang.

Dengan itu, Probo melangkah masuk ke dalam kabut. Ia tidak berjalan sebagai orang yang sombong karena telah lolos ujian, melainkan sebagai hamba yang rendah hati, membawa serta doa sang penjaga dan keyakinannya sendiri, siap membersihkan kegelapan yang telah lama mengerubungi gunung tersebut.

Gunung itu masih diam, namun untuk pertama kalinya dalam sekian lama, anginnya terasa sedikit lebih hangat.

∆ Misteri Gunung Lawu , Serta Jejak Murid Musa Alaihi Salam Yang Memperebutkan Pusaka Langit Peninggalan Bal'am bin Baura 

Di gunung Lawu ini , ternyata tersimpan dua pusaka yang tidak tercatat oleh sejarah buku manapun namun tercatat dalam catatan langit. Ia bukan sekedar pusaka,ia bukan sekedar benda tetapi saksi zaman,ia menyerap niat , menyimpan jejak batin dan memantulkan keinginan terdalam siapa pun yang mendekatinya .
Ketahuilah,bahwa dahulu di tempat ini pernah singgah seorang hamba Allah yang sangat amanah ,ia bukan seorang raja, bukan pula seorang nabi , tetapi ia manusia yang pernah di beri ilmu besar dan beban yang lebih besar .
Ia datang dari negeri yang jauh , melintasi lembah , gunung dan kesunyian hanya dengan satu tujuan menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh jatuh ke tangan yang salah..

Benda itu bukan emas , bukan pusaka yang berkilau , bukan pula senjata untuk menaklukkan dunia, benda itu adalah amanah langit . Ia tersegel rapi ,ia di samarkan dari pandangan ,ia di sembunyikan bukan oleh tanah , melainkan dengan izin Allah .
Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali mereka yang hatinya telah di timbang dan di tanyakan layak ,di nyatakan layak oleh langit .

Benda itu adalah butiran tasbih Ismu Adhom yang diberi nama Nur Ijabah . Ia bukan sekedar rangkaian tasbih ,ia bukan sekedar sarana doa ,ia adalah pantulan rahasia nama Allah yang Agung., yang jika di sentuh oleh nafsu akan menjadi petaka dan jika di amanahkan ke hati yang bersih akan menjadi cahaya penuntun .
Allah menitipkan Nurul Ijabah/ Nur Ijabah kepada seorang hamba bernama Bal'am bin Baura  . Ia adalah manusia yang di beri ilmu tinggi,doa yang mustajab dan kedudukan yang dekat , namun ia juga jadi peringatan terbesar bagi umat manusia..
Ilmunya tinggi tapi penjagaannya rapuh , pengetahuannya luas tetapi keteguhan nya runtuh oleh godaan dunia.
( gambar ilustrasi ketinggalan puncak gunung Lawu 3265 mdpl dengan keindahan alam yang luar biasa indah)

Bal'am bin Baura, bukan hamba yang bodoh , namun ia kalah oleh hawa nafsu . Ia mengetahui kebenaran,namun memiih berpaling . Dan ketika cahaya tidak di jaga dengan syukur dan takut kepada Allah , maka cahaya di cabut , bukan karena Allah dzalim tetapi karena hamba itu sendiri mengkhianatinya .
Sebelum kejatuhannya Bal'am bin Baura masih di beri satu kesempatan . Kesempatan untuk menyelamatkan amanah ,meski ia gagal menyelamatkan dirinya.
Dengan sisa kesadaran dan takutnya kepada Allah ,ia menyembunyikan Nur Ijabah di tempat yang tidak di jamah dan di jangkau oleh manusia yang hatinya condong pada dunia.
Ia memilih tempat ini, tempat yang hanya bisa di masukin oleh mereka yang datang, bukan dengan kesombongan melainkan dengan amanah.

Nurul Ijabah tidak boleh di sentuh sebelum waktunya , tidak boleh di ketahui oleh hati yang belum di uji .Dan tidak boleh di dekati oleh langkah yang di gerakkan oleh rasa ingin tahu semata.
Kami datang karena getaran amanah,sama dengan amanah yang di tinggalkan ,bukan karena kami paling kuat, bukan pula paling berani,namun jejak yang di tinggalkan dan karena kami masih bertanya dengan rendah Tempat ini menguji kami bukan dengan serangan tapi dengan pilihan. Bukan dengan kekerasan tetapi dengan keheningan . Bukan musuh yang terlihat, namun bisikan dalam hati sendiri. Jika kami melangkah ingin membuktikan diri maka cahaya itu akan menjauh . Jika kami melangkah dengan niat memiliki maka amanah akan tertutup .
Jika kami melangkah dengan niat menjaga dan menyerahkan kembali kepada Allah maka jalan akan di bukakan sedikit demi sedikit.
( Gambar ilustrasi hutan Savana di gunung Lawu yang memanjakan mata para pendaki gunung Lawu menawarkan kesejukan dan keindahan alam yang masih terjaga)

Dan perlu di ingat,bahwa Bal'am bin Baura jatuh bukan karena ilmunya tetapi karena ia merasa aman dengan ilmunya . Dan peringatan ini agar kami tidak lagi mengulangi kisah ini , melainkan menggenapi pelajarannya .

Dan pusaka ini menjadi rebutan bukan oleh manusia awam ,bukan oleh jiwa-jiwa yang polos melainkan oleh dua murid utusan . Mereka yang dahulu berada di jalur amanah , namun sekarang berdiri di persimpangan niat dan ambisi.
Dua murid itu telah mengetahui butiran tasbih Nurul Ijabah. Keduanya sama-sama mengenal jalannya . Keduanya sama-sama membawa bekal ilmu . Namun hanya satu yang masih membawa ketundukan , yang satu menginginkannya untuk menjaga , yang satunya menginginkannya untuk menguasai 

Dan perlu diketahui,bila butiran tasbih ini jatuh ke tangan yang benar maka pusaka ke lima akan di turunkan kepada umat manusia . Bukan sebagai alat kekuasaan, bukan simbol keunggulan , melainkan sebagai peringatan dan penyeimbang di akhir zaman. Pusaka ke lima tidak turun dengan sorak sorai . Ia akan turun dengan tangis langit dan diamnya bumi .
Ia tidak akan mengangkat jiwa yang sombong , tetapi akan membakar kesombongan siapapun yang mendekatinya .

Barangsiapa yang mendekati Nurul Ijabah dengan niat dunia maka dunia akan memakannya hidup -hidup dan barangsiapa yang mendekati dengan niat akherat maka ia akan di uji sampai dasar hatinya.
Jika kami gagal bukan kami yang hancur namun dunia akan semakin gelap . Jika berhasil bukan kami yang di agungkan , melainkan umat manusia akan di beri penundaan kehancuran.

∆.Mister Gunung Lawu , Jejak Bal'am bin Baura Ujian Untuk Mendapatkan Tasbih Nur Al Ijabah Yang Luar Biasa Dari Syekh  Ahmad Al Tarim 

Di tengah dingin dan gelapnya malam,kami menyusuri lereng gunung Lawu, lewat jalan yang terjal dan jalan setapak,kami di hadang sesosok yang menghadang langkah kami , kamipun mengucapkan salam,"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh, Ia pun menjawab salam kami ," Waalaikum salam," ujarnya dengan suara lembut .Dan mempersilahkan kami duduk di depan hamparan rumput yang basah karena kabut malam turun menyelimuti bumi di lereng Lawu.
" Mohon maaf Tuan sebelumnya mohon maaf , apakah Tuan yang bernama Syekh Ahmad Al Tarim ," tanyaku mengawali percakapan.
( Ilustrasi gambar sesosok yang menghadang dan menemui kami untuk menguji kelayakan untuk menerima tasbih Nur Ijabah serta memberikan kunci untuk membuka portal ghoib tempat keberadaannya tasbih Nur Ijabah)

Iapun sambil tersenyum,menyembunyikan identitasnya dan memperkenalkan dirinya bernama Murtaji . Bukan nama yang kau sebut," ujarnya.
Tapi maaf Tuan , insyaallah mata batin saya tidak pernah salah menilai makhluk ciptaan Allah yang begitu alim seperti Syekh.
Iapun tersenyum dan ketawa kecil , bertanya kepada kami berdua. ," Siapakah kalian yang datang menemuiku di waktu yang sunyi seperti ini ," ujarnya bertanya kepada kami.
" Maaf Syekh ,Saya Probo dan teman saya bernama Arya ,kami datang menemui Tuan bukan membawa kesombongan, melainkan kebingungan yang kami harap dapat di terangi , Tuan Syekh," ujarku.
" Berbicaralah Probo apa ingin kalian tanyakan kepada makhluk fakir sepertiku ," jawabnya 
." Begini Tuan Syekh,kami menjalankan suatu amanah yang menurut kami , adalah sesuatu yang berat Tuan , amanah bukan yang kami minta, tetapi entah mengapa selalu di titipkan kepada kami .Kami di perintahkan mengambil sesuatu pusaka peninggalan beliau Tuan Bal'am bin Baura . Jika tidak keliru pusaka itu bernama Nur Alkamal Al Mujab ,namun mendapatkan informasi bahwa pusaka itu tidak akan pernah, tidak dapat kami raih selama kami tidak memiliki tasbih Nur Ijabah, Namun atas izin Allah kami di pertemukan dengan Syekh di tempat ini . Maka dengan kerendahan hati, izinkan kami bertanya Tuan ," Apakah Tuan memiliki tasbih tersebut , Tuan ," tanyaku.

Dengan tersenyum dan juga ketawa kecil yang penuh misteri dan tanda tangan besar dihati kami .
" Probo ,Probo , engkau datang membawa nama besar ,namun bertanya kepada seseorang yang fakir , yang bahkan tidak memiliki dirinya sendiri . Tidak ada, tidak ada tasbih yang diriku miliki . Apalagi tasbih yang dirimu sebutkan . Diriku tidak tahu tentang apa yang kalian cari ," ujarnya.
" Apa benar ,apa benar diriku ini belum pantas mengetahui kebenarannya ," jelasku.

" Wahai Probo , tahukah  kenapa banyak manusia gagal sebelum sampai , karena mereka datang dengan pertanyaan bukan dengan kesiapan . Jika diriku mengatakan diriku memiliki tasbih itu ,maka engkau akan berusaha mengambilnya . Jika diriku mengatakannya diriku tidak memilikinya engkau akan kecewa Bagaimana,sudahkan kamu berpikir,dengarsenyumnya yang tipis dan penuh arti.Ah, ah,ah 😄.
Namun keduanya sama -sama menjauhkanmu dari hakekat ," tegasnya.
" Lalu , apakah yang seharusnya kami cari ,Tuan Syekh," tanyaku.

" Yang seharusnya engkau cari bukanlah tasbih , melainkan keadaanmu saat bertanya . Tasbih Nur Ijabah tidak pernah di miliki . Ia hanya menampakan diri pada mereka yang doanya tidak lagi menuntut jawaban . Pusaka Nur Alkamal Al Mujab , tidak akan turun kepada tangan yang ingin memegang , melainkan kepada hati yang siap melepaskan ," pungkasnya.
" Jika demikian, wahai syekh, apakah kami harus kembali tanpa apa-apa ," tanyaku.

" Tidak , jika kelak tasbih itu muncul di hadapanmu , jangan kau genggam, engkau pulang tidak dengan tangan kosong . Engkau pulang dengan luka kesadaran dan itu adalah bekal yang paling mahal . Biarkan ia menggenggam hatimu .
Dengarkanlah diriku , wahai Probo , sebenarnya apa yang menuntunmu hingga sampai di hadapanku . Bukan langkah kakimu,bukan pula peta dan kabar manusia . Jika engkau ingin mencari tasbih itu , engkau harus lebih dahulu menyelami dirimu sendiri . Maka katakanlah padaku dengan jujur ,apa yang engkau cari sebenarnya pusaka atau dirimu ," tanyanya kepada kami.

" Wahai Syaikh, izinkan kami menjawab ,jika kami menjawab kami mencari pusaka,saya berdusta pada jiwa saya  Tuan,jika saya berkata bahwa saya mencari diri saya . Saya takut masih tersisa tipu daya . Saya datang karena ada dorongan yang tidak bisa saya sebut nama seperti rindu yang tidak tahu kepada siapa ia kembali ,*ujarku.
" Itu bukan jawaban ,rindupun bisa sering menyamar sebagai nafsu yang di perhalus . Katakan, wahai Probo apa yang akan kamu lakukan jika tasbih itu benar-benar ada di hadapanmu ," tanyanya sambil ketawa penuh makna.
" Jika tasbih itu ada di hadapan saya Syaikh, diriku akan lebih dulu bertanya pada hatiku , apakah aku ingin memegangnya atau aku ingin dipegang olehnya ,atau saya mengambilnya atas nama amanah Tuan. Namun jika membuatku lebih tinggi , saya akan meletakkan kembali,,jika membuat saya lebih   hina di hadapan Allah, saya akan diam bersamanya" jawabku.

" Engkau pandai merangkai kata, namun hakekat tidak menguji kefasihan , melainkan kejujuran wujud . Siapakah dirimu jika tidak ada lagi amanah , tidak ada pusaka, tidak ada nama , Probo," tanya kepada kami sambil ketawa kegirangan dan penuh kemenangan.

" Mohon maaf Syekh, ijinkan kami menjawab , jika nama itu di tanggalkan ,saya hanya napas yang menunggu ijin untuk bertahan . Saya tidak memiliki apa-apa, bahkan diriku ini hanyalah titipan , jika Allah menariknya kembali tidak bisa menawar walaupun sekejap ,Tuan ," jelasku menjawab pertanyaan Syaikh.
" Jika demikian, kenapa engkau masih berjalan , mengapa tidak diam dan menyerah sepenuhnya ," ujar Syaikh.
" Izin kami menjawabnya lagi , Tuan , karena diamku bisa jadi pelarian Tuan ,dan jalanku bisa jadi ibadah ,kami berjalan untuk sampai tetapi untuk di uji . Jika kami berhenti untuk di uji ,kami tidak tahu apakah itu tawakal atau takut ," jawabku.
" Baik sekarang dengarkan , tasbih Nur Ijabah tidak pernah muncul kepada seseorang yang masih memisahkan antara dirinya dan kehendak Tuhan . Apakah engkau masih memiliki kehendak ," tanya kepada kami.

" Wahai Syaikh kami masih merasakan nya , karena itu justru kami takut. Setiap kali,kami merasa ingin ,saya belajar melepaskan , setiap kali mampu , saya ingat , betapa saya sering di tolong tanpa alasan,Tuan Syekh."jelasku 
" Engkau masih melihat dua ,Aku dan Dia ,kehendaku dan kehendaknya , selama itu ada tasbih itu hanyalah cerita," tegasnya.
" Allahu Akbar, benar Syekh namun jika aku telah mengaku melihat satu , itupun bisa menjadi kesombongan yang paling halus .Maka saya memilih berdiri di antara keduanya , sambil terus di luruhkan ,Tuan Syekh.," jawabku.

" Jawabanmu tidak sempurna , namun retakannya jujur dan dari retakan itulah cahaya bisa masuk ," ujar Sang Syekh.
" Jika tasbih itu Nur Ijabah, biarkanlah doaku tidak segera di kabulkan ,aku kabulkan sebelum aku di siapkan , Tuan Syekh," jawabku.
" Diriku ingin kembali bertanya Probo dan sekaligus ingin menyampaikan sesuatu pada dirimu . Katakan kepadaku dengan jujur , tanpa berhias makna , apa yang kamu ketahui tentang tasbih Nur Ijabah ? ," tanya Syekh.

" Izin kami menjawabnya Tuan ,dan mohon maaf jika salah menjawabnya , tasbih itu bukan hanya untaian benda, Syekh , tetapi untaian wujud dari Ismu Adhom ,ia bukan alat untuk memaksa langit , tetapi cermin bagi hati yang telah luluh . Tasbih itu berdzikir bukan dengan suara melainkan dengan keberadaan,Tuan Syekh ," jawabku.
"Baik , jika demikian diriku akan nengujimu bukan dengan hapalan , melainkan dengan pertanyaan hakekat . Dengarkan baik-baik , engkau berkata Ismu Adhom , katakan padaku apakah Ismu Adhom itu adalah nama yang di ucapkan atau keadaan yang di hadirkan ," tanya Syekh.

" Ismu Adhom bukan terletak pada huruf ,Tuan Syekh,sebab huruf masih milik makhluk . Ia adalah keadaan hamba saat tidak ada lagi di sebut selain Dia . Jika nama diucapkan namun saya masih ada maka itu baru dzikir, namun jika nama itu disebutkan namun aku lenyap dan hanya Dia yang tersisa ,maka di situlah Ismu Adhom bekerja tanpa suara Tuan Syekh," jawabku.

Lalu jika seseorang berdoa dengan Ismu Adhom , namun doanya tidak terkabul , apa Ismu Adhom itu lemah , apa hamba itu belum selesai ," tanya Syekh.
" Ismu Adhom tidak pernah gagal Tuan Syekh , yang gagal adalah kesabaran hamba dalam menerima bentuk jawaban .
Kadang doa tidak di kabulkan , karena jawaban itu , penundaan . Dan penundaan adalah kasih sayang bagi jiwa yang belum sanggup ,Tuan Syekh, mohon maaf jika menjawabnya salah." jawabku.
" Katakan padaku Probo , siapakah yang doa,  Ismu Adhom yang benar-benar hadir,  hamba atau Tuhan itu sendiri," tanya Syekh.
" Ketika Ismu Adhom hadir , tidak ada lagi hamba yang berdoa , Tuan , yang ada adalah kehendak Tuhan mengalir melalui lisan hamba . Pada saat itu saya tidak meminta , saya hanya menyaksikan Tuan Syekh ," jawabku.

" Kenapa banyak orang tersesat , setelah mengenal Ismu Al Adhom , padahal itu ilmu tertinggi ," tanya Syekh.
" Uya Syekh, karena ia jatuh cinta pada daya bukan pada Maha yang berkehendak .Ilmu yang seharusnya meluruhkan ego , justru mereka gunakan untuk menguatkanya . Maka cahaya berubah menjadi api ," jawabku.
" Jika tasbih Nur Ijabah adalah untaian wujud Ismu Adhom ,lalu kenapa tampak pada orang-orang tertentu ," tanya Syekh.
" Mungkin , karena tasbih itu tidak memilih manusia , melainkan manusia yang telah kosong menjadi ruang baginya. Ia tidak turun kepada yang meminta,namun kepada mereka yang selesai dengan dirinya sendiri.Bukan begitu Tuan Syekh," jawabku.
" Iyah , Katakan Probo , apakah kamu siap jika Ismu Adhom itu menghapus namamu ,jalanmu , bahkan amanahmu.tanya Syekh.
" Jika itu harga dari kebenaran, Tuan Syekh , saya rela hilang tanpa di kenang ,sebab lebih baik namaku di hapus di dunia dari pada keberadaanku menghalangi cahayaNya , Tuan Syekh ," jawabku.

" Baiklah wahai Probo, engkau lulus dari ujianku , karena jawabanmu sempurna , melainkan karena hatimu tidak ingin merasa menang . Jika engkau menginginkan diriku , benar-benar menyerahkan tasbih itu maka dengarkan seluruh kesadaranmu , bukan dengan telinga , melainkan dengan ruh yang telah letih dari keAkuan .

Suatu hari ,di waktu yang tidak di catat oleh jam dunia ,diriku di beri tahu oleh malaikat,bukan dalam rupa cahaya yang menyilaukan , melainkan dalam bisikan yang membuat jantung tunduk . Malaikat itu berkata kepadaku ,akan datang kepadamu sekelompok pemuda . Mereka tidak membawa tanda kebesaran dunia ,namun mereka di berkahi kesadaran . Ajukan pertanyaan kepada mereka pertanyaan yang sukar di jawab , bukan dengan akal melainkan hanya bisa di jawab oleh ilmu yang telah menjadi kesadaran . Jika ia menjawab, bukan ingin di puji dan tanpa ingin memiliki ,maka saat itu telah tiba tasbih Nur Ijabah di pegang lagi oleh umat manusia . Dan hari ini ,malam ini engkau berdiri di hadapanku .
Wahai,Probo , dengarkan baik-baik , tasbih itu bukan biasa ,ia adalah kunci dari pusaka langit yang bernama Nur Alkamal Al Mujab . Tasbih itu adalah jika seorang hamba berdoa dengannya , doanya terkabul seketika . Namun bukan tasbih itu berkuasa , melainkan pada saat itu , tidak ada lagi jarak antara kehendak hamba dan kehendak Tuhannya.

Karena itulah diriku berpesan pada dirimu Probo , jagalah tasbih itu, bukan dengan menyembunyikannya tetapi dengan menyembunyikan dirimu . Jangan sampai ia jatuh ke tangan yang salah ,yakni tangan masih ingin berkuasa , ingin di puji , ingin merasa paling tahu .

Ketahuilah tasbih Nur Ijabah itu berasal dari ruang dimensi masa lalu . Di saat Nabi Musa AS menyerahnya kepada Bal"am bin Baura , bukan sebagai hadiah melainkan sebagai ujian . Jika engkau ingin mengambilnya, engkau harus masuk dalam dimensi itu . Bukan dengan jasad melainkan dengan kesadaran yang telah kau luruhkan .

" Baiklah Probo diriku akan mengajarkan sebuah doa bukan untuk di pamerkan melainkan untuk di bisikan kepada sunyi . Doa membuka portal dimensi ,doa kesadaran hakekat ," Bismillahirrahmanirrahim , Allahumma Ya Man  Anna , Walla  Makan ,Ya Manla Yu Tadzu Bizaman . Walla Biljiah ,
Fattan Li Baba ,Ma  Khadamka Min  Asrori . Labil Kuwah Walla Bilhillah , Walla Bilhillah Walla Bil.istiqoh .

Allohumma IInni  Kuntu Anna Fa'am  Binni , Wa'im  Kunta Anta Fa  Kasyafli Hatkini Fi Hakekati Makanna Bi Nuri Mayakun.

Hatta La Arro Siwaka . Wa Asmaka Illa IRADZAJA INNAKA ANTA AL MUJIB .
UDZA DUIYAH BI GHOIRI LISAN .
WABI GHOIRI THALAB ,AMIN
( Ilustrasi gambar pintu gerbang ghoib saat terbuka menuju dimensi keberadaan Nabi Musa AS, untuk mengambil pusaka tasbih Nur Ijabah sebagai kunci turunnya pusaka langit Permata Alkamal Al Mujab)

Baiklah, nanti setelah engkau membaca doa itu ,maka ambillah. Sebelum diriku pergi dari hadapanmu ,kau berdiri di belakangku ini dan lakukanlah ketukan kaki tiga kali ke tanah . Ambillah wahai Probo tasbih itu bukan lagi miliku dan bukan pula milikmu . Ia kini telah menjadi hak umat manusia.

Jika engkau amanah,ia akan menjadi cahaya . Jika engkau lalai ia akan hilang tanpa jejak ," ujar Syekh.
" Baiklah, Tuan Syekh, berarti saya harus ke masa lalu ketika nabi Musa AS memberikannya kepada Tuan Bal'am bin Baura ," tanyaku.
" Benar Probo , Terima kasih atas perjumpaan ini Probo , diriku pamit  Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh ," pungkasnya.
" Baiklah, Tuan Syekh , Walaikumsalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Kami pun melanjutkan untuk mengambil tasbih dan membaca doa untuk membuka portal ghoib yang di ajarkan kepada kami .
Setelah menunggu teman kami masuk ke dimensi portal nabi Musa AS ,teman kami membawa sebuah tasbih yang selama ini kami cari.

Alhamdulillah akhirnya kami mendapatkan tasbih Nur Ijabah dan menerangkan bahwa tasbih yang kita lihat itu satu tasbih ,bahwa nabi Musa AS menerangkan bahwa setiap butiran atau satu butir tasbih mewakili satu tasbih jika ini seratus butir berarti seratus tasbih .
Lihatlah baik-baik,ujar Probo Bismillahirrahmanirrahim,terpecahlah tasbih Nur Ijabah ,maka secara ajaib tasbih itu pun menjadi banyak dan lebih dari satu tasbih , setiap satu butir untaian tasbih mewakili satu tasbih.
Inilah wujud pusaka tasbih Nur Hijabah Peninggalan Nabi Musa AS pembuka kunci untuk menemukan pusaka langit permata Alkamal Al Mujab ,dan setiap butir tasbih mewakili satu tasbih dan ketika doa di panjatkan tasbih berubah menjadi banyak kurang lebih berjumlah 103 tasbih )

∆. Bukan Perang Biasa , Antara Yaktin Bin Askhor dan  Sam'un Al Kahfi  Merebutkan Tasbih Nur Ijabah.

Setelah kami mendapatkan kunci pusaka ( tasbih Nur Ijabah ) bukan sekadar benda, tapi jantung dari segala harap dan duka ,untuk membuka gerbang menuju pusaka langit yang bernama Permata Alkamal Al Mujab, kami menyadari bahwa perjalanan kami belumlah usai. Justru, di titik yang seharusnya menjadi klimaks itu, bayang-bayang baru muncul, seolah menjangkau dari lorong waktu lain, membawa tantangan yang lebih berat, lebih rumit.

Dua murid Nabi Musa itu ,figur yang selama ini hanyalah legenda dalam bisik dan kitab ,tiba-tiba berdiri di hadapan kami, membawa beban sejarah dan nasehat yang terlupakan; satu di antaranya masih setia menggenggam Ingin sebagai penjaga pusaka agung , penjaga batas langit dan bumi. Dia masih memandang dunia dengan mata penuh kesungguhan dan kepercayaan, percaya bahwa kekuatan adalah untuk menjaga, untuk melindungi semesta yang rapuh ini dari kehancuran.

Sementara yang lainnya? Dia adalah bayangan gelap dari ambisi manusia yang tanpa batas ingin menguasai .Kekuatannya bersemayam bukan untuk melindungi, tetapi untuk menguasai, untuk menaklukkan. Dia melihat Permata Alkamal bukan sebagai puncak kesucian, melainkan sebagai takhta bagi penguasa baru , singgasana yang mampu menghamparkan bayangnya ke seluruh penjuru dunia.
( Ilustrasi gambar pertarungan dua murid Nabi Musa,yang satu ingin tetap ingin menjaga amanah serta keseimbangan alam dan yang satunya menginginkan kekuasaan dan kekuatan)

Dari reruntuhan sejarah dan patahan keyakinan mereka, kami menyaksikan sebuah pertarungan yang bukan hanya fisik, tapi juga jiwa dan pikiran. Di dalamnya, terbungkus dilema tentang apa arti kekuatan sejati. Bukankah Pusaka Langit itu mengandung rahasia kasih dan keadilan? Bagaimana mungkin ia menjadi alat dominasi dan kerusakan?

Kami memandang ke kedalaman setiap jiwa yang berdiri di hadapan kami. Murid pertama, penjaga  yang amanah  dan khusyuk tepat sebagai penjaga, seolah menahan beban tanggung jawab yang hampir membuatnya ragu terhadap kepercayaan yang diwarisi. Sedangkan murid kedua, dengan sorot mata yang menyala, seakan menantang langit dan bumi untuk tunduk pada ambisi dan dirinyalah yang lebih pantas menjadi pewaris pusaka.

Di tengah pergulatan itu, kami merasa seolah terpecah antara harapan dan ketakutan, antara kepercayaan dan keputusasaan. Apakah kami bisa membawa Permata Alkamal pada tujuan sejatinya? Ataukah ia akan menjadi pemberi malapetaka, disalahgunakan oleh tangan-tangan haus akan kuasa?

Lautan dan langit mungkin tidak pernah terpisah sesungguhnya ,sebagaimana pusaka ini tak pernah lepas dari ikatan sakral antara pelindung dan penguasa, antara dunia materi dan dunia makna. Kini, di perbatasan itu pula kami berdiri, bersiap menyulam takdir dengan benang-benang keberanian dan keikhlasan.

Dalam hening yang tegang itu, kami sadar: pertempuran sesungguhnya ialah pertempuran dalam hati masing-masing, di mana cahaya dan kegelapan saling menguji. Dan hanya mereka yang mampu memahami arti sejati dari kepemilikan ,milik yang bukan sekadar hak, tapi tanggung jawab terbesar yang akan mampu melangkah melewati bayang-bayang itu, menggapai permata yang sejati.

Di dalam bilik persembunyian yang temaram, hanya diterangi oleh nyala lilin yang hampir padam, kami bekerja dengan hati-hati. Di atas meja kayu tua itu tergeletak dua benda yang tampak identik: Tasbih Nur Ijabah yang asli, berkilau lembut dengan cahaya keemasan yang hangat, dan sebuah replika yang kami ciptakan dengan keringat dan doa.

"Apakah energinya sudah setara?" tanya salah satu dari kami, suaranya berbisik agar tidak menembus dinding-dinding batu yang tipis.

"Sudah," jawabku sambil menutup mata, merasakan denyut nadi spiritual di kedua tasbih tersebut. "Aku telah memompa energi khodam penjaga ke dalam replika ini. Bagi indra batin orang biasa, bahkan bagi ahli sihir tingkat menengah, keduanya akan terasa sama berat, sama panas, dan sama bergetar. Mereka tidak akan bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu hanya dengan memegangnya."

Ini adalah taruhan besar. Yaktin Bin Askhor dan Sam'un Al Kahfi bukanlah musuh sembarangan. Mereka adalah murid-murid Nabi Musa AS, pewaris ilmu hikmah yang telah mengeringkan laut dan membelah gunung. Jika mereka mengetahui kita memegang Tasbih Nur Ijabah, mereka tidak akan datang dengan pedang, melainkan dengan ayat-ayat yang bisa membakar jiwa sebelum tubuh tersentuh. Bertarung langsung dengan mereka sama saja dengan bunuh diri. Oleh karena itu, kami membutuhkan waktu. Kami membutuhkan jarak. Dan kami membutuhkan kebingungan di pihak mereka.

"Apa jaminan bahwa mereka akan tertipu?" tanya rekan saya lagi, matanya masih waspada menatap pintu masuk.

"Bukan jaminan bahwa mereka tertipu selamanya," jawabku tegas. "Tapi jaminan bahwa mereka akan ragu sejenak. Dan dalam dunia persilatan dan kesaktian, keraguan sekecil apa pun adalah celah maut."

Sambil berbicara, jari-jariku merapikan butiran-butiran tasbih palsu. Di balik setiap butirannya, aku telah menanamkan benih energi khusus,sejenis GPS Spiritual. Ini bukan teknologi duniawi, melainkan ikatan batin halus yang terhubung langsung dengan pusat kesadaran kami. Selama tasbih itu berada dalam radius tertentu, atau bahkan jika dipindahkan ke dimensi lain, jejak energinya akan tetap terpeta di mata batin kami.

"Biarkan mereka merebutnya dan saling berebut," gumamku, seolah berbicara pada hampa udara. "Biarkan Yaktin dan Sam'un merasa menang. Biarkan mereka membawa pulang 'hadiah' itu dengan bangga. Karena saat itulah permainan sebenarnya dimulai."

Rencananya sederhana namun licik: Ketika mereka berhasil merebut tasbih palsu itu, ego mereka akan membuat mereka ingin memastikan kekuatannya. Mereka mungkin akan mencoba menggunakannya, atau bahkan memperebutkannya di antara sesama jika ada ketidakpercayaan. Atau lebih baik lagi, mereka akan membawanya  tempat suci untuk diverifikasi dan jika mereka saling berebut kami mengetahui posisnya . Dalam proses perpindahan itulah, kami akan melacak posisi mereka. Kami akan mempelajari pola gerak mereka, markas mereka, dan kelemahan pertahanan mereka tanpa harus berhadapan muka.

Kami tidak ingin perang frontal. Kami ingin perang gerilya spiritual.

"Mereka datang," tiba-tiba rekan saya berseru, telinganya menangkap getaran langkah kaki yang berat namun ringan di luar sana. Langkah kaki para pendekar yang menguasai angin.

Aku segera menyembunyikan Tasbih Nur Ijabah yang asli ke dalam lipatan bajuku bagian dalam, dekat dengan dada, sementara tasbih palsu kubiarkan ku pegang tangan kanan , seolah-olah kami sedang lengah.

"Inginkan," bisikku dalam hati, mengarahkan niat kepada Yaktin dan Sam'un yang semakin dekat. "Ambillah umpan ini. Jadikan ia beban yang akan menjerat lehermu sendiri."

Pintu bilik kami terbuka dengan hentakan tenaga dalam yang halus. Dua sosok berdiri di ambang pintu, siluet mereka tertutup kabut malam. Yaktin Bin Askhor dengan tatapan tajam seperti elang, dan Sam'un Al Kahfi dengan aura tenang namun mematikan.

"Kami mencium aroma cahaya dari sini," ucap Yaktin, matanya langsung tertuju pada tasbih yang kami bawa dan kami pegang. "Serahkan itu, atau kami ambil paksa."

Aku tersenyum tipis, pura-pura gemetar karena takut, padahal jantungku berdetak teratur dalam kalkulasi strategi.

"Ambillah jika kau bisa ," kataku, mengangkat tangan tanda menyerah. "Jika kalian mampu menanggung bebannya."

Sam'un melangkah maju, mengambil tasbih palsu itu. Ia meremasnya, merasakan getaran energi yang kami tanamkan. Wajahnya menunjukkan kepuasan sesaat. Ia tidak tahu, bahwa detik ia menggenggam tasbih itu, sebuah garis tak terlihat telah terbentang, menghubungkan nasib mereka dengan rencana kami.

Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini, bukan kekuatan otot atau ilmu tinggi yang akan menentukan pemenang, melainkan siapa yang lebih sabar menunggu lawan terperangkap dalam jebakan ilusinya sendiri.


Kamipun kembali ke hutan untuk mencari pusaka yang di amanah kepada kami belum selesai.Malam itu turun seperti tirai hitam yang berat, membungkus semua yang pernah aku kenal dalam keheningan yang mendalam. Di tengah gelap hutan yang tak tersentuh cahaya, kami bersembunyi, menyaksikan dengan naluri waspada sebuah pertarungan yang melampaui batasan dunia fana. Di atas langit yang gelap, dua sosok  pendekar dan ahli ilmu hikmah  saling  bertarung dan merebut  untuk mendapatkan tasbih Nur Ijabah dengan pasukan ghaib yang mengerikan, entitas-entitas yang bagaikan bayang-bayang neraka yang melintas antara bumi dan langit.
( Ilustrasi gambar pertarungan  pasukan ghaib Yaqtin Bin Askhor dan pasukan Sam'un Al Kahfi )

Pusaka Nur Ijabah, obyek perebutan yang menjadi pusat keinginan dan ambisi, berkilau samar-samar dalam cahaya remang. Kami tahu betul, di balik keindahannya yang memesona, tersembunyi kutukan dan rahasia yang bisa menggoncang jiwa sekaligus takdir para pemiliknya. Mereka yang mengincar pusaka itu bukan hanya sekadar saudara yang kehilangan arah, melainkan jiwa-jiwa yang terbakar nafsu, terpaut kepada takdir yang jauh lebih besar dari mereka.

Langit bergemuruh, bukan seperti badai yang biasa kami kenal, tetapi seperti alam sendiri yang mengamuk, memuntahkan amarahnya melalui cambukan petir yang menyilaukan dari pertarungan mereka. Petir itu bukan hanya sekedar cahaya atau suara, tapi seperti tamparan keras yang membelah ruang dan waktu. Dari ujung langit turun hujan panah api, seolah-olah bintang-bintang itu sendiri menolak untuk menjadi saksi bisu kekacauan ini. Setiap panah membakar gelap, menimbulkan kilatan api yang menari di udara sebelum mendarat dan menghilang di rerimbunan hutan.

Dari sudut tempat kami bersembunyi, dunia terasa terhenti. Kami, para pengamat yang tak berdaya, merasakan getaran kekuatan yang bukan milik dunia ini. Putaran pertempuran bagai tarian kosmis yang memisahkan arwah dan raga, antara cahaya dan bayang. Di antara mereka, saudara yang seharusnya bersatu, kini menjadi musuh, terhempas oleh api dendam dan keinginan yang tak terpadamkan saling berebut dan menunjukan kekuatan masing-masing siapa yang lebih kuat .

Keringat dingin mengalir di dahi kami. Kami menyaksikan, bukan hanya dengan mata, tetapi dengan jiwa yang terperangkap dalam keheningan malam yang penuh bahaya. Sementara itu, suara gemuruh itu kian mengaum, mencipta simfoni ngeri di kegelapan, membalut setiap detak jantung kami dengan ketegangan yang tak terelakkan.

Kehadiran pusaka ini, di balik kilaunya, sejatinya adalah cermin dari kerumitan dan kontradiksi manusia. Ia bukan hanya benda mati yang dapat diwariskan, tetapi simbol dari perang batin, penghimpun segala kemuliaan sekaligus kehancuran. Di malam itu, kukuhkan sebuah pemahaman baru: betapa pusaka pun bisa menjadi jurang yang memisahkan kasih sayang dan menjadi jembatan untuk kebinasaan.

Dalam hening malam setelah gelora pertempuran itu, kami tahu, apapun hasilnya, hidup takkan lagi sama. Kami terperangkap dalam sejarah yang terukir di udara, di cahaya petir dan api yang turun dari langit. Sebuah pengingat bahwa dunia ini meski tampak tenang, selalu menyimpan pertarungan abadi antara cahaya dan gelap ,antara harapan dan ketakutan, antara persatuan dan perpecahan.

Begitulah malam pekat itu mengajarkan kami bahwa di balik setiap pusaka, ada kisah yang lebih dalam dari sekadar kepemilikan; cerita tentang manusia dan kerapuhan jiwanya di tengah badai kehidupan yang terus menguji dan membentuknya. Dan kami,para saksi yang tersembunyi ,tak pernah lagi memandang pusaka Nur Ijabah dengan pandangan yang sama. Ia adalah tanda, panggilan, dan amanah sekaligus untuk umat akhir zaman, yang akan terus bergaung dalam jiwa kami sepanjang hayat.

Dalam kelamnya malam yang diwarnai dentuman senjata dan kilat yang syarat ilmu hikmah kelas tinggi, kami berdiri beku di balik reruntuhan batu tua, menyaksikan sebuah pemandangan yang jauh dari harapan dan penuh teka-teki. Dari langit yang pekat, jatuh sosok yang terlambat kami kenali ternyata sosok Sam’un Al Kahfi. Baju besi dan jubah yang dikenakannya adalah tanda yang tak dapat kami salahkan, meskipun rupa dan dari mana datangnya ia membawa pertanyaan lebih dalam daripada kegelapan yang menyelubungi kami.

Tubuhnya memeluk sebuah batang pohon yang tumbang, seperti menyingkirkan kenyataan yang menggigit dari udara malam yang dingin. Tersirat rasa sakit yang menusuk, dan dari posisi persembunyian kami yang terjaga, saya menangkap bayangan pukulan ilmu tenaga dalam yang mempunyai energi besar ,ilmu yang keluaran Yaqtin Bin Askhor, lawan yang kami semua anggap sebagai mahir ahli ilmu hikmah dan tanpa ampun. Tubuhnya  gemetar, mengerang, lalu sebuah letupan besar menghancurkan tubuh Sam'un Al Kahfi meregang ke dalam kobaran api yang seolah melahap seluruh wujudnya menjadi debu dan kenangan yang rapuh dan hilang tanpa bekas yang tersisa hanyalah abu dan kobaran api di tengah hutan yang sepi .

Tak berani lagi menanggung bobot kegetiran yang menyelimuti kami, kami berlari menjauh, hingga deru peperangan yang tadinya memenuhi udara pun menjadi sebuah sunyi yang menghantui. Dalam bisikan hati, saya menoleh ke teman di sebelahku, pertanyaan itu terucap lirih, hampir tenggelam oleh hembusan angin malam: “Apakah peperangan ini sudah selesai?”

Malam itu, bukan hanya langit yang terbakar. Bagi kami, jiwa yang bertarung antara harapan dan kenyataan, setiap detik adalah ambang batas antara kenangan dan kehilangan. Sosok yang jatuh itu bukan hanya pria yang kami kenal, melainkan legenda yang hidup dan mati dalam detak waktu yang berdentang tanpa ampun yakni Sam’un Al Kahfi, yang di bawah serangan ilmu yang tajam, harus belajar bahwa kekuatan bukanlah jaminan keabadian.

Ketiadaan gema pertempuran di angkasa malam itu mengisi kami dengan sesuatu yang lebih berat daripada rasa takut ,sebuah keheningan yang memaksa setiap jiwa untuk memikirkan kembali batas antara hidup dan mati, keberanian dan kepasrahan. Ada sesuatu yang hilang, bukan hanya dalam medan pertempuran, tapi dalam relung hati kami yang mulai menyadari bahwa peperangan terbesar bukanlah yang tampak di depan mata, melainkan yang berlangsung di dalam sanubari yang tak terlihat.

Kami berjalan dalam hening, membiarkan asap dan debu sejarah yang baru saja terukir meresap ke dalam relung paling dalam kesadaran kami. Sam’un, sang murid Nabi Musa AS di tali langit yang kini hanyalah cerita, menjadi simbol keabadian yang rapuh, sementara kami, yang masih berdiri, harus berhadapan dengan dunia yang berubah, di mana setiap jatuh adalah awal dari pertanyaan yang tak kunjung usai.

Dalam perjalanan pulang, langkah kami berat tertimpa bayang-bayang yang membentang tanpa ujung. Dan di sanalah, dalam kegelapan yang mendalam, bisikan bukannya hilang, tapi berubah menjadi doa yang tak terucap: semoga terang yang pernah dimiliki oleh Sam’un tak padam bersama tubuhnya yang meledak itu, melainkan menjadi lentera di jalan kami yang masih harus berjalan.

Peperangan malam itu mengajarkan kami, bahwa dalam setiap amarah dan luka yang terbuka, ada fragmen kebenaran yang tak boleh dilupakan. Bahwa terkadang kekalahan bukanlah akhir, tapi peringatan untuk menata kembali makna keberanian dan harapan yang sesungguhnya. Dan meskipun suara gemuruh telah mereda, gema pertempuran dalam diri kami baru saja dimulai.

Kami melanjutkan perjalanan kami, meninggalkan bayang-bayang kekalahan yang membekas pada Yaqtin Bin Askhor, yang dengan angkuhnya membanggakan kemenangan yang membunuh darah dagingnya sendiri. Di balik sorot matanya, tergurat sebuah ambisi yang tak pernah mengenal puas, sebuah kerakusan jiwa yang merobek ikatan darah demi tahta yang rapuh di atas dunia yang fana ini.

Yaqtin, dengan ego yang membumbung setinggi langit, membiarkan dendam dan keinginannya membentuk sebuah mahkota duri yang menusuk hatinya sendiri. Ia percaya bahwa dunia adalah panggung bagi dirinya semata, dan sejarah akan mengukir namanya sebagai penguasa tertinggi, tanpa peduli harga yang harus dibayar, tanpa mendengar erangan saudara yang direnggut nyawanya dalam perebutan kekuasaan itu.

Namun, kami berjalan ke depan, membawa sisa-sisa harapan dan kepercayaan yang telah dilupakan dalam kebisingan perang dan langkah-langkah penuh dendam. Setiap jejak yang kami tapaki adalah pengingat akan betapa rapuhnya kekuasaan yang didasarkan atas kebencian dan keangkuhan, betapa hampa kemenangan yang mengorbankan kasih dan persaudaraan.

Di tengah perjalanan ini, angin berbisik pelan—mengisahkan kisah-kisah lama tentang para pemimpin yang terlena dalam kesombongan, yang akhirnya tenggelam dalam gelapnya sejarah yang dilupakan. Kami tahu, bahwa meskipun Yaqtin merasa bangga kini, kebanggaan itu adalah sebuah fatamorgana yang akan hilang seiring waktu, meninggalkan hanya kehampaan yang memekakkan.

Kami melangkah lebih jauh, dengan hati yang berat namun penuh tekad, meyakini bahwa dunia ini bukan milik satu insan saja, melainkan milik bersama, yang harus dijaga dengan kerendahan hati dan kasih sayang. Ambisi yang berlebihan mungkin membakar semangat sesaat, namun pada akhirnya hanya akan menyisakan abu dari kehancuran yang tak terhingga.

Kami melanjutkan perjalanan kami, meninggalkan bayang-bayang kekalahan yang membekas pada Yaqtin Bin Askhor, yang dengan angkuhnya membanggakan kemenangan yang membunuh darah dagingnya sendiri. Di balik sorot matanya, tergurat sebuah ambisi yang tak pernah mengenal puas, sebuah kerakusan jiwa yang merobek ikatan darah demi tahta yang rapuh di atas dunia yang fana ini.

Yaqtin, dengan ego yang membumbung setinggi langit, membiarkan dendam dan keinginannya membentuk sebuah mahkota duri yang menusuk hatinya sendiri. Ia percaya bahwa dunia adalah panggung bagi dirinya semata, dan sejarah akan mengukir namanya sebagai penguasa tertinggi, tanpa peduli harga yang harus dibayar, tanpa mendengar erangan saudara yang direnggut nyawanya dalam perebutan kekuasaan itu.

Namun, kami berjalan ke depan, membawa sisa-sisa harapan dan kepercayaan yang telah dilupakan dalam kebisingan perang dan langkah-langkah penuh dendam. Setiap jejak yang kami tapaki adalah pengingat akan betapa rapuhnya kekuasaan yang didasarkan atas kebencian dan keangkuhan, betapa hampa kemenangan yang mengorbankan kasih dan persaudaraan.

Di tengah perjalanan ini, angin berbisik pelan ,mengisahkan kisah-kisah lama tentang para pemimpin yang terlena dalam kesombongan, yang akhirnya tenggelam dalam gelapnya sejarah yang dilupakan. Kami tahu, bahwa meskipun Yaqtin merasa bangga kini, kebanggaan itu adalah sebuah fatamorgana yang akan hilang seiring waktu, meninggalkan hanya kehampaan yang memekakkan.

Kami melangkah lebih jauh, dengan hati yang berat namun penuh tekad, meyakini bahwa dunia ini bukan milik satu insan saja, melainkan milik bersama, yang harus dijaga dengan kerendahan hati dan kasih sayang. Ambisi yang berlebihan mungkin membakar semangat sesaat, namun pada akhirnya hanya akan menyisakan abu dari kehancuran yang tak terhingga.

Yaqtin Bin Askhor mungkin kini memanjakan egonya, membiarkannyaberkilauan dalam sorotan yang semu, tapi kami memilih untuk tak terperangkap dalam pusaran itu. Kami memilih guna membawa cahaya yang lembut, yang mampu menerangi gelapnya hati manusia, yang mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh keangkuhan dan hasrat akan kekuasaan.

Perjalanan kami masih panjang, melewati lembah kekelaman dan puncak harapan, menyusuri lorong waktu yang penuh dengan pelajaran tentang keadilan dan kasih. Dalam sunyinya jalan, kami mendengar gema pepatah lama: "Yang kuat bukanlah yang menundukkan saudara dengan pedang, tapi yang mampu menaklukkan ego dan menumbuhkan cinta."

Biarlah Yaqtin Bin Askhor tenggelam dalam kebanggaannya yang membunuh, sambil kami terus melangkah dengan ringan, membawa kebaikan yang nyata, membenahi dunia yang telah terluka oleh tangan-tangan serakah. Ambisi tanpa jiwa hanyalah bayang-bayang yang cepat hilang tertiup angin, tapi harapan dan kasih sayang adalah api abadi yang akan terus menerangi masa depan.

Perjalanan kami masih panjang, melewati lembah kekelaman dan puncak harapan, menyusuri lorong waktu yang penuh dengan pelajaran tentang keadilan dan kasih. Dalam sunyinya jalan, kami mendengar gema pepatah lama: "Yang kuat bukanlah yang menundukkan saudara dengan pedang, tapi yang mampu menaklukkan ego dan menumbuhkan cinta."

Biarlah Yaqtin Bin Askhor tenggelam dalam kebanggaannya yang membunuh, sambil kami terus melangkah dengan ringan, membawa kebaikan yang nyata, membenahi dunia yang telah terluka oleh tangan-tangan serakah. Ambisi tanpa jiwa hanyalah bayang-bayang yang cepat hilang tertiup angin, tapi harapan dan kasih sayang adalah api abadi yang akan terus menerangi masa depan.


∆ Peperangan Usai, Turunnya Pusaka Kelima & Munculnya Bal'am bin Ba'ura Inilah Pesan Dan Do'a Bal'am bin Ba'ura Bagi Pemegang Pusaka Langit Alkamal Al Mujab di Fase Akhir Zaman..

Bal'am bin Ba'ura adalah ulama Bani Israil pada zaman Nabi Musa AS yang terkenal alim dan doanya mustajab (dikabulkan) karena mengetahui Ismul A'dzam & Pemegang Pusaka Langit Alkamal Al Mujab Yang Pernah Terjatuh Dalam Kesalahan & Godaan Duniawi. Inilah yang belum banyak di ketahui oleh kalyak ramai .
( Wujud permata Alkamal Al Mujab , bukan batu permata biasa tapi simpanan langit yang berasal dari Nurul Muhammad yang pernah di pegang dan menjadi rahasia terbesar Bal'am bin Baura ,Dan nanti ketika Yakjuj & Mak'juj  turun seperti buih lautan,ia tidak akan bisa melihatmu dan juga tidak bisa mendeteksi dan tidak mencium bau darah di dalam tubuhmu , keberadaanmu karena engkau akan mendapat perlindungan mutlak dari Allah SWT dan selamat dari marabahaya )

Betapa beratnya ujian yang datang silih berganti…

Kami melanjutkan perjalanan yang semakin penuh tantangan. Bukan hanya medan yang semakin sulit ,hutan Gunung Lawu yang lebat dan angker seolah hidup dengan kehendak sendiri, menyembunyikan setiap jejak yang mungkin mengarah pada keberadaan Permata Alkamal Al Mujab.

Hujan masih turun deras, menyiram setiap helai daun dan membuat setiap langkah menjadi lebih berat dari sebelumnya. Lumpur menempel pada sepatu dan celana kami, sedangkan angin yang kencang terus menerpa tubuh yang sudah lelah berjalan. Petir menyambar di kejauhan, menerangi langit yang gelap sekali sejenak, dan suara guntur bergema seperti lautan yang bergulung ,seolah alam sendiri sedang berperang untuk menghalangi jalan kami.

Kami berjalan dengan hati-hati, menjaga jarak satu sama lain agar tidak tersesat di tengah kegelapan yang membanjiri. Tidak lama kemudian, dari balik pepohonan yang rimbun muncul sosok yang sangat mirip dengan salah satu dari kami , dengan bentuk yang sama persis, gerakan yang sama, bahkan suara yang tak bisa dibedakan. Ia tertawa terbahak-bahak dengan suara yang menusuk, sambil mengoceh kata-kata yang menyakitkan.
 
"Ah, aha ha…" Tawa itu terdengar seperti guntur yang mengganggu ketenangan, penuh dengan kesenangan yang jahat. "Lihatlah mereka yang berpura-pura mulia, yang berpura-pura mencari kebaikan padahal dalam hati mereka sama saja dengan kita, haus akan kekuasaan dan pujian!"
 
"Siapa sebenarnya dirimu, kenapa engkau menyerupai diriku? Kenapa engkau diam, makhluk , jawablah!" seru saya dengan suara yang penuh tegas, meskipun hati kami tidak bisa tidak terkejut dengan kemiripan yang luar biasa.
 
Bukannya menjawab, sosok itu langsung melesat dengan kecepatan yang tinggi, mengeluarkan energi sihir yang mengerikan berupa gumpalan api yang membara. Kami terpaksa mundur cepat, namun sebagian dari serangannya masih menyentuh tubuh kami, membuat kulit terasa terbakar dan membuat kami terpental ke belakang. Ia tertawa lagi dengan bangga, menginjak tanah dengan kaki yang penuh dengan kesombongan.
 
" Apa ilmu yang kau keluarkan!" ujarnya dengan nada yang penuh ejekan, sambil terus menyerang dengan berbagai bentuk energi yang berbahaya.
 
Kami memutuskan untuk tidak membalas serangan pada awalnya , biarkan ia mengeluarkan semua kekuatan yang ada padanya, biarkan ia menghabiskan energi untuk hal yang sia-sia. Saat ia mulai terlihat lemah, gerakannya menjadi lambat dan serangannya tidak lagi sekuat semula ,kami pun mengambil kesempatan untuk menyerang dengan kekuatan yang bukan berasal dari kemarahan, melainkan dari keyakinan yang tulus terhadap amanah yang kami emban.
 
Dengan gerakan yang tenang namun penuh kekuatan, kami lepaskan energi yang bersumber dari hati yang bersih dan kesadaran akan Yang Maha Kuasa. Sosok itu mulai meleleh seperti lilin yang terkena panas, dan dalam sekejap ia lenyap tanpa jejak, hanya menyisakan suara angin yang masih bergentayangan di antara pepohonan.
 
Namun sebelum kami bisa bernapas lega, sebuah energi yang jauh lebih besar datang dengan tiba-tiba dari arah yang tidak terduga. Serangan itu begitu kuat hingga kami terlempar jauh ke belakang, tubuh kami menyentuh tanah yang basah dan berlumpur. Hujan semakin deras, angin semakin ganas, dan kegelapan kembali menutupi segala sesuatu dengan kedalaman yang membanjiri.

Tiba-tiba, seberkas cahaya putih yang sangat terang turun dari langit, menerangi seluruh area di sekitar kami. Cahaya itu begitu hangat dan menenangkan, membuat hujan dan angin perlahan mereda. Dan di tengah cahaya itu berdiri sosok teman kami yang kami kenal , sebelumnya kami tinggalkan untuk bermeditasi di tenda ,wajahnya tenang dan penuh dengan kedalaman kesadaran.Ia adalah teman kami Probo Sang Pengemban Amanah.

Kami berdiri perlahan, mata kami penuh dengan kagum dan rasa syukur yang mendalam. "Subhanallah…" ucap kami dengan suara yang penuh kekaguman, tidak percaya bahwa teman kami telah muncul tepat pada saat yang paling dibutuhkan. Cahaya yang terpancar dari tubuhnya bukanlah cahaya yang menyilaukan, melainkan cahaya yang membawa kejelasan dan harapan ,memberi kami kekuatan untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang ini.

Kami masih terpana melihat bagaimana hujan dan badai yang sebelumnya begitu dahsyat kini benar-benar reda, menyisakan udara yang segar dan tanah yang basah namun tenang. Mata kami terus menatap teman kami ,Mas Probo ,yang berdiri dengan tenang di tengah cahaya yang masih menyelimuti tubuhnya.
 
"Sebenarnya Mas, saya hampir tidak percaya mataku sendiri," ucap kami dengan suara yang sedikit gemetar karena kagum. "Hujan dan badai yang begitu hebat tadi… tiba-tiba saja reda begitu kamu datang."
 
Ia mengangguk perlahan, kemudian mulai menceritakan apa yang terjadi di tenda. "Ketika aku sedang bermeditasi untuk mencari petunjuk, tiba-tiba angin dengan kekuatan luar biasa menerjang tenda ,sampai-sampai tenda itu terbawa jauh dan menghilang. Namun tepat pada saat itu, seberkas cahaya turun dari langit dengan sangat terang, dan aku bisa menangkapnya dengan tangan. Cahaya itu berubah menjadi bungkusan kain putih yang berbau wangi kasturi yang begitu harum dan menenangkan. Dan ketika aku membukanya ,di dalamnya ada Permata Alkamal Al Mujab yang selama ini kita cari!"
 
Kami mendengarkan dengan penuh perhatian, mata kami tidak bisa bergerak dari permata yang kini ia pegang dengan hati yang sangat lembut. "Yang lebih luar biasa lagi," lanjutnya, "saat itu pohon-pohon di sekitar tenda tumbang dan roboh akibat kekuatan angin. Namun setelah hujan dan angin reda, semua pohon itu berdiri tegak kembali , seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku sendiri masih heran melihatnya."
 
Tak berselang lama, cahaya putih yang lebih terang muncul dari arah kejauhan, dan dari dalamnya muncul sosok yang mulia berjubah putih yang memancarkan kedamaian dan keanggunan. Kami segera mengucapkan salam dengan penuh hormat, "Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh."
 
"Salam juga untukmu, hamba-hamba yang penuh dengan kesadaran. Walaikum salam warahmatullahi wa barakatuh," jawabnya dengan suara yang meresap ke dalam sanubari.
 
"Kalau boleh tahu siapa Tuan? Sepertinya saya tak asing dengan wajah Tuan… maafkan kami jika kurang sopan," ujar salah satu dari kami dengan rendah hati.
 
Sosok itu tersenyum lembut, lalu berkata dengan nada yang penuh makna, "Wahai manusia yang diberkati cahaya , dengan puji dan syukur kepada Yang Maha Besar Allah SWT, Rabb semesta alam yang mengabulkan doaku yang terakhir ini. Wahai manusia, terimalah salamku ini. Terima kasih ,engkau telah terpilih bukan dengan kehendakmu sendiri, melainkan oleh kehendak-Nya."
 
Kami merasa sangat rendah hati mendengar kata-katanya, lalu dengan penuh kerendahan hati berkata, "Mohon maafkan kami, Tuan. Kami hanya manusia biasa, bukan siapa-siapa. Siapakah sebenarnya Tuan yang mulia ini?"
 
"Bukan niatku untuk menyanjungmu terlalu tinggi, wahai pengemban amanah. Engkau memang hamba yang penuh dengan kekurangan , namun itulah keindahannya, karena hanya yang menyadari kekurangannya yang layak untuk menjaga cahaya yang tak terbatas." Ia tersenyum lagi dengan penuh kasih sayang, kemudian memperkenalkan diri dengan jelas, "Sungguh mulia adabmu yang rendah hati ini. Perkenalkan , Aku Bal'am bin Baura."
 
Kami terdiam sejenak, menyadari bahwa sosok yang berdiri di hadapan kami adalah sosok yang pernah disebutkan oleh Nabiyullah Khidir AS, yang menjadi salah satu penjaga Permata Alkamal Al Mujab dalam sejarah yang panjang. Hati kami penuh dengan rasa kagum dan rasa syukur yang mendalam, menyadari bahwa perjalanan yang penuh ujian ini akhirnya membawa kami pada saat yang telah ditentukan oleh Yang Maha Menentukan.

"Wahai manusia , sebab kerendahan hatinu lebih bercahaya dari pada pujian panjang . Ketahuilah pertemuan ini bukanlah takdir yang di sengaja oleh langkah kaki , melainkan takdir yang di gerakkan oleh doa . Aku adalah manusia yang dahulu yang pernah mengkhianati nikmat Allah SWT," ujar Bal'am am bin Baura .

Dengarkanlah dengan hati yang tenang, dahulu Aku di anugrerahi Allah SWT suatu karunia yang amat agung , yaitu permata Alkamal Al Mujab . Namun karena tergelincir oleh hawa nafsu dan tertipu oleh dunia ,aku mengingkari amanah itu ,pada akhir kesadaranku ,saat tirai penyesalan tersingkap . Aku berdoa," Ya Allah SWT jika karunia itu tak layak lagi berada padaku , maka tetapkanlah ia kelak di temukan oleh manusia berhati suci ." 
Beribu-ribu tahun Aku menunggu . Waktu berlalu seperti debu tertiup angin hingga kini Allah SWT mengabulkannya ," ujar Bal'am bin Baura.

Mohon maaf Tuan, apakah benda yang kami bawa ini permata Alkamal Al Mujab,Tuan ? tanya Pengemban Amanah.
Benar ," jawab Bal'am bin Baura.
" Jika demikian, mengapa kami, bukan masih banyak hamba yang lebih alim ,lebih Sholeh lebih layak daripada kami ," tanyanya Sang Pengemban Amanah.
" Wahai manusia , Allah SWT tidak memilih kemasyhuran amal  , tetapi karena kejernihan niat . Kesucian bukan berarti tanpa dosa , melainkan kesetiaan untuk kembali , setiap kali tergelincir . Engkau datang tanpa meminta . Engkau berjalan tanpa menyombongkan . Engkau diam tanpa menuntut . Itulah tanda amanah .
" Jika permata itu begitu agung, bahaya sekali jika jatuh ke tangan manusia , Tuan ? tanya Sang Pengemban Amanah.
Benar, karena itu Aku tidak menyerahkannya kepada kekuasaan melainkan kepada adab . Ketahuilah, permata Alkamal Al Mujab  , bukanlah batu yang berkilau , melainkan himpunan dari Ismu Adhom , nama-nama agung  yang bila di sebut dengan haknya , doa di kabulkan seketika oleh Allah SWT . Namun ia hanya bekerja kepada hati yang bersih dari kesombongan . Jangan jadikan wasiat sebagai alat kebanggaan , sebab karunia adalah ujian yang paling halus . Jangan tergesa meminta ijabah , Allah mengabulkan bukan karena suara, tetapi karena  kejujuran . Rawat adab sebelum ilmu . Ilmu tanpa adab adalah cahaya yang membakar . Kembalikan semua hasil kepada Allah SWT . Jangan katakan Aku , katakanlah Dia , permata itu indah daripada jutaan malam dan lebih berharga daripada tangis seorang yang suci . Namun bila di simpan oleh hati yang angkuh , ia akan menjadi beban yang menenggelamkan . 

Doaku , selalu menyertaimu sebelum, langkahmu sampai di sini Lihatlah, manusia, Allah SWT tidak membutuhkan perantara , namun Dia memuliakan adab perantara. Berjalanlah , dengan takut dan harap , jika engkau lupa kembalilah .

Wahai, manusia sebelum engkau memikul Ismu Adhom  , ketahuilah lebih dulu apa itu amanah?  tegas Bal'am bin Baura.
Amanah bukanlah beban yang di letakkan di pundak , melainkan cahaya yang di titipkan di hati. Dan cahaya jika hati keruh maka akan membakar , bukan menerangi .
Aku Bal'am bin Baura telah merasakan bagaimana nama yang agung bisa menjatuhkan seorang hamba ke jurang kehinaan ketika adabnya runtuh. Maka dengarkanlah dengan penuh kesadaran , bukan rasa ingin memiliki ," ujar Bal'am bin Baura dengan tegas.

Wahai Sang Pengemban Amanah, Ismu Adhom tidak pernah menjadi milik manusia , ia bukan pusaka yang di wariskan , bukan ilmu yang di taklukkan dan bukan kekuatan yang bisa di pamerkan , ia adalah titipan Allah SWT yang di letakkan pada hati yang merasa tidak layak .
Barangsiapa yang merasa memiliki , maka saat itu pula ia telah kehilangan hakekatnya , sebab yang memiliki hanyalah Allah SWT. Dan yang di pilih hanyalah hamba yang siap lenyap dalam kehendakNya .
Ketahuilah, gunung menolak amanah karena takut hancur , langit menunduk karena sadar ketidakmampuannya , bumi gemetar karena tahu akibatnya . Namun manusia menerimanya bukan karena kuat , melainkan lupa akan kelemahannya . Maka jika engkau di berikan amanah permata Alkamal Al Mujab , jangan pernah merasa aman , rasa aman adalah awal dari kelalaian dan kelalaian adalah pintu pengkhianatan yang paling halus.

Permata Alkamal Al Mujab itu mampu menggerakkan langit ,namun adalah yang menjaga agar langit tidak runtuh menimpa pemiliknya . Lebih baik doa tidak terkabul tetapi adab terjaga , daripada doa terkabul namun adab runtuh , karena doa yang tidak terkabul masih menyelamatkanmu  ," tegas Bal'am bin Baura .
Sedangkan doa yang tanpa adab akan menghancurkanmu perlahan . Jika engkau ingin apakah seseorang layak memikul permata Alkamal Al Mujab . Lihatlah bukan pada lisannya , ataupun bentuknya melainkan pada keheningannya.
Orang yang layak tak tergesa meminta doa di kabulkan , tak bangga saat doanya di Ijabah ,tak sedih saat doanya di tunda , tak merasa lebih dekat kepada Allah SWT daripada yang lain.

Ia berdoa seakan tidak di dengar , namun yakin sepenuhnya bahwa Allah SWT Maha Mendengar. Jika suatu hari, engkau melihat keajaiban terjadi melalui doamu , janganlah engkau berkata," Ini karena permata Alkamal Al Mujab , katakanlah pada hatimu , ini karena Allah menutup aibku hari ini."

Dan jika suatu hari tidak terjadi apa- apa , jangan engkau kecewa  , mungkin Allah SWT sedang menyelamatkanmu dari dirimu sendiri. Ingatlah baik-baik Alkamal Al Mujab adalah cahaya , amanah adalah benjana , adab adalah penutupnya . Tanpa adab cahaya akan membakar pemiliknya.

Wahai pemegang amanah, ketahuilah antara hamba dan permata Ismu Adhom tidak pernah ada jarak , yang ada hanyalah hijab , hijab itu bukan dinding batu melainkan tirai halus dari rasa , di buat dari benang-benang halus yang nyaris tak terlihat.

Ismu Adhom, tidak ada jarak seperti tadi yang saya sampaikan , bangga, harap , takut dan ingin di puji . Ismu Adhom itu laksana mata air di puncak gunung , ia jernih, dingin dan suci . Namun siapa yang mendaki dengan langkah tergesa , napas berat oleh ambisi akan melihat air itu keruh , bukan karena mata airnya berubah , melainkan karena debu dari kakinya sendiri jatuh ke dalamnya. 
Hijab pertama  adalah rasa memiliki , ia seperti seorang musafir yang menemukan lentera di malam gelap , lalu berkata , " Ini milikiku ," padahal lentera itu hanya di titipkan , agar jalan tidak tersesat . Begitu ia menggenggam terlalu erat , api lentera membakar  telapak tangannya .
Dan malam kembali menelannya .
Hijab berikutnya menyerupai bayangan di permukaan air , ketika angin tenang , bayangan tampak indah . Namun saat engkau mencoba meraih bayangan itu , air beriak dan bayangan lenyap .
Begitulah doa yang di kejar dengan rasa ingin di pandang. Semakin di kejar semakin menjauh .

Wahai,pemikul amanah, ketahuilah ujian terbesar Ismu Adhom bukan terjadi di tempat sunyi , melainkan di tengah dunia yang riuh . Bukan saat kau sujud dalam gelap , melainkan saat engkau berdiri di hadapan manusia , karena sunyi melatih kejujuran , namun dunia menguji ketulusan. Ujian itu datang, bukan dengan wajah menakutkan , melainkan dengan senyum yang memikat . Ia tidak mengetuk pintu dengan kekerasan , melainkan merasuk perlahan melalui celah rasa pantas ," ia membisikan engkau berbeda , engkau terpilih , engkau lebih dekat ," dan ketika bisikan itu di terima tanpa istighfar , maka saat itu pula 
, amanah mulai berubah menjadi fitnah yang halus .
Ismu Adhom Alkamal Al Mujab , seperti wewangian paling lembut . Ia hanya tercium oleh hati yang tenang.Namun ketika engkau berusaha menyebarkan dengan tangan sendiri , aromanya justru hilang 
Banyak orang di uji bukan dengan kegagalan , melainkan dengan keberhasilan yang terlalu cepat . Ada pemikul amanah yang di uji dengan pujian manusia . Ia seperti seorang yang berjalan membawa kendi air di atas kepala ,selama ia.merunduk airnya utuh,namun saat ia mendongak , karena di panggil dan puji , setetes demi setetes air itu tumpah , tanpa suara tanpa di sadari . Begitulah pujian bekerja pada amanah , tidak merampas sekaligus melainkan mengurangi perlahan hingga kosong .

Wahai pemiikul amanah, Aku berharap dengan adanya permata Alkamal Al Mujab , ketika ia benar-benar jatuh di tangan yang tepat, manusia masih sudi mendengarkan ucapanku yang telah ku sampaikan  dengan segala keterbatasan kata .
Ingatlah, permata itu bukan sekedar cahaya pengabul doa . Ia adalah tanda , ia adalah isyarat , ia adalah amanah bagi sebuah zaman..
Ketahuilah, permata itu akan muncul di hadapan manusia ketika dunia mulai retak oleh keserakahan . Ketika persaudaraan menipis oleh perbedaan , dan ketika hati - hati lelah oleh panjangnya peperangan , baik yang tampak oleh mata, maupun yang tersembunyi di dalam dada .
Ia di hadirkan bukan untuk di pamerkan kekuatan , melainkan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang nyaris putus harap .

Permata itu akan menjadi sebab dengan izin Allah SWT , terangkatnya derajatnya mereka yang tertindas , hingga kefakiran tidak lagi menundukkan harga diri . Ia akan mengusap penderitaan , mencabut nikmat sakit dari tubuh yang sabar dan menjadi penawar bagi luka yang lama di pendam .
Ia akan membuka tabir batin sehingga manusia bisa melihat dengan bashirah .
Melihat bukan untuk menghakimi dan ia akan terus mengalirkan kebaikan demi kebaikan , selama ia berada di tangan yang menjaganya dengan adab .

Dengarkanlah, baik-baik wahai manusia , Alkamal Al Mujab , ini tidak memilih tangan yang kuat , tidak memilih suara yang lantang  dan tidak memilih nama yang masyhur , ia.memilih hati yang takut melukai , jiwa yang gemetar saat di puji dan dada yang lapang ketika di uji .
Jika suatu hari nanti , engkau melihat ke ajaiban  mengalir darinya . Janganlah engkau terpesona hingga lupa bersujud .
Jika suatu hari nanti engkau melihat manusia berbondong -bondong mendatangimu , karena permata itu .
Ingatlah, mereka datang padamu, melainkan harapan yang Allah SWT titipkan , sementara di sisimu.

Kini dengarkan doaku wahai manusia," Doa ,doa seorang pendosa yang menyesali langkahnya dan berharap pada keluasan Rahmat TuhanNya. Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui rahasia yang tampak maupun tidak nampak, jika permata Alkamal Al Mujab ini , Engkau izinkan hadir di tangan manusia , maka jadikanlah ia sebab kebahagiaan, bukan sebab kesombongan . Jadikanlah ia cahaya yang menenangkan, bukan api yang membakar . Angkatlah mereka yang terhina tanpa menjatuhkan yang lain . Sembuhkanlah dengannya tubuh-tubuh yang sakit dan hati-hati yang terluka .
Bukakanlah dengannya penglihatan batin agar manusia melihat kebenaran dengan kasih , bukan dengan angkuh . Dan lindungillah pemikulnya dari godaan merasa mampu , dari bisikan mereka , bisikan merasa istimewa , serta dari ujian lupa bahwa semua ini hanyalah titipan .
Ya Allah, Aku titipkan permata Alkamal Al Mujab ini , kepada umat manusia , sebagai penebusan dosa ku , sebagai saksi penyesalan ku dan sebagai harapan ku agar Engkau memaafkan hambamu yang dahulu engkau muliakan , namun gagal menjaga . Jika engkau mencabutnya suatu hari , Aku ridho Ya Allah , jika Engkau menjaganya hingga akhir zaman , Aku bersyukur , yang ku minta hanyalah satu , jangan kau biarkan permata ini menjadi manusia jauh dari Mu . "

 Inilah doa penyesalan dan rasa bersalah Bal'am bin Baura yang hidup sezaman dengan Nabi Musa AS. dengan tangisan penyesalan dan dengan hati yang tunduk atas kesalahan yang pernah ia lakukan.

Bila engkau kelak memimpikannya, jangan kejar kilaunya , kejar adab yang menjaganya , karena Alkamal Al Mujab bukan untuk di miliki , melainkan untuk menyelamatkan . Dan ketahuilah, barang siapa yang memikul dengan kerendahan akan di jaga oleh langit . Siapa yang menjaganya dengan takut dan cinta akan di jaga oleh Allah SWT sendiri . Aku titipkan permata Alkamal Al Mujab kepadamu,itu adalah pengorbanan terakhir ku untuk kalian sebelum diriku kembali ke Robb ku . Baiklah,Aku rasa sudah cukup, waktu saatnya Aku kembali , Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh," ucap Bal'am bin Baura sebelum ia meninggalkan kami dan berganti dengan keheningan malam di hutan gunung Lawu yang sunyi.

∆. Pesan Malaikat Hafadzah ( malaikat penjaga yang diperintahkan Allah SWT untuk mengawasi manusia, menjaga dari depan dan belakang secara bergiliran siang dan malam  ) Bagi Pemegang Amanah Pusaka Langit Permata Alkamal Al Mujab.
( Ilustrasi gambar malaikat Hafazhah, malaikat yang menjaga dan mengiringinya manusia siang dan malam secara bergantian dan menyampaikan doa yang tulus seorang hamba kepada Allah SWT)

Saat kami bertiga berjalan beriringan, membawa pusaka langit permata Alkamal Al Mujab, energi aneh mulai merayapi kulit. Udara terasa lebih berat, dan langkah kaki seolah terpaku di tanah. Kami merasakan bahwa di dalam tanah yang kami pijak ini, bersemayam sebuah makam kuno, berusia ratusan tahun.
 
Menurut bisikan cerita yang beredar, di sanalah peristirahatan terakhir seorang bangsawan yakni Pangeran Purbaya, seorang tokoh yang hilang ditelan waktu. Anehnya, makam itu tak kasat mata, rata dengan tanah dan tertutup oleh rerumputan liar yang tumbuh subur. Masyarakat sekitar pun tak ada yang menyadarinya, meskipun jalan setapak itu sering mereka lewati setiap hari.
 
Seolah tabir misteri menyelimuti tempat ini, menyembunyikan sejarah dan kenangan dari mata yang tak peka. Kami tertegun, merasa terhormat sekaligus terbebani dengan penemuan ini, menyadari bahwa pusaka yang kami bawa telah membukakan mata batin kami, mengungkapkan rahasia yang selama ini tersembunyi di bawah lapisan tanah dan waktu.

Di hadapan pusaran yang tak kasat mata, kami bertiga duduk bersimpuh, melantunkan doa-doa yang mengalir dari hati untuk Pangeran Purbaya. Namun, di tengah khusyuknya munajat, terlintas sebuah gagasan yang berani, sebuah pemikiran untuk membangkitkan sang pangeran, membuktikan kehebatan pusaka langit yang kami bawa. Perdebatan pun pecah di antara kami, suara keraguan menggema.
 
"Tidak mungkin ia akan bangkit! Kita ini siapa? Kita bukan nabi, bukan pula wali," ujar salah satu dari kami, memadamkan api harapan. Namun, ada satu suara yang berani menyahut, dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Tiada yang tak mungkin di dunia ini. Tidak salah jika kita mencoba, bukan?" kata-katanya meyakinkan, menembus dinding keraguan yang kami bangun.
 
Dengan hati yang berdebar, dan napas yang tertahan, ia mengatupkan mata. Pusaka langit permata Alkamal Al Mujab memancarkan cahaya lembut dalam genggamannya. Lalu, dengan suara yang bergetar namun tegas, kami berucap, "Bismillah, dengan izin Allah, lewat Alkamal Al Mujab, bangkitlah engkau wahai makhluk ciptaan Allah, Kaf Ha Ya Ain Syod."ketika doa kami lantunkan dan terucap.
 
Seketika, malam yang gelap seolah terbelah. Langit bergemuruh hebat, mengoyak sunyi dengan dentuman guntur yang memekakkan telinga. Kilat petir menyambar, menerangi sekeliling kami dalam sekejap. Di antara percaya dan tidak, di antara gema yang masih membahana, sebuah retakan perlahan terbuka dari bumi. Dari celah itu, sesosok tubuh perlahan muncul, bangkit dari kuburnya. 
( Ilustrasi Malaikat Hafazhah, malaikat yang menjaga untuk melindungi manusia secara bergiliran dari depan dan belakang, siang maupun malam dan yang membawa doa yang layak di sampaikan kepada Allah SWT)

Pangeran Purbaya, yang ratusan tahun tersembunyi di bawah tanah, kini berdiri di hadapan kami, seolah baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Cahaya mata kami bertiga terpaku, menyaksikan keajaiban yang melampaui batas akal. Sebuah bukti nyata bahwa kuasa tak terbatas selalu hadir, di balik tabir alam yang paling misterius.

Suara asing itu memecah keheningan, dan di hadapan kami, Pangeran Purbaya berdiri tegak, memancarkan aura keagungan dan kebingungan. "Siapakah engkau yang telah memanggilku dari balik waktu?" tanyanya dengan nada penuh tanya. "Apa yang telah kalian lakukan padaku? Aku sangat terkejut dengan semua ini. Siapakah kalian sebenarnya? Aku merasakan sesuatu yang berbeda."
 
Dengan penuh hormat, salah seorang dari kami menjawab, "Maafkan kami, Baginda. Kami tidak memanggil. Kami hanya berdoa, menghaturkan doa untuk pusara Baginda. Mohon maaf, Baginda, siapakah diri Baginda?"
 
"Namaku Pangeran Purbaya. Sudah berabad-abad aku tertidur di tempat ini," jawabnya, matanya menelisik ke sekeliling, mencoba memahami situasi yang ada.
 
"Benda apakah itu, manusia? Getarannya bukan getaran dunia," tanyanya lagi, menunjuk ke arah pusaka langit permata Alkamal Al Mujab yang masih kami genggam.
 
"Maaf, Baginda. Ini hanya benda biasa, hanya sebuah amanah yang dititipkan kepada hamba. Bukan milik kami."
 
Pangeran Purbaya kembali bertanya, "Apakah engkau yang membangkitkanku?"
 
Dengan kerendahan hati, kami menjawab, "Bukan diri kami, Baginda. Hamba tak mampu menghidupkan seekor semut pun. Jika Baginda berdiri di hadapan kami saat ini, itu karena Tuhan Allah SWT ingin memberikan pelajaran kepada kita semua, Baginda."
 
Suasana hening sejenak, Pangeran Purbaya terdiam, merenungi kata-kata kami. Kehadirannya di malam itu bukan sekadar kebangkitan dari tidur panjang, melainkan bagian dari takdir yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

Pangeran Purbaya, dengan keagungan yang masih terpancar dari dirinya, kini merunduk, sebuah gesture yang mengejutkan kami. "Izinkanlah aku berlutut di hadapanmu, wahai manusia?" ujarnya dengan suara yang memecah keheningan. "Bukan sujud kepadamu, namun sujud kepada amanah yang engkau jaga. Karena tidak semua orang bisa memegang pintu langit."
 
Kami terkesima, hati kami didera rasa tak pantas. Dengan nada penuh penyesalan, salah satu dari kami menjawab, "Maafkan kami, Baginda. Hamba ini hanya manusia bodoh yang sering salah niat." Kata-kata itu mengalir jujur, cerminan dari kerendahan hati yang mendalam.
 
Senyum tipis terukir di wajah Pangeran Purbaya. Ia menatap kami dengan bijaksana. "Itulah yang membuatmu aman. Orang yang merasa bodoh, biasanya tidak mudah disesatkan," tuturnya, sebuah petuah yang menancap dalam sanubari. Di bawah langit yang sama, di hadapan makam yang baru saja terbuka, sebuah pelajaran berharga tentang kerendahan hati dan kemuliaan amanah terungkap, jauh melampaui usia dan zaman.

Dengan hati yang penuh hormat, salah seorang dari kami memberanikan diri bertanya, "Mohon maaf, Tuan. Kesaksian apa yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi kami, Pangeran?"
 
Pangeran Purbaya terdiam sejenak, lalu dengan suara yang menggetarkan, ia memulai, "Bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan hanya tirai yang memisahkan. Bahwa kekuasaan dunia hanyalah ilusi belaka." Ia melanjutkan dengan nada penuh peringatan, "Wahai manusia, jangan kau bangkitkan siapa pun lagi. Tidak semua ruh siap melihat dunia. Aku sendiri hampir menangis, betapa bisingnya dan penuh hiruk pikuknya zamanmu ini."
 
"Wahai manusia, sebelum aku kembali, izinkan aku bersaksi: kematian itu mengerikan, bukan karena sakitnya tubuh, tetapi karena terbukanya semua kebenaran." Ia berhenti sejenak, menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Di dunia, manusia bisa berdusta, bisa berpura-pura baik, bisa menyembunyikan niat jahat. Tetapi di alam kematian, tidak ada topeng, tidak ada gelar, tidak ada nama besar yang tersisa. Hanya satu: siapa dirimu yang sebenarnya."
( Tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan berkehendak untuk membangkitkan dan menghidupkan orang mati hidup kembali, gambar ilustrasi orang hidup kembali di buat oleh Seniman AI)

"Dulu, aku mati sebagai pangeran atau raja. Aku dikubur dengan kehormatan, orang-orang menangis, dan namaku dikenang. Tetapi ketika ruhku dicabut, tidak ada yang bisa menghalanginya, baik pasukan maupun sanak keluarga. Dan ketika kematian itu datang, aku melihat amal-amalku sendiri. Banyak amal yang aku lakukan bukan karena Allah SWT, tetapi karena ingin dipuji oleh manusia."
 
Namun, ia melanjutkan dengan nada syukur, "Ketika engkau membangkitkanku dengan amanah ini, ini adalah anugerah langit, anugerah Tuhan. Aku diberikan satu kesempatan lagi, bukan untuk hidup, melainkan untuk bertaubat dengan kesadaran yang penuh."
 
Mendengar kesaksian itu, hati kami tersentuh. Dengan suara lirih penuh penyesalan, salah seorang dari kami berucap, "Maafkan hamba, Pangeran."
 
Dengan khusyuk, kami bersama-sama berdoa, "Ya Allah, kembalikan Pangeran Purbaya ke alam-Mu. Terimalah taubatnya, ya Allah. Permata Alkamal Al Mujab, kembalilah ke tempatnya." Bersamaan dengan doa itu, cahaya putih bersinar terang, menembus kegelapan malam, lalu perlahan meredup dan kembali menyatu dengan tanah, mengantarkan Pangeran Purbaya kembali ke alamnya, meninggalkan kami dengan pelajaran abadi tentang kehidupan dan kematian.

Di bawah naungan langit yang kini kembali hening, kami bertiga terisak dalam sujud. Air mata mengalir deras, bukan karena kesedihan, melainkan karena keinsafan mendalam atas pelajaran berharga yang baru saja kami terima. Kehadiran Pangeran Purbaya, kebangkitannya yang misterius, dan kesaksiannya yang jujur telah membuka mata hati kami lebar-lebar.
 
Setiap kata yang terucap darinya bagai cambuk yang menyadarkan, menusuk relung jiwa yang selama ini mungkin terlelap dalam kesibukan duniawi. Kami menangis meratapi kesombongan yang mungkin pernah tersimpan, keserakahan yang tersembunyi, dan ketamakan yang tak disadari. Kami menangis untuk setiap amal yang dilakukan demi pujian manusia, bukan semata-mata karena-Nya.
 
Pusaka langit permata Alkamal Al Mujab yang kami pegang terasa semakin berat, bukan karena bobotnya, melainkan karena beban amanah yang semakin terasa nyata. Kami menyadari, bahwa perjalanan ini jauh dari sekadar mengumpulkan harta atau mencari kekuasaan. Ini adalah perjalanan penemuan jati diri, pembersihan jiwa, dan pencarian ridho Ilahi.
 
Dalam tangisan itu, terselip harapan baru, tekad yang bulat untuk berubah. Kami berjanji dalam hati, untuk menjadikan setiap detik kehidupan ini lebih berarti, untuk mengarahkan setiap langkah pada kebaikan, dan untuk senantiasa menjaga kebersihan hati di hadapan Sang Pencipta. Pelajaran dari Pangeran Purbaya tak akan kami lupakan, ia akan menjadi kompas yang menuntun kami di setiap jejak kehidupan.
(ilustrasi gambar malaikat Hafazhah yang turun dari langit yang memberikan pesan dan petuah kepada kami saat kami berada di pinggir hutan)

Setelah sujud yang penuh makna, kami bangkit dan melanjutkan perjalanan pulang. Hati kami terasa lebih ringan, namun juga lebih waspada, mengingat pesan-pesan mendalam dari Pangeran Purbaya. Malam semakin larut, dan jalan setapak yang kami lalui semakin sunyi.
 
Namun, saat kami mencapai pinggir hutan yang cukup lebat, keajaiban kembali terjadi. Seberkas cahaya terang tiba-tiba turun dari langit, membelah kegelapan malam dan menyinari kami dengan kehangatan yang menenangkan. Dari dalam cahaya itu, muncul sosok yang mempesona, memancarkan kedamaian dan kekuatan.
 
Sosok itu memperkenalkan dirinya sebagai Malaikat Hafazhah, penjaga dan pelindung yang diturunkan dari langit. Kehadirannya membuat kami tertegun, menyadari bahwa perjalanan kami ini tidak hanya dipenuhi dengan pelajaran dan cobaan, tetapi juga penjagaan dan bimbingan dari para makhluk Allah yang mulia. Malam ini, di pinggir hutan yang sunyi, kami kembali diingatkan bahwa kami tidak pernah sendirian, selalu ada kekuatan yang lebih besar yang melindungi dan mengarahkan kami di setiap langkah kehidupan.

Cahaya itu semakin memancar, menyinari wajah kami dengan kehangatan yang menenangkan. Sosok yang memperkenalkan diri sebagai Malaikat Hafazhah itu berkata dengan suara lembut namun penuh kekuatan, "Assalamualaikum, wahai manusia penjaga pusaka langit. Perkenankan diriku memperkenalkan diri. Kami adalah Malakul Hafazhah, barisan malaikat penjaga manusia yang diamanahkan oleh Yang Maha Agung untuk melindungi anak cucu Adam dari marabahaya, baik yang tampak oleh mata maupun yang tersembunyi di balik tabir alam."
 
Mendengar perkenalan itu, hati kami bergetar dalam kekaguman. Kehadiran malaikat penjaga ini adalah bukti nyata akan kasih sayang dan perlindungan Allah SWT kepada kami. Dengan serentak, kami menjawab salamnya dengan penuh hormat dan rasa syukur, "Walaikum salam Warahmatullahi wa barakatuh." Balasan salam itu mengalirkan kedamaian ke dalam hati kami, meneguhkan keyakinan bahwa kami berada dalam lindungan-Nya. Malam ini, di pinggir hutan yang sepi, kami merasakan kehadiran dan penjagaan para malaikat, semakin menyadari bahwa perjalanan kami ini adalah bagian dari rencana besar yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Dengan rasa hormat yang mendalam, salah seorang dari kami memberanikan diri bertanya kepada para utusan cahaya, "Mohon maaf, para utusan cahaya. Subhanallah, tubuh kami bergetar hebat, seakan jiwa kami tersentuh oleh samudera Nur. Apakah gerangan keperluan Tuan-tuan datang menemui hamba yang penuh kekurangan ini?"
 
Malaikat Hafazhah menjawab dengan suara yang menenangkan, "Wahai manusia yang dipilih oleh takdir, kedatangan kami bukan untuk menakuti kalian, bukan pula untuk menguji keteguhan ragamu. Kedatangan kami adalah bentuk penghormatan sekaligus tugas yang pernah kami emban dari Zat yang paling Agung yang tidak tersentuh oleh arah dan waktu."
 
Kata-kata itu bagaikan air yang menyejukkan hati kami yang tengah bergejolak. Kami merasa terhormat dan rendah hati, menyadari bahwa perjalanan kami ini adalah bagian dari rencana besar yang telah digariskan oleh Sang Pencipta. Kehadiran para malaikat penjaga ini menegaskan bahwa kami tidak sendirian dalam mengemban amanah pusaka langit, selalu ada penjagaan dan bimbingan dari alam yang lebih tinggi.

Kata-kata para malaikat Hafazhah terdengar bagaikan musik surgawi, memenuhi setiap celah di hutan yang sepi itu. "Kami diperintahkan untuk menjadi penolongmu, menjadi penjaga, menjadi pengiring cahaya bagi amanah yang bernama Alkamal Al Mujab," ujar mereka dengan suara yang menyatu dalam keharmonisan.
 
"Wahai pengemban amanah, dengarkanlah dengan hati yang hening ,karena tidak semua manusia dipanggil oleh langit. Dan tidak semua yang dipanggil mampu mendengar. Alkamal Al Mujab bukanlah sekedar pusaka, bukan pula benda yang diagungkan oleh rupanya. Ia adalah simpul antara doa dan takdir, jembatan antara harapan manusia dan kehendak Tuhan semesta alam."
 
Kami berdiri terhenyak, menyimak setiap kalimat dengan penuh ketundukan. "Kami para malaikat Hafazhah adalah para pembawa doa ke langit, pengiring setiap bisikan dari hati yang jujur dan pasrah. Bila manusia berdoa melalui Alkamal Al Mujab dengan niat yang bersih, maka Kamilah yang mengangkatnya melintasi tujuh lapisan langit hingga sampai kehadirat Tuhan Yang Maha Esa."
 
Namun nada mereka bergeser menjadi lebih dalam, penuh peringatan. "Namun ketahuilah, pengemban amanah ,tidak semua doa layak untuk diangkat. Doa yang lahir dari kesombongan akan gugur sebelum sampai ke langit pertama, doa yang dibalut oleh hawa nafsu akan terhenti di tengah perjalanan. Tetapi doa yang lahir dari luka, dari ketulusan, dari keikhlasan seorang hamba yang hanya berharap kepada Tuhannya ,itulah doa yang kami pikul dengan penuh kemuliaan."
 
"Wahai pengemban amanah, kami para malaikat Hafazhah, dengarkanlah pesan langit ini. Kami bukan tunduk kepadamu manusia, tetapi tunduk kepada amanah yang engkau genggam. Selama engkau menjaga Alkamal Al Mujab dengan adab, dengan rasa takut kepada Allah SWT, dengan niat melayani bukan menguasai ,maka kami selalu berada di sekelilingmu, menjaga langkahmu, menenangkan hatimu, meluruskan niatmu ketika engkau hampir tergelincir."
 
Akhirnya, mereka mengakhiri dengan pesan yang menusuk hati, "Ingatlah, wahai manusia, wahai kalian semua ,engkau dipilih bukan karena paling kuat, bukan karena paling sakti, tetapi karena hatimu mampu retak, mampu menangis, mampu tunduk. Retaknya hatimu itulah pintu cahaya, tangismu itulah bahasa langit, kelemahan hati mu itulah alasan kenapa pertolongan diturunkan."
 
Kami berdiri dalam keheningan yang mendalam, air mata kembali mengalir di pipi kami. Setiap kata yang diucapkan para malaikat ini adalah cahaya yang menerangi jalan yang akan kami lalui, sebuah janji perlindungan dan sebuah peringatan akan tanggung jawab yang besar yang kami emban.

Suara para malaikat Hafazhah bergema dengan kekuatan yang menyentuh akar jiwa, setiap kata seperti tertoreh dalam hati kami selamanya. "Wahai penjaga pusaka langit, dengarkanlah sumpah kami ,sumpah para malaikat yang tidak pernah durhaka, sumpah para pelayan takdir yang hanya mengenal perintah dan sujud."
 
"Demi Allah Yang Maha Agung yang menciptakan kami dari cahaya, dan menciptakanmu dari tanah yang dimuliakan. Kami bersumpah: selama Alkamal Al Mujab berada di tangan yang ikhlas, kami akan membantu perbuatan baik pemegangnya. Kami tidak akan membantu kesombongan kalian, kami tidak menguatkan hawa nafsu kalian. Kamu tidak akan menuruti kemauan kalian bila ia menjauhkan dari Tuhanmu sendiri, tetapi setiap niat baikmu sekecil debu di hatimu akan kami lipat menjadi sayap, akan kami bawa menjadi doa, akan kami jadikan jalan pertolongan. Kami akan mendampingi Alkamal Al Mujab bukan sebagai penjaga benda, tetapi sebagai penjaga makna."
 
Kata-kata mereka mengalir seperti sungai cahaya, membasahi setiap sudut hati yang pernah merasa kosong. "Kami menjaga agar pusaka itu tidak berubah menjadi fitnah, tidak menjadi alat dunia, tidak menjadi sebab manusia lupa bahwa sumber segala kuasa hanya Allah SWT semata."
 
"Kami akan membuat kaya pemegang Alkamal Al Mujab, namun bukan karena kaya harta semata. Kami akan mengkayakan hatimu dengan rasa cukup, kami akan mengkayakan jiwamu dengan ketenangan, kami akan mengkayakan pikiranmu dengan hikmah, kami akan mengkayakan langkahmu dengan keberkahan , karena kekayaan sejati bukan yang bertambah di tangan, tetapi apa yang berkurang dari beban jiwa."
 
"Bila kamu menolong orang, kami akan melapangkan jalanmu. Bila engkau menguatkan yang lemah, kami akan menguatkan batinmu. Bila engkau mendoakan yang terluka, kami akan menjaga keluargamu. Setiap kebaikanmu tidak pernah berjalan sendiri , di belakangnya selalu ada kami yang menyempurnakan dampaknya, meski engkau tidak pernah melihatnya."
 
Mata kami terpaku pada cahaya yang menyelimuti mereka, saat mereka menyampaikan kebenaran yang menusuk, "Wahai engkau manusia, engkau kira engkau yang memegang pusaka, padahal sebenarnya engkaulah yang dipegang oleh amanah. Kami bukan sekedar mendampingi kalian ,kami menjaga dirimu agar tidak tenggelam dalam keakuan yang bukan milikmu."
 
"Demi cahaya Arasy, demi getaran Lauh Mahfudz, demi tinta takdir yang tidak pernah kering ,kami para malaikat Hafazhah bersumpah: selama engkau menjaga Alkamal Al Mujab dengan adab dan kerendahan, kami akan menjaga namamu di langit sebagai hamba yang amanah, bukan sebagai manusia yang angkuh."
 

Nada mereka menjadi lebih lembut, penuh kasih sayang, "Jangan takut berjalan di dunia, wahai pemegang amanah. Mungkin engkau sendirian di mata manusia, tetapi engkau tidak pernah sendirian di mata langit. Di sekelilingmu ada kami, di atasmu ada doa, di dalam hatimu ada amanah, dan di hadapanmu ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan hambanya meski satu detik pun."
 
"Begitulah, dan selamat atas amanah yang saat ini kalian jaga ,Alkamal Al Mujab." Kemudian, dengan kehormatan yang tak terlukiskan, mereka mengucapkan salam perpisahan, "Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh."
 
Cahaya mereka perlahan mulai meredup, perlahan-lahan kembali menyatu dengan kanvas langit yang penuh bintang. Kami berdiri dengan penuh ketundukan, menyambut salamnya dengan suara yang penuh rasa syukur, "Walaikum salam warahmatullahi wa barakatuh."
 
Saat cahaya mereka hilang dari pandangan mata, rasa aman dan keyakinan yang mendalam memenuhi dada kami. Kami tahu sekarang bahwa perjalanan yang kami lalui bukan hanya tentang menjaga sebuah pusaka ,melainkan tentang menjaga makna yang lebih dalam, tentang menjadi hamba yang patuh, dan tentang menyadari bahwa setiap langkah yang kita tempuh dalam kebaikan akan selalu diperhatikan dan didukung oleh kekuatan yang lebih besar dari sekadar alam semesta yang kasat mata.
 
Kami pun melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah yang lebih mantap, hati yang lebih tenang, dan jiwa yang penuh cahaya ,membawa amanah Alkamal Al Mujab bukan sebagai beban, melainkan sebagai titipan yang mulia yang telah mengubah hidup kami selamanya.

∆. Pesan & Nasehat Malaikat Batrosin Untuk Pemegang Amanah Pusaka Langit Permata Alkamal Al Mujab.
( Wujud asli malaikat Batrosin ketika menemui pemegang amanah Alkamal Al Mujab dan memberikan pesan dan petuah bagi pengemban amanah permata Alkamal Al Mujab)

Di tengah malam yang pekat,kami melangkah tanpa sengaja portal dimensi alam lain terbuka dan kami di bawa oleh energi yang cukup besar hingga sampai di atas perbukitan yang sunyi, kami melangkah pelan, mengemban amanah pusaka langit permata Alkamal Al Mujab. Hanya cahaya bintang yang menjadi saksi bisu, menaburkan kerlip perak di antara gelapnya rimba, menerangi jalan setapak yang penuh misteri. Udara dingin membelai wajah, namun semangat dalam dada tak pernah padam, membakar setiap langkah di bawah lindungan takdir.
 
Tiba-tiba, dari balik semak belukar yang rimbun, muncullah sesosok dari langit bayangan yang perlahan menjelma menjadi wujud yang memancarkan cahaya lembut. Bukan cahaya bulan, bukan pula bintang, melainkan pancaran kemuliaan yang tak terlukiskan. Sosok itu berdiri anggun, memperkenalkan dirinya dengan suara yang menggetarkan sanubari, "Aku Malaikat Batrosin."
 
Kemudian, sebuah salam mengalir dari bibirnya, menembus hening malam, memenuhi ruang dengan kedamaian yang mendalam, "Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh." Serentak, kami menyambutnya, hati bergetar dalam kekaguman, mengumandangkan balasan, "Walaikum salam." Pertemuan itu, di bawah taburan bintang dan naungan amanah, adalah bisikan dari alam lain, menyiratkan bahwa perjalanan kami tak sendirian, selalu dalam pengawasan langit.

Dengan suara selembut belaian angin malam, Malaikat Batrosin berucap, "Mendekatlah," mengundang kami dalam lingkaran kehangatan dan kebijaksanaan. Tanpa ragu, dengan penuh adab, kami berdua melangkah mendekat, hati berdebar penuh harap dan takzim.
 
Di bawah langit bertabur bintang, kami duduk bersila beralaskan rerumputan yang basah oleh embun. Suasana hening memenuhi ruang, hanya suara jangkrik dan angin yang berbisik, seolah alam semesta pun menahan napas, siap mendengarkan pesan dan petuah yang akan disampaikan oleh utusan langit itu.
 
Dalam keheningan itu, kami menyatukan hati dan pikiran, mempersiapkan diri untuk menerima setiap kata yang keluar dari bibir Malaikat Batrosin berharap setiap pesan yang disampaikan akan menjadi lentera penuntun dalam perjalanan mengemban amanah yang penuh misteri ini.

Seberkas cahaya tiba-tiba menerangi di atas langit bercahaya, tidak seperti cahaya matahari atau bulan, melainkan cahaya yang bersumber dari dalam diri sendiri, memancarkan kehangatan yang menenangkan dan kekuatan yang menyembuhkan yaitu malaikat Batrosin.
 
Dari dalam cahaya itu muncul sosok yang mulia, dengan bentuk yang tak terlukiskan namun penuh dengan kedamaian. Suaranya terdengar seperti gemericik air yang jernih dan suara angin yang lembut sekaligus, "Wahai pengemban amanah,  dengarkanlah dengan seluruh kesadaran yang telah engkau bersihkan dari debu keraguan. Aku datang bukan untuk menundukkanmu melainkan untuk memuliakan apa yang telah dipercayakan kepadamu. Aku adalah malaikat Batrosin, yang diutus dari lingkaran cahaya yang tidak terjangkau oleh ribuan waktu manusia. Aku berbicara kepadamu bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai saksi atas apa yang ditanamkan pada dirimu, sejak sebelum engkau mengenal namamu sendiri."
 
Kami mencoba untuk berdiri, namun tubuh kami masih lemah. Namun malaikat Batrosin mengangkat tangannya dengan lembut, seolah mengatakan bahwa tidak perlu untuk itu. Ia melanjutkan dengan nada yang penuh hormat, "Ketahuilah, wahai pemegang amanah, permata Alkamal Al Mujab yang engkau pegang bukan sekedar permata , ia adalah simpul antara kehendak langit dan kesanggupan ruh manusia. Ia bukan menjadi mulia karena permatanya tetapi karena ruh yang dipilih untuk menjaganya."
 
Hati kami bergetar mendengar kata-kata itu, rasa lelah yang telah menguasai tubuh mulai sirna digantikan oleh rasa kagum dan rendah hati. "Dan Aku datang hari ini untuk memohon izin , bukan untuk mengambilnya, bukan untuk memilikinya, melainkan untuk sekedar meminjamnya sekedar sekejap dalam obrolan yang tidak dapat diukur oleh jam dunia. Ribuan malaikat telah berkumpul dalam barisan yang tidak terlihat oleh mata jasad. Ia berdiri dalam kesunyian yang penuh dengan tasbih dan menundukkan cahaya mereka sebagai bentuk penghormatan kepada amanah yang engkau jaga. Mereka ingin menambahkan doa , bukan untuk permata itu, tetapi untuk ruh yang memegangnya."
 
Kami merasakan bagaimana kekuatan kembali mengalir ke dalam tubuh yang lemah, bagaimana rasa lapar dan haus terasa hilang digantikan oleh kedalaman kedamaian yang luar biasa. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh keyakinan, kami mengeluarkan Permata Alkamal Al Mujab dari tempat penyimpanan yang aman di dalam dada kami. Saat permata itu muncul, cahaya yang dipancarkannya menyatu dengan cahaya malaikat Batrosin, menciptakan kilauan yang indah dan mempesona.
 
"Dengan senang hati kami pinjamkan," ucap kami dengan suara yang penuh rasa hormat. "Amanah ini bukan milik kami sendiri, melainkan titipan yang harus kami sampaikan dan jagakan dengan sebaik-baiknya. Semoga doa para malaikat dapat memperkuat ruh kami untuk terus menjalankan tugas yang telah diberikan."
 
 Dan di belakangnya, kami merasakan kehadiran yang luar biasa , kehadiran ribuan malaikat yang berdiri dalam barisan yang teratur, setiap satu dari mereka memancarkan cahaya dan doa yang mengalir seperti sungai yang tak pernah kering, mengalir langsung ke dalam hati kami yang telah bersiap untuk menerimanya.

Cahaya yang mengelilingi malaikat Batrosin semakin memancar, menyinari setiap sudut hutan yang gelap hingga terasa seperti siang hari yang cerah. Kata-katanya terdengar seperti musik surgawi yang meresap ke dalam setiap serat jiwa kami, menghapus rasa lelah dan menggantinya dengan kejelasan yang luar biasa.
 
"Setiap amanah yang turun ke bumi akan diuji oleh beratnya dunia, tetapi ketika amanah itu didahului oleh doa para malaikat maka dunia tidak lagi menjadi beban melainkan menjadi jalan yang tunduk kepada Yang Maha Menentukan. Ribuan malaikat ingin menenun doa yang berselimut cahaya tak terlihat , agar siapa pun yang memegang permata Alkamal Al Mujab tidak tersesat oleh bisikan kesombongan, agar ia rendah meskipun dunia meninggalkannya, agar ia tetap hening meskipun dunia memanggil namanya dengan gemuruh pujian, agar ia milik Tuhan meskipun dunia berusaha mengambilnya sebagai milik mereka."
 
Kami mendengarkan dengan hati yang terbuka lebar, merasa bagaimana setiap kalimatnya menguatkan ikatan antara ruh kami dengan amanah yang kami emban. "Ketahuilah, Wahai penjaga amanah, permata itu tidak memilih tangan yang kuat , ia memilih yang tidak menggenggamnya dengan nafsu. Permata itu tidak memilih jiwa yang ingin berkuasa ,ia memilih jiwa yang ingin menjadi hamba. Dan ribuan malaikat telah menyaksikan sesuatu yang ada pada dirimu, yang bahkan dirimu belum menyadari sepenuhnya."
 
"Engkau tidak mencarinya untuk menjadi besar, engkau menerimanya karena engkau bersedia menjadi kecil di hadapan Yang Maha Besar. Itulah sebabnya Aku datang kepadamu. Aku mohon izinmu dengan penuh kehormatan , karena langit tidak akan pernah merampas amanah yang telah dipercayakan kepada manusia. Bahkan malaikat pun tidak akan pernah menyentuh tanpa kerelaan ruh penjaganya."
 
Malaikat Batrosin menatap kami dengan tatapan yang penuh kedalaman, melanjutkan, "Jika engkau mengizinkan maka doa mereka akan mengalir kepada inti pusaka itu dan sejak saat itu, siapa pun yang memegangnya dengan hati yang bersih akan dinaungi ketenangan yang tidak guncang oleh ketakutan. Ia akan berjalan di tengah dunia tanpa dimiliki dunia. Ia akan melihat tanpa tertipu oleh ilusi. Ia memegang tanpa dikuasai oleh kepemilikan."
 
"Dan yang paling agung dari semuanya ,ia akan selalu diingat oleh langit, bahkan ketika dunia melupakannya. Namun dengarkan baik-baik ini, pemegang amanah  ,perlindungan malaikat bukan untuk menjadikanmu kebal dari ujian, perlindungan itu akan membuat ujian semakin jujur, karena cahaya hanya diberikan kepada manusia yang bersedia melihat bayangan sendiri tanpa berpaling."
 
Nada suaranya menjadi lebih tegas namun tetap penuh kasih sayang, "Maka jika engkau mengizinkan, lakukanlah bukan karena engkau ingin dilindungi, tetapi karena engkau ingin tetap menjadi hamba , bahkan ketika kekuatan itu berada di dalam genggamanmu. Ketahuilah, langit tidak mencari penguasa di bumi, langit hanya mencari penjaga yang tidak melupakan pemilik sejati. Dan Aku hari ini menampakkan diriku di hadapanmu, bukan untuk menguji kelayakanmu, melainkan untuk menghormati pilihan yang telah dibuat oleh ruhmu jauh sebelum engkau dilahirkan di dunia ini."
 
Dengan hati yang penuh rasa syukur dan kerendahan, kami mengangguk dan berkata dengan suara yang tenang namun tegas, "Ya, Wahai Malaikat Batrosin ,kami mengizinkan dengan sepenuh hati. Amanah ini bukan milik kami, melainkan titipan dari Yang Maha Pemilik. Kami menerima doa para malaikat bukan sebagai perlindungan dari ujian, tetapi sebagai kekuatan untuk tetap menjadi hamba yang patuh. Biarlah cahaya mengalir ke dalam permata ini, agar setiap yang memegangnya nantinya dapat melihat kebenaran yang sejati dan tidak melupakan siapa yang menjadi Pemilik sejati dari segala yang ada."
 
Saat kata-kata kami terucap, kami merasakan bagaimana getaran Permata Alkamal Al Mujab menjadi lebih dalam, seolah menerima doa-doa yang mengalir dari ribuan malaikat yang tidak terlihat oleh mata kasar. Cahaya dari permata itu semakin terang, bukan dengan kilau yang menyilaukan, melainkan dengan cahaya yang menenangkan dan penuh makna, cahaya yang akan menjadi jalan bagi siapa saja yang berniat baik dan hati yang bersih.
 
Mata malaikat Batrosin bersinar dengan kedalaman yang lebih dalam, seolah menyaksikan seluruh dunia yang akan menerima pesan ini. Suaranya terdengar dengan kejelasan yang tak tergoyahkan di tengah hutan Gunung Lawu yang kini tampak penuh makna.
 
"Wahai pengemban amanah, sampaikanlah kabar ini kepada saudara-saudaramu, bukan kabar untuk membangkitkan kesombongan, tetapi sebagai kabar untuk membangkitkan kesadaran. Katakan pada mereka bahwa Permata Alkamal Al Mujab bukanlah pemberi keajaiban, melainkan pembuka jalan bagi doa yang telah lama menunggu untuk pulang kepada Pemiliknya."
 
Kata-katanya seperti aliran sungai yang jernih, mengalir ke setiap sudut hati yang siap menerima kebenaran. "Katakan pada mereka bahwa barang siapa yang memegangnya dengan hati yang tidak berpaling kepada Yang Maha Hidup, maka doanya tidak akan pernah berjalan sendiri. Doanya akan diangkat, dipegang lembut, dan dinaungi oleh ribuan doa malaikat yang tidak pernah lelah memohon kebaikan bagi ruh yang jujur."
 
Nadanya menjadi lebih tegas, penuh dengan tanggung jawab yang harus disampaikan dengan jelas: "Namun katakan pula pada mereka, permata itu tidak akan menjawab doa yang lahir dari keserakahan dan hasrat untuk menguasai. Ia akan diam di tangan mereka yang ingin menyalahgunakan kekuatannya untuk merendahkan sesama makhluk. Permata itu hidup dengan satu hukum yang tak tertulis oleh manusia, ia hanya untuk hati yang tunduk kepada Tuhan."
 
"Juga beritahu mereka bahwa ijabah bukanlah tentang seberapa cepat keinginan tercapai, melainkan seberapa layak hati menerima apa yang diberikan. Ada doa yang diijabah dengan pemberian, ada doa yang diijabah dengan penundaan yang penuh hikmah, ada doa yang diijabah dengan perlindungan dari apa yang tidak kita ketahui manfaatnya. Permata Alkamal Al Mujab akan menjadi penjaga agar setiap doa tidak jatuh ke dalam kehampaan, ia akan memastikan bahwa setiap ucapan dari hati yang bersih menemukan jalan pulangnya."
 
"Katakan pada mereka bahwa memegang pusaka ini bukanlah kehormatan yang harus dibanggakan, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga dengan rendah hati. Jika mereka datang dengan niat untuk menyelamatkan diri sendiri dengan kekuatan duniawi, permata itu akan tetap diam seperti batu biasa. Tetapi jika mereka datang dengan niat untuk menjadi hamba yang patuh, maka cahaya dari dalam permata akan menyinari jalan mereka , bahkan ketika dunia semakin gelap."
 
"Dan yang paling penting, katakan pada mereka bahwa langit tidak akan pernah meninggalkan mereka yang menyadari bahwa diri mereka hanya titipan. Permata itu bukan untuk membuat mereka menjadi lebih besar dari yang lain, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap makhluk adalah bagian dari satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari Sang Pencipta. Sampaikanlah pesan ini dengan hati yang bersih, karena kebenaran hanya akan sampai pada mereka yang mau melihatnya tanpa tirai kebohongan."
 
Wahai pemegang amanah, sampaikan ini dengan kelembutan agar mereka tidak mencintai permata itu lebih dari mereka mencintai kepada Sang Maha Pemberi.
Sampaikan ini dengan kebijaksanaan agar mereka tidak mencari permata itu , mencari kelayakan hati mereka sendiri , karena sesungguhnya permata itu tidak memilih tangan . Ia memilih ruh ,ia memilih hati yang tidak menjadikannya tujuan tetapi menjadikannya amanah .
Dan ketahuilah ini , hari ketika seseorang memegang permata Alkamal Al Mujab dengan penuh kejujuran . Bukanlah hari ketika seseorang menjadi besar , tetapi hari ketika seseorang menjadi lebih sabar, bahwa dirinya tidak memiliki apapun . Dan justru karena ia merasa  tidak memiliki maka langit mempercayakan kepadanya sesuatu yang tidak di percayakan bagi mereka yang ingin memiliki segalanya .

Dengarkan dengan RUHmu wahai pemegang amanah , bukan dengan telingamu karena apa yang di ajarkan kepadamu bukan sekedar rangkaian huruf , melainkan jembatan antara kelemahan seseorang hamba dan kemaha kekuasaan TuhanNya .
Ketahuilah Qosam Alkamal Al Mujab , bukan doa untuk memerintah langit , melainkan doa untuk menundukkan diri sepenuhnya kepada pemilik langit . Ia bukan kunci untuk memaksa takdir , tetapi cahaya untuk menyelaraskan kehendakmu dengan kehendak yang Maha Menentukan . Aku menyampaikan doa ini bukan untuk menjadikanmu tinggi ,tetapi agar menjadikanmu rendah meskipun engkau di percaya memegang amanah yang Agung . Dan dengarkanlah dan resapi doa  Qosam Alkamal Al Mujab ," Dengan Menyebut Nama Allah, ...., Aku Bersumpah atas diriMu , dengan cahayaMu yang tak pernah padam, dengan rahasia Mu yang tak pernah di minta,.......Inna Allaha Alla Kulli Syain Qodir ,Amin ( Secret Closed) .

( Inilah arti Qosam Alkamal Al Mujab, Ya Allah, Engkaulah Pemilik Kemuliaan , Kesempurnaan, Dan Keindahan .
Wahai ,Pemilik Kemuliaan Doa Yang Terkabul Dan Penyempurnaan Segala Urusan.
Aku Bersumpah, , KepadaMu Dengan CahayaMu Yang Tak Pernah Padam .
Dan Dari RahasiaMu Yang Tak Pernah Di Tanyakan.
Dan Dengan Nama - NamaMu Yang Tak Pernah Kami Ketahui Dan Yang Melampaui Batas.
Wahai Pemilik Cahaya, Wahai Yang Maha Hidup , Wahai Yang Maha Kokoh , Wahai Yang Maha Mengabulkan Segala Doa .
Jadikanlah Sumpah Ini , Rahasia Sebagian Rahasia -RahasiaMu .
Dan Jadikan Orang Yang Membawanya , Dari PenjagaanMu Dan Keamanan mu.
Dan Berikan Kepadanya Cahaya Ijabah  Sebagai Balasannya.
Dan Kesempurnaan Pertolongan Dengan RahmatMu ,Wahai Dzat Yang Maha Penyayang Dari Segala Penyayang.

Ya Allah,Jika Urusan Ini Baik Untukku Dalam Urusan Agamaku ,Rahasiaku Dan Ruhku .
Maka Dekatkanlah Dia Padaku Dan Mudahkanlah Untukku.Dan Jika Bukan Hal Baik , Jauhkan Dariku Di Dalam KelembutanMu .
Dan Kekalkanlah Aku Dalam RidhoMu Dan Perlindungan Selamanya.
Dengan Rahasia Kesempurnaan Yang Di Ijabah  Pusaka Alkamal Al Mujab.
Dan Dengan Rahasia CahayaMu Yang Agung. Jadikanlah Untukku Dan Jangan Kau Jadikan Untuk Membebaniku .
Dan Tunjukkan Kepadaku Rahasia Pengkabulan Doa Rahasia Dunia.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. )


Wahai pengemban amanah pahamilah ini dengan kejernihan RUHmu   Doa ini bukan dunia tunduk kepadamu ,doa ini memastikan bahwa engkau tidak tunduk kepada dunia , karena rahasia terbesar dari ijabah bukan terkabulnya permintaan, tetapi sucinya hati tempat yang layak , kehendak Tuhan untuk bersemayam .
Ketika engkau membaca doa ini , jangan kau bayangkan kekuatan mengalir kedalam tanganmu . Bayangkan dirimu menjadi kosong, karena benjana kosong yang dapat di isi oleh cahaya .

Ketahuilah wahai penjaga amanah,,ada tiga rahasia yang ada dalam Qosam Alkamal Al Mujab yaitu yang pertama mengingatkan engkau bahwa engkau bukan pemilik kekuatan, yang kedua ia membuka jalan agar doamu tidak terhalang oleh dirimu sendiri , yang ketiga ia membuat hatimu di kenal oleh langit bagi hati yang berserah . 

Jika membacanya dengan keinginan untuk memiliki maka ia hanya sekedar kata ,tapi jika engkau membacanya dengan keinginan untuk berserah maka ia akan menjadi cahaya yang hidup . Ingatlah ini , langit tidak akan menjawab suara yang paling keras , tetapi langit menjawab hati yang jujur . Dan permata Alkamal Al Mujab, tidak akan memperkuat mereka yang ingin menjadi besar ,ia akan memperkuat mereka yang rela menjadi kecil di hadapan yang Maha Besar ,ajari mereka dengan kerendahan hati , karena tanpa kerendahan hati doa hanya akan menjadi suara . Namun doa dengan kerendahan hati akan menjadi cahaya dan akan di kenali oleh seluruh penduduk atau penghuni langit .

Malaikat Batrosin mengangkat tangan dengan penuh kehormatan, cahaya yang menyelimuti tubuhnya mulai perlahan menyatu dengan kegelapan malam yang semakin dalam. "Demikianlah pesan yang harus kami sampaikan. Biarkan setiap kata menemukan tempatnya di hati yang siap menerima, dan biarkan mereka yang belum siap, biarkan waktu dan kehendak-Nya yang menentukan kapan mereka akan membuka mata batin."

∆. Pesan Nabi Zulkarnain As Bagi Pemegang Pusaka Langit Permata Alkamal Al Mujab.
( ilustrasi gambar raja agung Zulkarnain As  yang terkenal kekuasaannya dan kebijaksanaannya yang menguasai timur dan barat)

Aku adalah Zulkarnain hamba Allah yang pernah melintasi ufuk timur maupun barat yang di berikan kekuasaan di bumi yang tetap sujud di bawah kebesaran Nya ( Allah SWT) 
Kedatanganmu telah lama aku tunggu dalam lipatan takdir , engkau pemegang Alkamal Al Mujab ,permata kesempurnaan yang cahayanya menembus kegelapan fitnah akhir zaman . Selamat bagi pemegang amanah permata Alkamal Al Mujab itu , sebuah pusaka batiniah yang di turunkan oleh Allah SWT , sebagai benteng terakhir saat dunia di tepi jurang kehancuran . Dengarkanlah pesan dan petuahku , pemegang amanah permata Alkamal Al Mujab ketahui kekuatan yang sesungguhnya bukan terletak tajamnya pedang dan luasnya kekuasaan . 
Saat Aku di pertemuan pada suatu kaum yang hampir tidak mengetahui pembicaraannya .Ia minta perlindungan dariku dari kekejaman Yakjuj Mak'juj . Aku tidak membangun benteng sendirian ,aku meminta membantuku dengan tenaga , dengan potongan -potongann besi dan cairan tembaga mendidih . Dunia di jamanmu telah di hantam oleh Yakjuj & Mak'juj dalam bentuk yang berbeda,serakahan yang tak bertepi, kebencian yang merajalela dan hilangnya kemanusiaan. 

Engkau yang memegang Alkamal Al Mujab , tidak boleh diam , satukanlah potongan -potongann kebaikan yang tersisa di hati manusia, lelehkan dengan kasih sayang dan bangunlah benteng iman yang kokoh di dalam hatimu . Permata yang kau genggam itu bukan sekedar hiasan ,ia adalah Al Mujab doa.yang di jawab , cahaya yang menuntun . Jika dunia banyak kebohongan,jadilah saksi kebenaran . Jika manusia tercerai berai karena ego jadilah pemersatu dengan kerendahan hati .
Pusaka itu hanya bercahaya jika pemiliknya memiliki hati yang fana . tunduk dengan kehendak Allah SWT..
Janganlah engkau silau dengan gemerlap dunia yang menipu. Aku telah melihat kerajaan -kerajaan besar runtuh menjadi debu , hanya satu yang kekal adalah Rahmat Tuhanku.

Jadikan setiap langkahmu menjadi dahwah , jadikan setiap tarikan napasmu menjadi dzikir . Engkau di pilih menjaga Alkamal Al Mujab bukanlah yang terkuat , tetapi Allah SWT melihat ada ketulusan relung  hatimu untuk menyelamatkan umat Muhammad Saw.

Ketahuilah, benteng yang Aku bangun akan hancur , itulah janji Tuhanku ,namun benteng yang kau bangun dalam jiwa manusia dengan Alkamal Al Mujab akan membawamu melintasi shirat atau jembatan menuju keabadian yang indah .
Jangan takut badai zaman karena pemilik semesta berada bersamamu .
Cahaya Alkamal Al Mujab tidak akan padam selama kau menjaga wudhu dan kejujuran ruhanimu .

Dengarkan, karena apa yang akan aku sampaikan adalah rahasia yang telah lama tertimbun oleh debu sejarah karena keangkuhan manusia , benteng yang dulu Aku bangun tidak sekokoh seperti dulu,bukan karena kualitas besinya yang memudar , melainkan dosa dan keserakahan manusia yang mengikisnya dari luar . Setiap darah yang tumpah karena perebutan kekuasaan, setiap jengkal tanah yang di rampas dengan kedzaliman menjadi asam yang akan melunakkan dinding rahasia tersebut. 

Para pemimpin besar di zamanmu , saling sikut berebut wilayah. Mereka mengira merebutkan tanah strategis atau sumber daya alam,namun mereka tanpa sadar, mereka sedang gali liang kuburnya sendiri.
Mereka mendekati area, dimana Yakjuj & Mak'juj sedang mencakar-cakar dinding pembatas . Kenapa mereka begitu terobsesi? Karena sekitar benteng itu ,Aku meninggalkan jejak -jejak peradaban kuno yang kalian puja-puja sebagai teknologi.
Apa yang kalian sebut kemajuan saat ini , ia adalah kemunduran jiwa .
Artefak -artefak yang mereka temukan , rumusan,-rumusan kuno yang kini di terjemahkan mesin-mesin digital,itu adalah sisa-sisa alat bantu yang dahulu digunakan untuk tunduk kepada Tuhan Allah SWT .

Namun sekarang manusia gunakan untuk menantang Tuhan. Kalian merasa hebat dengan layar di tangan , dengan kecepatan komputer dan senjata pemusnah .
Tapi dengarkanlah, semakin canggih alat yang kalian ciptakan untuk menghubungkan raga semakin jauh jiwa kalian terputus dari Sang Pencipta .
Kalian membangun peradaban di atas awan tapi pondasi spiritual telah keropos di makan rayap kelalaian .
Tekhnologi itu adalah artefak yang di curi jiwanya . Ia adalah raga tanpa nyawa . Itulah kenapa technologi yang merasa maju , justru kedamaian semakin menjauh .
Permata Alkamal Al Mujab , benteng mutlak di dalam diri , inilah alasan Allah SWT menitipkan padamu ,kini benteng besi  yang Aku bangun kini benar-benar runtuh .Dan saat itu sudah sangat dekat ,maka tidak ada bunker bawah tanah, tidak ada nuklir, tidak satupun senjata manusia yang mampu menahan serbuan Yakjuj & Mak'juj.

Mereka keluar laksana air bah yang turun dari tempat yang tinggi, melahap apa yang tampak oleh mata. Di saat itulah , permata Alkamal Al Mujab yang kalian bawa dan simpan akan menjalankan fungsinya sebagai perlindungan mutlak , perisai Ruhani ,ia tidak melindungi kulitmu tetapi melindungi imanmu saat dunia runtuh . Saat manusia bingung kehilangan arah fitnah,permata itu akan menunjukkan jalan setapak yang di rihoi oleh Allah SWT.
Jiwa kesabaran,ia akan memberimu kekuatan untuk tetap tegak berdiri, ketika seluruh dunia berlutut kepada keputusasaan .

Pesanku untuk penjaga jagalah permata itu dengan air pertaubatan, bersihkan ia dengan dzikir yang tak pernah putus . Jangan biarkan debu-debu kemajuan palsu di zamanmu, menutupi kemilaunya Alkamal Al Mujab .

Ketika semua para raja atau pemimpin merebutkan wilayah untuk menemukan artefak kuno , engkau cukup berdiam dalam sujudmu ,sebab dalam sujud itulah rahasia besar dari tembok besiku berada .
Engkau di siapkan di masa yang paling kelam . Kau menemukan kunci kemenangan yang paling nyata , simpanlah pesan ini di dalam hatimu yang paling dalam , biarlah ia menjadi kompas di saat kompas dunia tak lagi berfungsi.
Wahai sang pemegang amanah permata Alkamal Al Mujab, ketahuilah bukanlah batu yang lahir dari perut bumi,bukan pula dari tempaan dari pande besi dunia .
Ia adalah simpanan langit yang bernama Arsy . Ia adalah tetesan cahaya yang membeku dari keagungan Allah SWT yang sengaja diturunkan saat bumi kehilangan poros spiritualmya 

Secara ilmu hakekat , permata itu adalah titik pusat di tengah lingkaran . Ketika dunia di sekelilingmu berputar kencang dalam kekacauan, siapa yang berada di titik pusat ,bayangkan dunia ini gelap tanpa bintang ,di mana Yakjuj & Mak'juj adalah kegelapan yang akan menelan segala warna . Permata Alkamal Al Mujab itu ibarat matahari di ringkas dalam butir , jika engkau letakkan di hatimu,hatimu tidak akan membutuhkan cahaya matahari untuk melihat kebenaran ,ia adalah Al Mujab,Sang Pengijabah .
Frekuensi getaran permata itu selaras dengan kehendak Tuhan Allah SWT.
Siapa yang memegangnya dengan kesucian , maka alam semesta akan tunduknya , bukan karena ia sakti melainkan ia telah menjadi mati dari yang Maha Kuasa 

Benteng besi bisa berkarat karena zaman namun benteng permata Alkamal Al Mujab tidak tersentuh oleh waktu sebab tidak terbuat dari materi tetapi dari Nur Muhammad yang di tenun dengan benang-benang asma Allah SWT.
Jangan pernah engkau memiliki Permata Alkamal Al Mujab itu , justru engkau yang di miliki pusaka itu . Hilangkan dirimu atau fana yang tersisa hanyalah pancaran Alkamal Al Mujab .

Ketika Yakjuj & Mak'juj keluar laksan pasir di lautan, mereka tidak bisa melihatmu , bagi mereka engkau bukanlah manusia dari daging dan darah melainkan lubang cahaya yang menyilaukan mata keserakahan mereka.
Engkau akan selamat karena engkau tidak ada , yang ada adalah perlindungan mutlak dari langit . 

Wahai manusia akhir zaman, mungkin tembokku akan runtuh , artefak teknologi mungkin di salah gunakan , tetapi selama permata Alkamal Al Mujab masih berdenyut di dada orang -orang beriman ,maka harapan tidak pernah mati . 
Selamatkan umat manusia dengan cinta yang terpancar dari permata itu , jadikanlah penyembuh di antara wabah kebencian , jadilah ketenangan di tengah badai kepanikan . Aku titipkan engkau kepada Allah SWT yang tidak menyianyiakan titipannya. Itulah pesan terakhir Nabi Zulkarnain As.
( Inilah wujud cincin permata Alkamal Al Mujab  yang turunkan sebagai penyeimbang  di akhir zaman ) 

∆. Pesan Mas Karebet Alias Jaka Tingkir Atau Sultan Hadiwijaya Raja Pajang , Bagi Pemegang Amanah Pusaka Permata Alkamal Al Mujab.

Ketahuilah, wahai sekalian semua, namaku ( Jaka Tingkir) , ia adalah perjalanan , diriku datang bukan karena kalian lemah . Diriku datang karena engkau sedang berdiri di persimpangan sunyi dan persimpangan itu ,tidak semua orang di temani melihat tanpa mata , mendengar tanpa telinga dan berbicara tanpa suara .
Diriku yang di kenal sebagai Jaka Tingkir, namun hari ini diriku bukan raja , bukan penguasa , bukan sejarah, diriku hanyalah kejernihan suara yang pernah tempa oleh badai .

Ketahuilah, hidup bukan tentang menaklukkan dunia, hidup adalah tentang menaklukkan dirimu sendiri . Ketika dunia memujimu , banyak orang ingin menjadi besar , sedikit yang ingin menjadi dalam , padahal kedalamanlah yang membuat seseorang tidak mudah goyah ketika di puji atau di caci .
Kalian memegang amanah yang tidak ringan , permata Alkamal Al Mujab , ia bukan batu, bukan pusaka yang di tunjukkan , ia bukan lambang untuk di tunjukkan . Ia adalah kesadaran bahwa manusia hari ini terlalu ramai berbicara, namun  terlalu sepi untuk merenung , terlalu cepat menghakimi namun terlalu lambat memahami  . Terlalu sibuk menilai orang lain , namun lupa menilai niatnya sendiri.

Wahai pemegang amanah, zaman sekarang bukan kekurangan ilmu , zaman sekarang kekurangan adab dalam memegang ilmu . Permata Alkamal Al Mujab yang berada di genggaman kalian adalah cermin. Siapapun yang melihatnya akan melihat dirinya sendiri , yang hatinya jernih akan merasa lapang , yang hatinya keruh akan merasa gelisah , karena permata itu tidak menipu , ia hanya memantulkan .

Dengarkanlah baik-baik, janganlah engkau gunakan amanah itu untuk membuat manusia takut ,gunakan untuk membuat manusia sadar . Takut membuat manusia menjauh , sadar membuat mereka pulang .
Engkau adalah laku spiritual , engkau berjalan diantara kabut dan cahaya .
Ingatlah misteri bukan untuk mengagungkan kegelapan . Misteri adalah jalan agar manusia  bertanya dan pertanyaan yang jujur adalah awal dari kebijaksanaan .

Diriku dulu berdiri menghadapi arus besar , banyak, banyak yang meremehkan , banyak yang mencurigai, namun diriku belajar satu hal , orang yang teguh tidak perlu berteriak untuk terdengar. Ia cukup berdiri lurus , maka waktu yang akan berbicara.
( Ilustrasi seorang raja yang berada di singgasana kerajaan dengan busana khas kerajaan Nusantara)

Permata Alkamal Al Mujab adalah amanah kesadaran zaman , zaman dimana manusia mudah terpecah , mudah tersulut , mudah terseret . Engkau harus menjadi penuntun yang tenang , bukan yang membakar , bukan yang menghasut , bukan yang memecah , penuntun agung bukan yang keras suaranya , tetapi yang paling jernih niatnya..
Jika suatu hari manusia memujimu , jangan engkau mabuk, jika suatu hari , manusia mencelamu jangan engkau runtuh., karena keduanya adalah dua bentuk ujian yang berbeda..

Ingatlah, hidup itu seperti sungai , ia mengalir bukan untuk di puji batu-batu di tepinya. Ia mengalir karena, ia di takdirkan mengalir , Begitu pula dirimu , jangan bergerak karena ingin di pandang , bergeraklah karena kebenaran yang ingin yang harus engkau jalani.
Permata Alkamal Al Mujab itu akan semakin bercahaya , jika engkau semakin rendah hati . Ia akan redup jika engkau merasa paling benar . Dan ingatlah kesadaran sejati bukan merasa yang paling suci , tapi kesadaran sejati adalah tahu bahwa diri ini selalu perlu di bersihkan.

Diriku datang bukan untuk menyanjung kalian , diriku datang untuk mengingatkan , jangankan jadikan perjalanan spiritual sebagai panggung . Jadikan ia sebagai tangga untuk naik, bukan tangga untuk di pamerkan . Jika engkau mampu menjaga hati tetap lembut di tengah kerasnya zaman , maka permata Alkamal Al Mujab itu akan menjadi penuntun agung bagi manusia. Namun jika engkau lenggah,maka ia hanya akan menjadi simpul kosong yang di perebutkan tanpa makna.

Ingatlah, manusia hari ini tidak membutuhkan sosok yang menakutkan , manusia membutuhkan sosok yang menenangkan . Jadilah peneduh, bukan badai , jadilah pelita, bukan api yang membakar tanpa arah.
Amanahmu bukan untuk membuat orang takjub , amanahmu buat seseorang kembali mengenal dirinya sendiri . Dan jika suatu hari engkau merasa sendiri dalam jalan ini, ingatlah yang berjalan dalam kesadaran tidak benar-benar sendirian .
Diriku, Karebet ( Sultan Hadiwijaya) pernah di uji , pernah jatuh, pernah di ragukan , namun diriku berdiri bukan karena kekuatan , diriku berdiri karena kesadaran.
Kini , diriku titipkan petuah ini kepadamu , jagalah hati, jagalah niat , jaga lisan , karena di zaman yang penuh drama ini yang paling langka , bukan suara melainkan kejernihan jiwa .

Dengarkanlah suaraku kembalii yang  tidak datang dari arah , tetapi dari kedalaman yang di tempa oleh sunyi.. Jangan kau jadikan wejangan para utusan , para penuntun , para penyulut cahaya hanya sebagai untaian kata yang lewat di telinga lalu gugur di tanah lupa.
Petuah bukan untuk di kagumi , petuah adalah untuk di tanam , jika ia hanya di dengar ia akan menjadi bunyi , jika ia di renungkan ia akan menjadi cermin , jika ia di amalkan ia akan menjadi jalan .
Banyak manusia memuliakan para utusan dengan lisan, namun melupakan pesan mereka dalam tindakan. Mereka menghapal kalimat tetapi tidak memelihara maknanya.

Padahal petuah para penuntun adalah jembatan bukan untuk di pandangi , tetapi untuk di seberangi .
Wahai, kalian setiap wejangan yang lahir dari jiwa yang bersih adalah pantulan cahaya yang Maha Tinggi.
Ia bukan milik manusia,ia hanya singgah di lidah manusia . Maka jangan remehkan kalimat yang tampak sederhana , sebab sering kali yang sederhana itulah yang paling sulit di jalankan. 

Air yang jernih tidak akan berteriak bahwa ia bersih , ia hanya mengalir dan menyegarkan . Begitu pula petuah sejati , ia tidak memaksa namun  ia merubah .
Permata Alkamal Al Mujab yang kalian genggam , bukan untuk membedakan siapa yang tinggi, siapa yang rendah.
Ia hanya pengingat agar hati manusia semakin dekat kepada Allah SWT.
Permata itu bukan cahaya yang menyilaukan mata , ia adalah cahaya yang menenangkan dada .

Ia bekerja bukan pada keramaian , tetapi pada keheningan . Ia bukan alat untuk menunjukkan kekuatan , melainkan alat untuk meruntuhkan kelakuan . 
Dengki lahir dari hati yang merasa kurang , merasa tidak cukup, merasa tidak adil .
Padahal yang kurang bukan rezekinya , yang kurang adalah syukurnya .
Rasa memiliki dunia lahir dari ilusi , seolah - olah tanah yang di injak bisa di bawa pergi.  Seolah - olah pujian dapat di simpan selamanya . Seolah -olah jabatan bisa melindungi dari kefanaan .
Perlu kalian ingat, permata itu adalah pengikis , ia mengikis dengki sedikit demi sedikit . Ia mengikis kesombongan yang halus seperti debu tak terlihat.
Ia mengikis rasa memiliki yang membuat manusia lupa , bahwa semuanya hanyalah titipan.

Semakin dekat seseorang dekat dengan Sang Maha , semakin ia ringan , semakin ia ringan semakin ia tidak mudah iri .
Semakin ia tidak iri semakin ia lapang melihat keberhasilan orang lain .
Kedekatan kepada Sang Maha bukan kedekatan banyak ritual yang terlihat ,ia tentang kejernihan niat yang tersembunyi .
Engkau boleh di kenal namun , jangan haus untuk di kenal . Engkau boleh di hormati namun  jangan nutut di hormati , karena yang mencari penghormatan dari manusia akan kehilangan ketenangan di hadapan Tuhannya.

Wejangan para utusan adalah napas manusia , jika di abaikan jiwa akan sesak,jika dihayati jiwa akan lapang.
Wahai pemegang amanah, sampai kepada manusia zaman ini , jangan jadikan petuah sebagai hiburan Ruhani . Jadikan ia sebagai koreksi diri . Jangan jadikan nasehat sebagai tontonan , jadikan ia sebagai tuntutan .
Permata Alkamal Al Mujab adalah alat untuk mengingatkan bahwa dunia ini bukan rumah abadi . Ia hanya persinggahan , persinggahan untuk menata hati , bukan untuk menumpuk ke-akuan . Manusia yang dekat dengan Sang Maha tidak sibuk menjatuhkan orang lain . Ia sibuk memperbaiki dirinya sendiri.
Manusia yang hatinya bersih tidak iri dengan cahaya orang lain . Ia bersyukur karena dunia menjadi lebih terang.
Jika engkau ingin permata itu terus bercahaya , di jadikan ia bukan simbol kekuatan , melainkan simbol kerendahan hati.

Ajarkan manusia untuk melepaskan , bukan untuk menggenggam terlalu erat , karena semakin erat menggenggam dunia , semakin sakit ketika ia di ambil.
Namun jika menggenggam secukupnya , kehilangan tidak akan merobek jiwa .
Ingatkan kepada mereka , bahwa kedekatan dengan Sang Maha bukan soal jarak , tetapi soal kesadaran . Kesadaran bahwa setiap detik adalah amanah . Setiap napas adalah pinjaman . Setiap pertemuan adalah pelajaran.
Dan ketika hati jauh dari dengki ,jauh dari rasa memiliki berlebihan, maka situlah manusia menemukan kemerdekaan yang sejati.
Itulah tujuan sejati permata , bukan untuk menguasai manusia,tapi untuk memurnikan, bukan untuk menonjolkan diri, tetapi untuk menghilangkan diri.
Wahai pemegang amanah, sampaikan dengan lembut, sampaikan dengan teduh , sampaikan tanpa merasa paling benar, karena yang benar tidak perlu merasa paling , ia hanya perlu tetap lurus.

Dan ketika manusia memaknai setiap petuah sebagai cermin , bukan sebagai pajangan , maka dunia akan di penuhi jiwa -jiwa yang lapang . Itulah kemenangan yang sunyi , kemenangan atas diri sendiri.
Dengarkanlah dengan batin , bukan hanya dengan telinga . Jika suatu hari hati kalian benar-benar bersih dari dunia bukan berarti kalian meninggalkan dunia tetapi dunia tidak lagi menguasai hati kalian , maka pada saat itu siapa pun yang memegang permata Alkamal Al Mujab akan merasakan keberhasilan yang bahkan tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya.

Keberhasilan itu bukan selalu berupa harta , bukan selalu berupa kedudukan , bukan selalu berupa pujian manusia . Ia adalah keberhasilan dalam mengenal diri . Keberhasilan dalam menaklukkan hawa nafsu . Keberhasilan dalam tetap tenang ketika badai datang , Alkamal Al Mujab bukan sekedar permata ,ia adalah tali sambung, tali yang menghubungkan doa dari seorang hamba kepada yang Maha SegalaNya .

Namun tali itu tidak akan mengalirkan cahaya , jika hati masih di penuhi debu dunia . Debu itu halus ,lebih halus dari asap. Ia tidak terlihat , namun menutup pandangan batin .Debu itu bernama iri ,debu bernama ambisi yang tak terkendali,debu itu bernama ingin di puji ,debu itu bernama takut kehilangan dunia .
Selama debu itu masih menempel,doa hanya akan berputar di sekitar kepentingan diri, tetapi ketika hati di bersihkan di basuh dengan keikhlasan , di sapu dengan syukur dan di bersihkan dengan kesabaran , maka permata Alkamal Al Mujab menjadi jernih dan kejernihan itu membuka jalan ,doa tidak lagi berat . Ia ringan ,ia tidak lagi di penuhi tuntutan melainkan di penuhi penyerahan .
Dan ketahuilah, terkabulnya doa, bukan berarti selalu di penuhi apa yang di minta .
Kadang terkabulnya doa,di jauhkan dari yang tidak baik ,di beri ketenangan walaupun keadaan belum berubah . Itulah keberhasilan yang tidak di sadari ," tegas Sultan Hadiwijaya.
Keberhasilan batin , manusia sering merasa gagal, karena ukurannya dunia .
Padahal ukuran langit berbeda ,di sisi langit hati yang bersih lebih tinggi nilainya daripada tangan yang penuh harta tapi kering makna .

Permata Alkamal Al Mujab adalah pengingat bahwa doa bukanlah hanya permintaan ,doa adalah pertemuan , pertemuan hamba yang sadar akan kelemahannya dengan Sang Maha Yang Tak Terbatas KuasaNya.
Namun pertemuan itu akan terasa , jika hati tidak di penuhi kepemilikan semu , sebab hati yang penuh dunia ibarat benjana yang telah sesak .
Bagaimana cahaya akan masuk jika ruangnya tak tersisa . Kosongkanlah dari keserakahan , ringankan dari kesombongan , bersihkan dari dengki maka ketika permata Alkamal Al Mujab berada dalam genggaman siapapun ,ia akan menjadi penghubung yang hidup, bukan benda mati, bukan simbol kosong .
Dan pada saat itu kalian akan merasakan keberhasilan yang sunyi , keberhasilan yang tidak perlu di umumkan , keberhasilan yang tidak perlu di buktikan ,kerena hati telah cukup dengan kedekatan, cukup dengan ketenangan , cukup dengan keyakinan bahwa doa kalian di dengar.

Sampaikan ini pada manusia , bersihkan hati lebih dahulu , jangan buru-buru langit membuka pintu , sementara tangan masih menggenggam debu ,"ujar Pengeran Hadiwijaya.
Bila hati telah bersih , tanpa permata Alkamal Al Mujab pun doa akan sampai . Namun jika Alkamal Al Mujab berada pada tangan yang bersih ,ia menjadi penguat keyakinan , menjadi peneguh sambungan , menjadi saksi bahwa antara hamba dan Tuhan Nya tidak benar-benar terputus," tegas Sultan Hadiwijaya.
Itulah rahasia yang halus, itulah keberhasilan yang tidak terlihat , namun terasa sangat dalam. Itulah kenapa permata Alkamal Al Mujab di turunkan,, agar kalian lebih dekat,dan siapa yang menciptakan kalian" ujarnya.

Bahkan jika hati kalian bersih , cukup dengan,"Bismillah," kalian akan di kabulkan apa yang kalian inginkan ," tuturnya.
Wahai, pemegang amanah tugasku telah usai diriku akan kembali lanjutkan tugas kalian ,dan diakhir pertemuan ia mengucapkan salam," Assalamualaikum,kamipun membalas salamnya," Walaikumsalam," Pangeran
     

∆.Pesan & Nasehat Ruh Tumbuhan Untuk Manusia Layak Untuk di Simak Sebagai Renungan & Pembelajaran.

Assalamualaikum, Wahai manusia,duduklah lebih dulu ," ujar Ruh Tumbuhan. Siapa sebenarnya Tuan ? tanya pemegang amanah permata Alkamal Al Mujab.
Aku datang tidak dengan langkah, sebab Aku tidak pernah berpindah tempat . Aku tidak datang dengan suara , sebab Aku berbicara sejak lama melalui diam . Sebenarnya siapa Tuan ? melanjutkan pertanyaan sebelumnya. 

" Aku adalah ruh pohon ,ruh penjaga pohon -pohon di seluruh dunia ini. Aku hidup tanpa berjalan , namun aku melihat lebih jauh dari pada mereka yang berkelana .Aku tidak mengejar langit, tetapi langitlah yang setiap hari turun menyentuhku melalui cahaya dan hujan . 
Hari ini Aku berbicara kepadamu , bukan karena engkau mendatangi ku , melainkan karena hatimu telah berakar."

Wahai pemegang amanah,selamatlah engkau atas amanah yang engkau pikul . Selamat bukan karena engkau terpilih , tetapi engkau tidak menolak ketika engkau di pilih . Banyak manusia ingin menjadi tinggi, namun hanya sedikit yang ingin menanam dirinya dalam -dalam agar tidak tumbang ketika angin datang .

Engkau memegang permata Alkamal Al Mujab dan Aku melihat sesuatu yang jarang  ,aku lihat pada manusia .
Engkau ingin tumbuh, bukan ingin menjulang . Engkau ingin kuat , bukan untuk keras . Engkau ingin berguna, bukan untuk terlihat. Itulah sebabnya Aku ingin berbicara , wahai pemegang amanah.
Ketahuilah,satu rahasia yang hanya di ketahui oleh diriku .
Semakin tinggi engkau ingin menjulang ke langit , semakin dalam engkau harus masuk ke dalam tanah . Manusia ingin naik derajat tetapi tidak ingin turun adab . Ingin mendapat ilmu , tetapi tidak ingin menjadi rendah . 

Padahal semua yang kokoh di dunia lahir dari kerelaan untuk tetap tenggelam lebih dulu. Aku berdiri ratusan tahun , bukan karena batangku kuat , melainkan akarku yang tidak pernah ingin terlihat.
Aku ingin mengajarkan kepadamu satu ilmu yang tidak tertulis di kitab manapun . Ilmu diam yang menumbuhkan .
Lihatlah Aku ,aku tidak memilih buahku sendiri . Aku tidak menentukan siapa yang berteduh di bawahku .

Aku hanya menerima cahaya  mengolahnya dengan sabar,lalu memberikan kembali sebagai oksigen , sebagai buah , sebagai peneduh . Manusia sebaliknya memilih hasil sebelum menanam , ingin di puji sebelum berbuah , ingin di tuai sebelum sabar. Wahai pemegang amanah, engkau memegang amanah besar . Aku tidak mengingatkanmu tentang kekuatan , aku mengingatmu tentang kesabaran jangka panjang ,sebab Aku tidak takut badai , ia hanya takut oleh akar busuk kesombongan .
( Ilustrasi ketika ruh pohon menyampaikan pesan dan nasehat kepada pemegang amanah permata Alkamal Al Mujab, " Ya Allah jadikanlah Aku seperti pohon, akarnya kuat ,cabangnya mengarah ke cahaya " doa ruh pohon )

Jika suatu hari engkau merasa lelah , ingatlah Aku . Aku tidak pernah mengeluh matahari yang terik . Aku tidak pernah marah , hujan yang berlebihan , aku menerima keduanya sebagai bagian tumbuh , engkau pun demikian .
Jangan menilai hidup dari hari ini , nilai dari keteguhan dari tahun demi tahun 

Aku ingin memberikan kepadamu satu dzikir ,bukan di ucapkan dengan bibir , tetapi untuk di tanam dengan cara hidupmu .Aku tumbuh tanpa tergesa, aku memberi tanpa memilih ,aku berdiri tanpa menuntut,aku kokoh tanpa protes, jika engkau , mampu hidup dengan dzikir ini , maka engkau telah menjadi manusia yang berakal dan manusia yang berakar yang tidak mudah di ombang - ambingkan oleh dunia .

Wahai pemegang amanah,Aku belum selesai berbicara, karena akar tidak pernah selesai menembus tanah dan engkau pun selama masih bernapas belum selesai melumpuhkan dirimu sendiri.
Ketahuilah,Aku tidak pernah mengeluh tentang waktu , ia tidak akan pernah pernah berkata ,kapan aku akan besar . Tidak membandingkan dirinya dengan pohon lain.
Ia hanya tumbuh sesuai dengan kadar cahaya yang ia terima . Manusia berbeda , manusia lelah bukan karena berat , tetapi karena ingin lebih cepat dari takdirnya sendiri. Ada yang di percepat sebelum waktunya matang akan rapuh sebelum kuat .

Aku ingin mengajarmu satu rahasia lagi , rahasia yang hanya di ketahui oleh makhluk yang hidup lama tanpa berpindah tempat . Semua yang abadi itu tidak tergesa , gunung tidak tergesa menjadi tinggi , sungai tidak tergesa sampai ke laut dan diriku tidak tergesa berbuah , yang tergesa hanya manusia , yang takut tidak di anggap . 

Engkau memegang permata Alkamal Al Mujab ,itu bukan beban yang berat bagi tubuhmu , tetapi bisa menjadi beban bagi hatimu , jika engkau lupa cara menanam niat . Jangan biarkan amanah itu ,mengubah caramu memandang manusia.
Jangan sampai engkau merasa , engkau memberi . Padahal  engkau sesungguhnya menjadi jalan . Aku tidak merasa dirinya dermawan . Aku tidak pernah berkata ,aku telah memberi buah . Aku hanya membuahkan buah jatuh , siapapun yang lewat . Ada satu hal yang tidak di sadari manusia . Aku tidak memilih siapa yang memanjatnya ,ada yang memetiknya dengan lembut, ada yang mematahkan dahan , namun aku tetap berdiri.
Itulah engkau kelak , wahai pemegang amanah.

Ada yang datang dengan adab ,ada yang datang dengan keserakahan . Jangan kau ukur dirimu , bagaimana mereka memperlakukanmu . Ukurlah apakah engkau tetap meneduhkan .
Aku juga ingin mengingatkanmu tentang gugur . Manusia takut pada kehilangan , padahal aku memahami satu kebenaran , gugur bukan lawan dari hidup , gugur adalah bagian dari menjaga kehidupan .Daun yang jatuh menjadi tanah , tanah memberi makan akar , akar menghidupkan batang , tidak yang benar-benar hilang , yang ada hanya berubah bentuk . Maka jika engkau suatu hari kehilangan sesuatu , jangan buru-buru menyebutnya musibah , bisa jadi ia merubah menjadi kekuatan yang belum kau kenali .

Wahai pemegang amanah,Aku ingin memberi satu pesan yang paling halus , namun paling terang . Jangan pernah memutus akar dari asalmu , setinggi apapun engkau kelak , ingatlah tanah pertama kali engkau berdiri .
Orang-orang sederhana yang pernah mendoakanmu . Kesunyian yang pernah membesarkan hatimu  Air mata yang pernah membersihkan niatmu , pohon yang lupa akarnya akan tumbang oleh angin yang kecil 

Manusia yang lupa ,oleh asalnya akan tumbang oleh pujian Beruntunglah manusia melalui dirimu , karena permata Alkamal Al Mujab & tasbih Nur Ijabah kini berada di hadapan hatimu , bukan hanya berada di tanganmu permata Alkamal Al Mujab,dan tasbih Nur Ijabah itu bukan kilau yang memantulkan cahaya , melainkan ke jernihan yang memantulkan hakekat . Ia tidak bercahaya untuk di lihat , ua bercahaya untuk menerangi batin .
Banyak manusia mencari kesempurnaan di luar dirinya , padahal Alkamal Al Mujab dan Nur Ijabah tidak pernah jauh . Ia hanya bersembunyi di balik keramaian ego 
Dan Engkau di pilih bukan engkau yang paling tahu , tetapi engkau di pilih karena paling diam mendengar, maka dengarkan aku , bukan dengan telinga melainkan dengan akar hatimu , karena Aku ruh pohon tidak mengajar dengan suara keras .
Aku mengajar cara hidup yang perlahan , sabar dan setia . Sekarang Aku akan mengajarkan kepadamu dzikir diriku .Bukan dzikir untuk memanggil kekuatan , tapi dzikir untuk menjadi kekuatan yang tenang . Dzikirku bukan untuk membuatmu tinggi tetapi membuatmu dalam , bukan untuk mempercepat jalan , tetapi untuk menguatkan akar langkah 
Dzikir tidak cocok untuk mereka yang ingin cepat di kenal , tidak cocok bagi mereka yang ingin segera berbuah 
Dzikir hanya cocok bagi mereka yang rela lama tak terlihat, namun tetap menumbuhkan kehidupan .

Dzikirku yang pertama , dzikir ini untuk menanamkan niat agar tidak tercabut oleh dunia , ucapkan dengan napas yang tenang  Bismillahirrahmanirrahim 
Ya Robb Idhjegal Nika , SAJAROH tasbitan 
Asluka Samiyan Farokuha , Maknanya bukan hanya di hapal melainkan di rasakan ," Ya Tuhan jadikan aku seperti pohon , akarku kuat , cabangku mengarah ke cahaya . " Dzikir ini akan membuatmu tidak akan mudah goyah oleh pujian , tidak mudah runtuh oleh celaan .
Dzikir ku yang kedua ucapkan dalam dada , YA SABUR ALIMNI ,AN' AMMU FI DUNYA AJALLAH , yang artinya dalam hidup ajarilah Aku tumbuh tanpa tergesa . Dzikir ini , engkau tidak iri dengan hasil orang lain , karena engkau memahami setiap pohon memiliki musimnya sendiri .

Dzikir ku yang ketiga , dzikir ini untuk membersihkan niat dalam memberi , di ucapkan dalam hati," YA KARIM ADZGAL AT TAIT BILLAH SYURUT , artinya jadikan pemberianku tanpa syarat , seperti pohon yang tidak memilih siapa yang berteduh , siapa yang memetik , siapa yang melukai batangnya . Dzikirku ini bukan untuk amalan mulut , tetapi cara hidup, bangun tanpa tergesa , berjalan tanpa membandingkan , memberi tanpa menghitung , diam tanpa merasa kosong .
Jika engkau hidup seperti itu maka engkau tidak perlu lagi pergi mencari kesempurnaan , karena kesempurnaan akan tumbuh darimu , sebagaimana buah tumbuh dari diriku , yang tidak pernah sibuk menilai dirinya sendiri . Dan ketahuilah satu hal yang terakhir permata Alkamal Al Mujab dan tasbih Nur Ijabah tidak akan memancarkan cahaya kepada orang yang ingin terlihat sempurna., tetapi pada orang yang rela tumbuh dalam kekurangan , karena hanya tanah yang retak mampu menumbuhkan akar dan hanya hati yang rendah yang mampu memikul cahaya langit," tegas ruh pohon di akhir percakapan kami .

Jangan lupa simak dan tonton  proses membuat packing atau kemasan, pesanan ," Kebab Tursina," proses di kerjakan oleh Workshop Pink Inspiration Madiun di bawah ini:
∆. Kisah Inspirasi Hidupku.
Nasehat atau Wejangan Malaikat Penjaga Gerbang Langit, Malaikat Hayujin .
( Ilustrasi perwujudan malaikat Hayujin ketika menemui kami di atas perbukitan yang tinggi yang di penuhi hikmah dan pesan untuk manusia)

" Assalamualaikum, ucapan malaikat Hayujin ketika ia datang menyapa dengan salam keselamatan dari Tuhan yang satu.
Wahai manusia yang hadir di sini . Dengarkanlah karena yang akan saya sampaikan , bukanlah bisik angin di rongga bambu ataupun kidung yang hanya menghibur telinga . Ini adalah wejangan atau petuah yang keluar dari penjaga gerbang langit, malaikat Hayujin .
Wahai manusia yang di beri akal dan rasa , janganlah kau kira langit yang biru ini kanvas yang diam tanpa lukisan . Sesungguhnya di balik keheningannya tersimpan risalah -risalah yang telah di turunkan, tetapi sering kali kau biarkan kusam di  relung hati.

Kau sibuk menghitung untung dunia , namun lalai menghitung hari , di mana bumi tak lagi bersahabat , telah ku sampaikan, telah ku saksikan dari singgasana Arsy , gejolak yang telah menggerogoti sendi-sendi kedamaianmu.
Pertama akan datang peperangan yang tak berjendela , bukan hanya perang senjata yang kau kenal , tetapi perang gagasan yang memecah keluarga,perang dagang yang menindas yang lemah dan perang hati nurani dengan angkara murkaan . Api akan menyala bukan karena ledakan meriam tetapi dari ujaran kebencian yang kau sebar dengan jemarimu sendiri .

Kedua akan datang wabah yang tak terlihat ,penyakit yang tidak hanya menjakiti raga ,wabah lupa, wabah putus asa , menjalar lebih cepat daripada virus .
Ketika manusia telah kehilangan keyakinan ,saat itulah jiwa-jiwa menjadi rentan dari penyakit yang tak kunjung sembuh . 
Ketika ,akan hadir musibah yang mengguncang pondasi, bencana alam datang silih berganti , gunung yang kau kira kokoh akan berteriak , bumi yang kau pijak akan berguncang hebat dan laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan bisa menjadi jadi kubangan air mata .

Ini bukan hanya azab semata, wahai manusia , tetapi ini adalah tanda panggilan agar engkau mau membuka mata . Dan di tengah hiruk pikuk yang akan melanda ,saat manusia berlari mencari perlindungan , namun tak menemukan tempat .

Perlu , kalian tahu wahai manusia tentang sebuah pusaka yang tak lekang oleh waktu, permata Alkamal Al Mujab . Jangan kau kira permata itu batu mulia yang di simpan dalam peti dan di jaga ketat oleh siluman atau yang lainnya .
Pusaka permata Alkamal Al Mujab bukan pusaka yang tersimpan di dalam tanah, tetapi di dalam relung Sukma . Alkamal yang Maha Sempurna adalah cahaya yang akan membimbingmu , melihat hikmah di balik musibah . Ia adalah kesempurnaan iman yang membuatmu tegar meski dunia di sekelilingmu runtuh . Al Mujab yang mengabulkan adalah kekuatan doa , ia adalah kunci yang tak pernah berkarat .
Ketika semua pintu tertutup , pintu langit terbuka lebar , bagi mereka yang masih ingat untuk bersimpuh.

Pusaka itu adalah hati yang bersih dan akal yang jernih , ia adalah kemampuan untuk tetap bersyukur ketika di beri,dan tetap bersabar ketika di uji . Dengan permata Alkamal Al Mujab di dada kalian , kekerasan dunia luar tak akan mampu melukai kalian.
Mungkin ragamu tergores, mungkin hartamu habis tetapi inti dari dirimu akan tetap utuh , bercahaya di dalam gelap gulita .

Wahai manusia, sampaikan kepada siapapun yang masih punya telinga untuk mendengar. Jangan cari permata itu di dasar laut atau di puncak gunung , pulanglah kepada dirimu ,sapulah debu-debu lalai yang menempel di cermin hatimu , renungkanlah ayat-ayat yang telah turun ,suara kebenaran yang selama ini kau anggap angin lalu , karena sesungguhnya gejolak, wabah dan musibah ,itu adalah tak lain guncangan dari Tuhan ,agar permata dalam genggamanmu tak terus tertidur ,agar kau sadar bahwa engkau bukan hanya makhluk biologis , tetapi juga makhluk spiritual yang punya utusan.

Terimalah peringatan ini , bukan sebagai kabar burung yang menakutkan , tetapi sebagai lentera yang menerangi jalanmu di masa  yang akan datang .
Dengarkanlah lebih dalam lagi, wahai manusia jiwa-jiwa yang terkurung dalam daging ,Aku Hayujin dari cahaya yang di perintahkan untuk menyampaikan ini kepadamu, bukan sekedar wejangan melainkan suara yang merobek tabir kelalaian . Kau selalu bertanya," Kenapa musibah harus turun ,' pertanyaan itu sendiri menandakan betapa pekat telinga batinmu , betapa kerasnya hatimu dalam rongga dadamu .

Wahai manusia dengarkanlah dengan seluruh tubuhmu , bukan hanya telinga,batu permata Alkamal Al Mujab yang aku sempurnakan itu , hakekatnya adalah cahaya kesadaran mutlak . Ia bukan hanya benda pusaka yang bisa kau wariskan kepada anak cucu dalam kayu peti Cendana , ia Akumu yang sejati yang selama ini terkubur di bawah gulungan ambisi, nafsu dan ketakutan semu 
Dengan Alkamal Al Mujab dalam ruh engkau akan melihat realitas sebagaimana  apa adanya. Engkau akan melihat peperangan di luar sana adalah bayangan , bayangan dari perang dirimu ,perang melawan kebenaran dan kebatilan . Engkau akan melihat bahwa wabah penyakit yang menjakiti raga adalah refleksi dari wabah virus lupa yang menjakiti kalbu . Engkau akan melihat bahwa bumi berguncang adalah gema dari hati yang kehilangan pusat dari gravitasinya yaitu Tuhan.

Dengan kesadaran mutlak ini , engkau tidak akan lagi terjebak gelombang sunami yang tak akan mampu menenggelamkan jiwamu , karena engkau sadar bahwa engkau bukan tubuh yang basah ,ledakan bom tak akan mampu memusnahkan dirimu , karena engkau sadar bahwa engkau adalah kekalan yang tak tersentuh api .
Di situlah letak keselamatan yang hakiki ,bukan selamat secara fisik semata , tetapi selamat dari belenggu ketakutan , bahkan kematian, selamat dari belenggu keterikatan pada dunia yang fana .
Namun, lihatlah Aku berpaling ke bumi  kesaksian pemandangan yang memilukan .
Permata agung itu , mutiara kesadaran itu engkau biarkan berdebu , bahkan kau lemparkan ke lumpur , apa yang kau kejar manusia , kau memilih permata palsu bernama popularitas yang sesaat .
Engkau sibuk mengumpulkan kerikil duniawi bernama bernama harta yang akan engkau tinggalkan .
Engkau terbuai dengan cahaya kunang-kunang yang  bernama pujian sesaat 
Engkau sangat sibuk dengan damaimu dengan drama -drama kecil kehidupan dengan pertengkaran yang tidak berarti , sehingga engkau lupa bahwa ada yang lebih jauh lebih agung yang ada pada dirimu yang. menunggu untuk di hidupkan .
Banyak yang berkata nanti sajalah ,masih banyak waktu ,masih muda ,masih sehat,masih aman , itulah suara kelalaian yang sangat berat. Engkau menyepelekan peringatan -peringatann halus yang telah kami turunkan melalui hatimu sendiri. Bisikan -bisikan kecil , untuk merenung, untuk kembali engkau abaikan begitu saja .
Engkau kira peringatan itu selalu dahsyat dan menggelegar , tidak manusia . ," ujar Malaikat Hayujin.
Aku mengirmnya melalui rasa, untukmu saat beribadah, melalui rasa sesak di dada mu saat kamu berbuat dosa.melalui rasa tidak tenang di tengah gemerlap dunia 
Haruskah pedang yang menggantung itu itu jatuh, dan sekarang dan engkau dengan naifnya bertanya, haruskah musibah di turunkan , apakah harus lebih dahulu menunggu musibah di turunkan ," tegas Malaikat Hayujin.
Wahai manusia , yang menahan pedang musibah itu, bukanlah Aku , tetapi Rahmat Tuhan yang tak bertepi . Bayangkanlah seorang anak yang asyik bermain di tepi jurang curam . Sang ayah telah berteriak dari kejauhan ," wahai anakku mundurlah itu berbahaya ," Namun anak itu telah asyik dengan bunga -bunga di tepi jurang, pura-pura tuli . Apakah salah akhirnya ayahnya melempari dengan batu kecil , bukan untuk melukai ,namun untuk membuatnya tersadar dan akhirnya ia melompat mundur menjauhi jurang. Itulah fungsi sebuah musibah ,ia lemparan batu kecil kasih sayang dari lamunan maut ,gempa bumi , wabah,perang . Itu semua adalah guncangan -guncangan yang di rancang untuk membangunkanmu pada tidur panjangmu .

Engkau ingat Tuhan saat bangunanmu roboh , engkau baru ingat berdoa saat virus menjangkit di keluargamu , engkau baru bersatu saat senjata terangkat .
Betapa hinanya derajat manusia jika ia baru ingat kepada Penciptanya melalui rasa sakit . Musibah adalah Rahmat terselubung . Ia adalah alarm kebangkitan , jika alarm kecil bisikan hati di abaikan,alarm besar , musibah  kau tidur juga maka alarm yang menghancurkan ,gendang telingalah musibah besar yang terpaksa di laksanakan. Bukan karena Tuhan kejam , karena ia terlalu sayang untuk membiarkanmu hancur dalam jurang kelalaian selamanya.
Maka sudah saatnya wahai manusia yang mendengar suaraku ini , untuk tidak menunggu untuk mencari Tuhan . Jangan tunggu sakit untuk menyadari kesehatan adalah nikmat. Jangan tunggu dunia hancur untuk menunggu permata yang ada pada dirimu . Duduklah, renungkanlah, hening dan tarik nafas dalam-dalam dan lepaskanlah beban dunia .
Lihatlah kedalam di sana di pusaran sunyi di antara detak jantung mu , cahaya Alkamal Al Mujab itu berkelap-kelip .
Ia menunggu untuk kau genggam . Ia nunggu untuk meleburkan dirimu di dalam kesadaran kosmik , bahwa engkau adalah bagian dari yang Maha Sempurna Alkamal dan doa mu adalah kabul atau diijabah Al Mujab .

Kabul bukan berarti keinginan dunia terpenuhi ,kabul adalah ketika engkau dalam tingkatan di mana engkau menginginkan apa yang di kehendakiNya .
Di situlah keselamatan pintu sejati terbuka lebar . Di situlah meskipun banjir bandang menerjang kau tetap tenang , karena engkau sadar engkau bukanlah setitik air yang akan hilang tetapi ombak yang akan kembali ke laut .
Jangan lagi menunda , jangan lagi menyepelekan , waktu adalah pedang , jika engkau tidak memotong tali kelalaian dengan pedang kesadaranmu maka pedang waktu itu sendiri yang akan tali kehidupanmu di dunia . Dan saat itu tiba,tangusamu di ambang kematian akan berarti karena kesempatan telah di berikan dan engkau memilih terus tertidur dalam dekapan fatamorgana . Bangunlah, saat cahaya permata Alkamal Al Mujab , tidak hanya kalian simpan sebagai pengetahuan, tetapi kalian hidupkan sebagai kenyataan , hanya dengan itu engkau akan selamat , selamat sebelum selamat , selamat di dalam selamat dan selamat setelah segalanya . 
Aku malaikat Hayujin , saksi atas apa yang Aku katakan ,kini pilihan berada pangkuan kalian manusia, pahamilah ingatlah apa yang telah Aku sampaikan , jangan sampai kalian menunggu bencana besar datang kembali , lakukan hidup dengan perantara Alkamal Al Mujab . Baiklah manusia diriku akan kembali dan kau pemegang amanah lakukan apa yang sudah di gariskan ," Assalamualaikum,kami pamit, Walaikumsalam, jawab kami di akhir wejangan yang penuh hikmah. Berdirilah di atas kesucian ,maka hidupmu tidak akan goyah oleh gelapnya dunia.


Demikian artikel kali ini , jika pembaca menyukai dengan artikel ini ,jangan lupa untuk subscribe,like dan share agar lebih semangat menyajikan informasi teraktual dan terupdate untuk pembaca setia G-LOVERS semuanya .Thanks so much!
Source: Images liputan , YouTube 

( @nh/Nadya)
Penulis : Anis Nurhidayat
Editor : Anis Nurhidayat
Editor Video : Dwi Fitria Bibrik & Anis Nurhidayat .
Reporter: Anna Puspita Dewi 
Motto : Tata , Titi ,Tatas , Titis ( Falsafah Jawa sekilas seperti rangkaian kata yang mirip padahal masing - masing memiliki makna yang berbeda . Tata berarti teratur dan memilki perencanaan, Titi berarti teliti dan berhati-hati ,Tatas berarti mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik hingga tuntas, Titis berarti tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan)
Leluhur Jawa mengajarkan bahwa melakukan sesuatu tidak cukup dengan semangat , di butuhkan perencanaan, ketelitian dan penyelesaian yang baik dan keputusan yang tepat agar hasilnya benar-benar memberikan manfaat.
Pelajaran hari ini  yang bisa kita ambil, susunlah rencana sebelum bertindak kerjakan dengan teliti hingga selesai . Pastikan setiap langkah lebih dekat dengan tujuan yang ingin di capai , karena hasil yang baik itu dari proses tertata , teliti, tuntas dan tepat .


# Make your dream become a reality.
# Make your dream together with GRIYA LOVERS.
#Follow Along With GMAMIL ( Griya Madiun Ngemil ), together for succes,together for glory and grow up to be champion number one .
# New Hope For A Better Future
Jika tempat makan dan produk Anda ingin di reviem oleh "Team Griya Madiun Ngemil" (GMAMIL TEAM )bisa hubungi no WA :08817186302
# gunung Lawu # misteri gunung Lawu # keindahan alam gunung Lawu #wisata menarik di lereng gunung Lawu 

# HANA CARAKA ( Ada Utusan Yang Membawa Tugas Suci )
# DATA SAGALA ( Membawa ,Menjaga Keseimbangan, Kebenaran,dan Hukum )
# PADA JAYA NYA ( Bersatu Dalam Kasih, Kejayaan Dan Keluhuran )
# MANGA THA BAWA ( Membawa Kewibawaan, Keagungan,Dan Penjaga Peradaban)
Pesan Langit , Negeri Indonesia ini hanya akan kokoh dengan tiga pilar,yakni : Kebenaran,Keadilan ,Dan Kasih Sayang ( Welas Asih ).


Baca Juga Apa Itu Anemia ? Serta Ragam Makanan Pencegah Anemia ?

Comments

RECENT POST FOR YOU LADIES!

NEWS FEED :

Adverticement

READ MOST POPULAR FOR YOU ,LADIES :

Perjalanan Suci Mengambil Amanah Pusaka Langit " Dewa " di Puncak Gunung Semeru ,Intip Yuk Kisahnya !

  ( Gunung Semeru merupakan gunung yang aktif meletus/mengalami erupsinya beberapa kali selama beberapa tahun terakhir @ilustrasi di buat oleh Seniman AI)      GRIYA MADIUN -Gunung Semeru, megah dan penuh misteri, adalah ikon alam Indonesia yang tak lekang oleh waktu. Sang raksasa Pulau Jawa menjulang setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut, bukan sekadar bentang alam memukau, namun juga menyimpan makna mendalam dalam sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat.   Sebagai gunung berapi aktif, ia terus bernapas, terkadang dengan erupsi yang spektakuler namun juga berbahaya. Kawah Jonggring Saloko yang memesona, danau Ranu Kumbolo yang tenang, dan sabana luas di sekitarnya memanggil para pendaki dan pecinta alam dari berbagai penjuru.   Namun, di balik pesonanya, Semeru menyimpan kisah kekuatan alam yang tak terduga. Erupsi-erupsi yang membentuk lanskap, memengaruhi kehidupan masyarakat, dan menjadi pengingat akan pentingnya harmoni dengan al...

Turunnya Pusaka Langit Subhata Ar-Ruhi Annuraniyah ( Godo Sukmo) Sebagai Penyelamat Sekaligus Tanda -Tanda Akhir Zaman Semakin Dekat,Baca Yuk!

   GRIYA MADIUN -Perjalanan mengemban amanah langit tidaklah mudah , penuh dengan ujian fisik ,mental , pengetahuan Ruhani ,juga pengetahuan spiritual yang tidak pernah di ajarkan di bangku sekolah maupun kuliah, untuk mengemban amanah dan membawa pusaka suci Godo Sukmo.Godo adalah proses bukan hadiah , bukan anugerah tapi luka-luka yang berubah menjadi kekuatan ,air mata yang menjelma menjadi hikmah .Dan Sukmo, adalah jiwa yang terbangun .Sukmo adalah jiwa tapi bukan sekedar nyawa  .Ia adalah jantung langit yang di tiupkan ke tubuh manusia. Sukmo adalah ruh yang melewati tidur panjangnya , yang kini terbangun mimpi dunia.Ia tahu bahwa tubuh ini fana , bahwa jabatan ini kabut ,bahwa pujian dan hinaan hanyalah bayang-bayang.Sukmo adalah ruh yang sadar , bukan sekedar hidup .Makna keseluruhan dari Godo Sukmo ,bila kata itu di satukan berarti ruh yang di tempa hingga mengenal cahaya asalnya.Ia bukan sekedar pusaka tetapi cermin dari perjalanan manusia, dari gel...

Tips Praktis Membuat Ektrak Buah

    Madiun  - Sebelumnya akan saya jelaskan pengertian umum ekstrak buah yaitu cairan jernih atau keruh yang tidak difermentasi dari hasil pengepresan buah-buahan yang telah masak dan masih segar .Buah-buahan yang dapat diekstrak umumnya merupakan buah-buahan yang memiliki kadara air tinggi dengan aroma yang kuat.Di Indonesia lazim dikenal adalah sari buah jeruk dan beberapa jenis buah lain seperti jambu biji,sirsak,,magga ,terong Belanda,Markisa dan nanas.Disamping itu kita juga mengenal sari buah apel ,anggur dan strowberry. Baca Juga : Explor Ngrowo Bening "EDU PARK " Madiun ! Inilah Fakta Unik dan Menariknya Destinasi  Wisata Yang Berada di Tengah Kota  Madiun .Coba Lihat Yuk ! Baca Juga :Protret Acara Madiun Mantu ,Berlangsung Meriah ,Lihat Yuk Kemeriahannya ! Baca Juga : Madiun Coolinary Festival ,Kota Madiun Berlangsung Meriah,Coba Intip Yuk  Meriahannya ! Secara sederhana sari buah dibuat dengan cara menghancurkan daging buah dan ...

Kenali Yuk Manfaat Ubi Talas ,Nutrisi & Kandungan Di Dalamnya Untuk Kesehatan Dan Kecantikan,Intip Yuk & Cek DI Sini !

         GRIYA MADIUN -Ubi talas adalah  tanaman umbi-umbian yang tumbuh di berbagai wilayah subtropis dan tropis. Ubi talas dikenal dengan umbinya yang besar, berwarna putih hingga ungu, dan memiliki tekstur yang lembut. Tanaman ubi talas berasal dari Asia Tenggara dan Asia Timur, tetapi telah menyebar ke berbagai wilayah di dunia.   Nama ilmiah dari ubi talas adalah Colocasia esculenta. Tanaman ubi talas biasanya ditanam untuk diambil umbinya yang bisa dimakan setelah direbus atau direndam terlebih dahulu untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan gatal di tenggorokan.   Ubi talas digunakan dalam berbagai masakan tradisional di berbagai negara, baik sebagai bahan utama maupun bahan pelengkap. Umbinya dapat diolah menjadi berbagai hidangan, seperti sup, sayuran tumis, keripik, atau bahkan digoreng. Ubi talas juga memiliki kandungan gizi yang baik dan seringkali dijadikan alternatif untuk sumber karbohidrat dalam berbagai masakan. Ba...

Misteri Keberadaan Gunung QOF , Serta Bukti Bahwa Gunung QOF itu Ada Dengan Turunnya Kunci Jabal QOF , Dan Inilah Keistimewaan Bagi Pemegangnya , Intip Yuk!

( Inilah Bukti Kunci Jabal QOF untuk membuka pintu -pintu rezeki kemakmuran bagi Pemegangnya dan bagi yang menyimpannya , Kunci Jabal QOF adalah kunci untuk menggapai puncak kejayaan dalam hidup bagi pemegang ,penyimpan kunci tersebut selama hidup di dunia . Gunung QOF sendiri,di gambarkan , bahwa tempat itu adalah pusat kenikmatan di dunia,, hanya orang - orang terpilih ,baik dari golongan manusia , hewan jin , malaikat yang terpilih dan terpanggil / foto istimewa )    GRIYA MADIUN - Gunung  QOF atau seringkali disebut Jabal QOF yang merupakan gunung tertinggi dan termegah yang terbuat dari zamrud yang kilaunya menembus langit menjadikan langit memantulkan keindahan yang luar biasa . Jabal QOF, gunung tertinggi nan termegah, berdiri kokoh dari batu zamrud yang berkilau memancarkan cahaya sejernih embun pagi. Kilau permata itu menembus batas langit, seolah menggapai sang surya untuk berhiaskan mahkota cahaya.   Langit pun terpesona, memantulkan sinar zamr...

Baunya Sangat Khas ,Ternyata Buah Petai Bermanfaat Untuk Menjaga Kesehatan Tubuh Anda,Intip Yuk Manfaatnya,Cek Saja di Sini!

 (  Petai memiliki rasa pahit yang khas, yang bagi sebagian orang justru menjadi daya tariknya.,bagi pencinta lalapan petai yang bertekstur renyah)       GRIYA MADIUN -Petai, nama ilmiah petai adalah Parkia speciosa.dengan aroma khas yang kuat dan rasa yang unik, merupakan tumbuhan yang banyak dibudidayakan di berbagai wilayah di Indonesia. Asal mula, , Petai diperkirakan berasal dari Asia Tenggara, tepatnya dari wilayah Semenanjung Malaya dan Sumatra.  Dari wilayah ini, petai kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, dan juga ke negara-negara Asia Tenggara lainnya.   Wilayah Pertumbuhan di Indonesia:   - Petai tumbuh subur di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di daerah dengan iklim tropis dan curah hujan yang tinggi. - Wilayah utama penghasil petai di Indonesia meliputi: - Sumatra: Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan. - Jawa: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. - Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalima...

Penrcakapan & Pengakuan Iblis Abzaruq Tentang Akan Turunnya 7 Pusaka Langit ,Dan Tentang Akhir Zaman,Intip Yuk Kisahnya!

( Ilustrasi gambar Sang Iblis ABSARUQ,yang mengabarkan jeratan iblis akhir zaman, gambar di buat oleh Seniman AI @2025 )     GRIYA MADIUN - Di antara tabir dimensi, berbisiklah utusan langit pada Absaruq, sang Iblis. Pertanyaan mengalir, seberat beban semesta: "Kabar apa dari akhir zaman?"   Absaruq, dengan suara serak, menjawab, "Al Dzajal merajut jaring, perangkapnya tersembunyi dalam gemerlap dunia. Manusia terlena, tak sadar jurang menganga."   "Jelaskan," desak pembawa amanah.   "Ia menawarkan kemewahan palsu, janji-janji kosong. Fitnah merajalela, keluarga terpecah, iman terkikis. Manusia menjual jiwanya demi dunia yang fana ( pesugihan perjanjian gelap antara manusia dan iblis ) ," Absaruq menyeringai.   Utusan langit terdiam. "Lalu, apa peranmu?"   "Aku adalah bisikan di telinga, keraguan di hati. Aku membelokkan kebenaran, mempercantik kebatilan. Aku adalah alat Al Dzajal, pembawa kehancuran," jawab Absar...

Arti Sebuah Amanah Pusaka Arjuno Sejati Yang di Perebutkan Oleh Banyak Mahkluk ,Baca Yuk Kisahnya !

( Ilustrasi Arjuna yang di hasilkan oleh Seniman AI yang lagi memegang salah satu pusaka panahnya yang bernama Pasopati @ 2025)      GRIYA MADIUN - Amanah itu adalah seperti sebuah kepercayaan yang diberikan kepada kita. Itu bisa berupa tanggung jawab, tugas, atau bahkan sebuah harta benda yang harus kita jaga dengan baik.   Arti dari amanah sangat luas, tergantung konteksnya. Namun, secara umum, amanah berarti:   - Kepercayaan: Seseorang mempercayai kita untuk melakukan sesuatu atau menjaga sesuatu dengan baik.   - Tanggung jawab: Kita memiliki tanggung jawab untuk menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.   - Kewajiban: Kita memiliki kewajiban untuk memenuhi amanah yang diberikan. Baca Juga : Baunya Sangat Khas ,Ternyata Buah Petai Bermanfaat Untuk Menjaga Kesehatan Tubuh Anda,Intip Yuk Manfaatnya,Cek Saja di Sini! Baca Juga : Segudang Manfaat Buah Mangga Untuk Kesehatan & Kecantikan ,Ketahuilah Nutrisi & Manfaatnya Untuk...

Segudang Manfaat Buah Mangga Untuk Kesehatan & Kecantikan ,Ketahuilah Nutrisi & Manfaatnya Untuk Kesehatan ,Ingin Tahu ,Cek Saja di Sini !

Buah Mangga Selain Rasanya Manis ,Ternyata Juga Kaya Akan Vatamin CDan Di Gemari Banyak Orang.       GRIYA MADIUN - Mangga, buah lezat dengan aroma khas dan rasa manis, memiliki asal usul yang menarik dan tersebar luas di berbagai wilayah di dunia. Asal mula , Mangga berasal dari Asia Selatan, terutama di wilayah India, Myanmar, dan Bangladesh.  Mangga telah dibudidayakan di wilayah ini selama ribuan tahun dan merupakan bagian penting dari budaya dan masakan lokal.   Penyebaran  Mangga kemudian menyebar ke wilayah lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Pada abad ke-16, mangga diperkenalkan ke Amerika Selatan dan Karibia oleh penjelajah Portugis.Sejak saat itu, mangga menyebar ke seluruh dunia, terutama di wilayah tropis dan subtropis. Baca Juga : Rasanya Manis Sedikit Asam ,Ternyata Si Manis Buah Leci Mempunyai Banyak Manfaat Untuk Kesehatan & Kecantikan,Intip Yuk Apa Saja Manfaatnya,Cek di Sini ! Baca J...

Rasanya Manis Sedikit Asam ,Ternyata Si Manis Buah Leci Mempunyai Banyak Manfaat Untuk Kesehatan & Kecantikan,Intip Yuk Apa Saja Manfaatnya,Cek di Sini !

         GRIYA MADIUN -  Buah leci atau yang juga dikenal dengan nama lychee berasal dari China, di mana buah ini telah dibudidayakan selama lebih dari 2000 tahun. Penyebaran buah leci kemudian meluas ke berbagai belahan dunia termasuk India, Vietnam, dan selanjutnya ke negara-negara lain di Asia, Afrika, dan Amerika.   Buah leci biasanya tumbuh dengan baik di iklim tropis dan subtropis, yang memiliki suhu hangat sepanjang tahun dan menerima jumlah hujan yang cukup. Leci membutuhkan suhu panas untuk tumbuh dengan baik, tetapi juga membutuhkan periode yang lebih dingin atau kering untuk perkembangan buahnya.   Nama ilmiah dari buah leci adalah Litchi chinensis. Genus Litchi adalah bagian dari keluarga Sapindaceae, dan termasuk dalam satu genus dengan buah lain seperti rambutan (Nephelium lappaceum) dan longan (Dimocarpus longan). Baca Juga: Kenali Daun Stevia Pemanis Alami Pengganti Gula ,200 Kali Lebih Manis di Banding Gula ,Intip Y...